Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 72 : Kenyataan Atau Mimpi?


__ADS_3

Jelena mencengkram kedua pahanya, mengejan sekuat tenaga karena tenaga yang dia miliki seperti benar-benar habis. Sudah hampir dua puluh empat jam dengan kesakitan itu, saat akan keluar bayinya juga semakin membuat tenaganya berkurang banyak.


Orang tua Victor kembali datang ke rumah sakit setelah beberapa saat mereka kembali ke rumah, tidak ada lagi pengawal yang menemani mereka berdua lagi. Sementara Victor memang tak meninggalkan tempat itu sama sekali, hanya sesekali saja pergi untuk ke kamar mandi. Berbeda dengan yang lain yang masih ingat untuk makan, minum, dan membersihkan diri, Victor benar-benar hanya duduk, berdiri, mondar mandir di luar ruangan karena dia masih tak di izinkan masuk untuk melihat keadaan Jelena.


Mungkin dia memang tidak tahu benar bagaimana Jelena menghadapi rasa sakit karena persalinan, tapi mendengar Jelena merintih, menangis, berteriak, Victor benar-benar paham bahwa itu pasti sangat sakit, meski entah seberapa sakitnya.


" Ah! " Pekik Jelena yang masih saja berjuang untuk melahirkan bayinya. Perasaan sakit itu, sakit yang seperti seluruh tulang di tubuhnya di temukan secara bersamaan, perutnya yang seperti di sayat dengan besi runcing yang panas, hawa panasnya seperti masuk hingga ke ubun-ubun. Tubuhnya gemetar, dingin, seperti tak memiliki tulang, kakinya seperti ingin copot, telapak kaki yang mati rasa, pinggang yang berdenyut sakit, di sertai rasa panas.


Sungguh rasanya seperti ingin mati, tatapan matanya sudah seperti akan malam, telinganya berdengung tak dapat mendengar suara Dokter juga suara Ibunya yang terus mencoba untuk menyemangati sembari menangis. Bibirnya keting, pucat, tenggorokannya seperti sudah penuh dengan udara hingga dia kesulitan untuk mengeluarkan suara.


" Jelena, tolong..... Tolong lebih semangat lagi ya? Tolong,..... " Pinta Ibu Terra, dia semakin menggerakkan genggaman tangannya, menggigit bibir bawahnya karena dia terus mencoba untuk menahan tangis. Sungguh dia tidak sanggup melihat Jelena yang begitu menderita, tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun selain hanya menyemangati putrinya.


Jelena tak lagi sanggup sebenarnya, tapi dia tetap mencoba untuk terus berjuang dengan nafasnya yang mulai tersendat-sendat.


Dia memejamkan matanya sebentar, memang masih tidak jelas dan seperti muncul kunang kunang, tapi sadar benar jika hidup bayinya ada pada dirinya, Jelena akhirnya menguatkan hati dan dirinya untuk terus, terus, dan terus berjuang demi anaknya.


" Ah...........! "


Berhasil! Bayi itu sudah lahir.

__ADS_1


Jelena menatap Dokter dan Ibunya yang terlihat bingung. Jelena juga bingung karena telinganya masih tak dapat mendengar dengan jelas. Pelan, Jelena menjalankan kedua bola matanya, dan dia dapat melihat tangan bayinya seperti lemas tak bergerak. Dokter yang membantu jalannya persalinan kini tengah mengangkat tubuh bayinya, membalikkan hingga membuat kepala bayinya berada di bawah, menahan dengan posisi bergantung, mengusap punggung bayinya terus menerus, memukul pekan bokongnya, entah apa yang di lakukan Dokter itu, tai bayinya sama sekali tidak terlihat kesakitan apalagi menangis.


Kenapa?


Seperti itulah arti dari tatapan mata Jelena saat melihat anaknya seperti di siksa. Masih belum berhenti, bahkan sekarang Dokter tengah menekan dada anaknya terus menerus membuat Jelena ketakutan sendiri.


" Bu? " Suara lirih, lemah keluar dari bibir Jelena, dia ingin bertanya kepada Ibunya, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bayinya di perlakukan tidak baik? kenapa bayinya tidak bergerak dan terus menutup mata? Apakah bayinya celaka karena perlakuan Dokter?


