
" Tahu apa kau tentang ku? Kalau saja bukan karena orang tua mu yang begitu jahat, memperlakukan ku sesukanya, kau pikir aku akan jadi seperti ini? Usia empat tahun mereka memintaku untuk mengamen dan mengemis, memukuli ku saat mereka mabuk, dan juga tidak memiliki alkohol. Kau tahu apa yang lebih gila dari itu? Dia mencoba menjual ku beberapa kali ke rumah bordir saat mereka di kejar-kejar penagih hutang judi. Mereka memeras ku setiap waktu, mengambil hampir semua upah ku saat aku bekerja di rumah Tuan Victor, bahkan mereka menjual ku kepada keluarga Tuan Victor, memeras ku terus menerus, juga memeras Tuan Victor. Dia memanfaatkan bayi di dalam perutku selama bisa menghasilkan uang, lalu begitu ada yang memintanya untuk memaksaku menggugurkan kandungan dengan iming-iming uang, mereka langsung saja memaksaku, dan hampir saja menculik Ku agar bisa menghabisi bayi ini. Jika boleh di simpulkan, aku menjadi seperti sekarang bukan kan salah orang tua kandung mu? "
Jemima tidak tahan lagi mendengar ucapan Jelena. Dia dengan begitu emosi mendorong tubuh Jelena hingga Jelena jatuh duduk di lantai.
" Ah.......! " Jelena meringis kesakitan karena benturan yang terjadi cukup kuat dan membuat pinggangnya sakit, menjalar sampai ke perutnya.
Jemima yang terkejut sendiri bingung harus melakukan apa, dia gemetar membayangkan apa yang dia lakukan jelas bisa membahayakan bayi yang ada di dalam perut Jelena. Tidak, dia sungguh tidak sengaja melakukan itu, dia tidak berniat mencelakai Jelena dan juga bayinya.
Dengan segera Jemima berlari menghampiri Jelena yang kini tengah kesakitan dengan tubuhnya yang gemetar.
" Ah! Sakit! " Pekik Jelena yang kini mulai memegangi perutnya. Sungguh, kali ini sakitnya hingga membuat perut Jelena keram cukup parah hingga dia tidak bisa bangkit dari posisi jatuhnya itu.
Jemima semakin ketakutan melihat Jelena yang terlihat pucat, dia tanpa sadar menangis karena takut juga bingung harus bagaimana.
" Ibu! Ibu! Ayah! Tolong! " Pekik Jemima begitu dia ingat akan mereka berdua ketika dia sedang merasa terpojok atau sedih.
Terus, Jemima memanggil Ayah dan Ibunya yang kini sedang bicara di ruang kerja.
Mendengar suara Jemima terus berteriak memanggil mereka, segera Ibu Terra dan suaminya berjalan cepat untuk menghampiri ke arah sumber suara. Sebenarnya saat tahu dari mana arah sumber suaranya, Ibu Terra sudah seperti tak memiliki kekuatan lagi, dia takut sekali terjadi sesuatu di dalam sana, di kamar Jelena karena suara Jelena terdengar merintih kesakitan.
" Jelena! "
Ayahnya Jelena yang terkejut dengan segera mendekat, tanpa sadar mendorong tubuh Jemima menjauh dari putrinya, kemudian dia meraih tubuh Jelena dan memeluknya.
__ADS_1
" Ada apa nak? Kenapa tadi berada di bawah? " Tanya Ibu Terra mewakili apa yang ingin di tanyakan oleh suaminya.
" Sakit............! "
Tak ingin membuang waktu karena putrinya sudah terlihat begitu pucat sampai keringat dingin, segera Ayahnya Jelena membopong tubuh Jelena untuk keluar dari kamar, lalu bersiap untuk menuju ke rumah sakit.
Jemima masih terdiam di sana dengan perasaan sedih dan merasa bersalah, dia tidak tahu kalau kekesalan yang dia rasakan akan menjadi bumerang dan menyakiti orang lain seperti ini. Padahal dia juga ingat kalau Ayahnya sedang dalam kondisi yang kurang sehat, tapi dia justru menggendong Jelena, bukankah Jemima sudah membuat banyak orang dalam bahaya sekarang?
Tak memikirkan kondisinya, tak memikirkan tulang belakangnya yang belum lama di operasi, Ayahnya Jelena mengabaikan semua keluhan dalam tubuhnya, fokusnya hanya tertuju kepada putrinya yang terlihat menderita, juga calon cucunya yang sebenarnya masih butuh enam Minggu lagi untuk di lahirkan.
Sesampainya di rumah sakit, Jelena langsung mendapatkan penanganan, dan saat ini Jelena berada di dalam ruangan bersama Dokter.
Kabar itu rupanya dengan cepat di dengar oleh kedua orang tua Victor. Mereka dengan segera bergegas untuk menyusul ke rumah sakit. Dari mana mereka tahu? Maka jawabannya adalah, dari salah satu Dokter yang terbatas adalah kenalan Ayahnya Victor membutuhkan keadaan Jelena.
Victor yang saat ini tengah berada di kantor agensi menyelesaikan beberapa masalah rumor yang masih saja membeludak. Dia tidak melihat ponselnya sejak pagi tadi, padahal dia terus memikirkan tentang Jelena, sedang apa, dan bagaimana kabarnya.
Katherine.....
Rasanya Victor sudah cukup muak dengan wanita itu, wanita yang terus mencoba menyusup masuk agar kembali di perdulikan oleh Victor, wanita yang mulai gila dan terobsesi dengan Victor.
" Masih lama tidak? Aku mengantuk, dan aku butuh waktu untuk istirahat. " Ujar Victor kepada Juno yang kini tengah menatapnya dengan tatapan sebal. Padahal Juno sudah sejak tadi bicara dari a sampai z, tapi reaksi Victor justru membuatnya merasa percuma banyak menasehati Victor.
" Victor, sejak tadi aku bicara apa kau tidak dengar sama sekali? "
__ADS_1
Victor membuang nafas dengan mimik sebal dan lelah.
Dengar, tentu saja dia dengar, hanya saja Victor enggan untuk memperdulikan apa lagi memikirkan apa yang di katakan oleh semua orang. Yang mereka tahu hanyalah menghasilkan uang, menuntut Victor untuk terus terlihat sempurna, tidak perduli apakah Victor nyaman atau tidak dengan itu.
" Aku butuh ponsel ku, sejak pagi aku belum melihat notifikasinya. " Ucap Victor seraya memberikan satu tangannya untuk mengadah meminta ponsel yang di tahan oleh Juno.
Juno membuang nafas kesal.
" Victor, kau tahu betapa sulitnya menjadi seorang aktor bukan? Kau sudah sampai di tahap ini, kau sudah sejauh ini, jadi jangan kehilangan semangat dan menjadi tidak bersemangat seperti ini. " Pinta Juno.
Victor menatap Juno dengan tatapan jengah.
" Ponsel ku, atau kau akan tahu bagiamana rasanya saat aku memutuskan untuk pensiun. "
Juno gelagapan, dengan segera dia mengeluarkan ponsel milik Victor dari dalam sakunya. Lalu menyerahkan kepada Victor.
Segera Victor membaca satu persatu notifikasinya, dan betapa terkejutnya Victor membaca pesan yang di kirimkan oleh asisten Ayahnya mengenai kondisi Jelena.
" Berikan aku kunci mobil! " Pinta Victor dengan mimik yang begitu panik.
" Tunggu! Kau tidak dengar bagaimana pimpinan memperingati mu tadi?! "
Victor mencengkram kain kemeja bagian dada milik Juno, menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
" Aku tidak perduli, kalau aku tidak di gunakan lagi, kalian yang akan rugi, dan masih banyak agensi lain bukan? "
Bersambung.