Ibu Terra tidak bisa menjawab, dia justru menutup bibirnya, menangis cukup kuat membuat Jelena perlahan mendapati kembali kesadarannya.


Dokter menghela nafas dengan wajah sedih. Mereka saling menatap, lalu mengangguk penuh arti membuat Jelena terdiam dengan tatapan bingung, tapi dia juga menangis karena takut apa yang dia pikirkan akan terjadi.


" Ken, siapkan segala hal yang kita butuhkan. Kita harus melindungi bayinya Jelena supaya tidak bisa di rebut oleh Keluarga Horison yang tidak tahu malu itu. " Ucap Ayahnya Jelena kepada Ken. Sungguh Ken sedang tidak bisa banyak berpikir karena dia terlalu takut seandainya terjadi sesuatu dengan Jelena.


" Jangan buru-buru, Tuan. Bayi itu adalah anak kandung Victor, darah daging ku juga. Anda pikir mudah untuk mencegah ku mendapatkan cucuku? " Ayahnya Victor tersenyum dengan dingin, menatap penuh ancaman membuat Ayahnya Jelena semakin bertekad untuk melindungi cucunya agar tidak bisa di rebut oleh keluarga Horison.


" Jangan harap itu akan terjadi, kami semua akan dengan sangat berani melawan mu. "


Victor mengusap wajahnya dengan kadar mendengar pertengkaran di antara Ayahnya dah juga Ayahnya Jelena. Apakah mereka lupa kalau saat ini yang harus mereka pikirkan adalah keselamatan Jelena? Saat ini suara Jelena menang sudah tidak terdengar merintih, mengeluh, dan berteriak kesakitan, tapi ketenangan itu justru membuat Victor takut.

__ADS_1


Apakah Jelena pingsan? Bagaimana dengan keadaannya sekarang?


Sial! Victor benar-benar sangat penasaran sekali.


Pertengkaran masih berlanjut antara Ayahnya Victor dan juga Ayahnya Jelena, sementara Ibunya Victor yang sedari tak bicara, duduk diam tapi dia juga terlihat gelisah hanya sesekali menghela nafas namun wajahnya sungguh tidak menunjukkan ekspresi yang enak. Sepertinya dia juga khawatir, tapi degan sikap dan cara dia ingin mendapatkan cucunya, bukankah wajar jika orang akan berpikir bahwasanya dia hanya merasakan khawatir untuk cucunya saja?


Ken, pria itu juga tak kalah khawatir, dia benar-benar tegangan sekali, dia juga tanpa sadar menahan nafas terus menerus hingga dadanya sakit dan sesak. Dia bingung kenapa tiba-tiba saja Jelena tidak bersuara, bahkan suara tangis bayi juga tidak ada. Mungkinkah Jelena sedang pingsan? Jika memang pingsan, laku haris bagaimana? Apakah perlu menjalani bedah sesar untuk menyelamatkan keduanya? Tunggu, kenapa tidak ada satu pun Dokter yang keluar? Mungkinkah benar-benar terjadi sesuatu dengan Jelena? Begitu banyak pertanyaan itu di dalam otak Ken, hanya saja Ken benar-benar tidak tahu harus bagaimana agar semua perasaan khawatir dan juga penasaran itu mendapatkan jawabannya?


Beberapa saat kemudian.


Terdengar suara tangisan Jelena yang begitu kuat membuat semua orang yang berada di luar berdiri dengan begitu terkejut. Saling menatap dan bertanya satu sama sebenarnya apa yang terjadi di dalam sana?


" Tidak! Tidak! Kalian, kalian yang sudah mencelakai bayiku! " Ucap Jelena, masih agak tidak jelas apa yang dia katakan karena Jelena mengatakan kalimat itu sembari menangis kuat.


Victor benar-benar tidak tahan lagi, dia bergegas melangkahkan kakinya untuk melihat secara langsung sebenarnya apa yang terjadi dengan Jelena. Sayang sekali baru beberapa langkah saja, Ken menahan lengan Victor, mencengkram sangat kuat, lalu meraih puncak Victor, dan menariknya kebelakang hingga Victor terjatuh.


" Apa yang kau lakukan?! " Protes Ibunya Victor yang jelas merasa tidak terima dengan apa yang di lakukan Ken kepada putranya.


" Jangan berani-beraninya masuk ke dalam, kau tidak pantas untuk itu. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2