Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 20 : Perasaan Tak Terkalahkan


__ADS_3

" Hanya itu yang kau makan? Kau ingin mati kelaparan hah?! " Tanya Victor yang entah sejak kapan berada tak jauh darinya.


Jelena tak menjawab apapun yang di katakan Victor. Bukan karena dia merasa takut seperti biasanya, tapi kali ini Jelena sedang merasa begitu marah, kecewa, juga muak dengan sikap Victor yang begitu kejam. Menghinanya berkali-kali, memintanya untuk membunuh anaknya sendiri, bahkan sampai menggunakan orang tuanya, menggunakan uang untuk meminta orang tuanya agar Jelena menggugurkan kandungannya.


Salahkah jika dia menjadi marah dan egois sekarang? Sebenarnya kurang baik dan menerima apa dia? Dia di lecehkan dan harus menerima kenyataan mengandung bayi dari pria yang begitu tidak Sudi padanya, di nikahi dengan acara pernikahan yang bahkan sederhana saja masih jauh lebih baik. Di suguhi uang seolah sudah cukup untuk membeli harga dirinya, membeli pengorbanan dirinya untuk menjaga kehamilan dan melahirkan bayi yang taruhannya adalah nyawa. Sudah sejauh ini dia berkorban, tapi kenapa masih tidak mendapatkan ketenangan? Victor, Katherine, orang tuanya, juga orang tua Victor yang terus mengirimkan pesan meminta Jelena untuk memperhatikan segalanya yang menyangkut kesehatan janin yang ada di perutnya, namun tak sekalipun menanyakan bagaimana keadaan dirinya.


" Masih tidak menambah porsi makan mu? " Tanya lagi Victor dengan tatapan yang semakin menekan, memaksa agar Jelena mengikuti apa yang di inginkan oleh Victor. Tentu saja Jelena jadi semakin enggan melakukannya, padahal dia juga tidak lapar sama sekali, dia tidak ingin menelan apapun. Tapi mengingat ada kehidupan lain yang bergantung dengannya, maka dari itu Jelena memaksakan diri untuk makan, minum susu, minum vitamin, dan istirahat serta tidur secukupnya.


" Aku tidak lapar, Tuan. Aku akan minum susu hamil, juga akan minum vitamin yang di berikan Dokter. "


Victor terdiam sebentar, dia benar-benar heran dengan mimik wajah Jelena yang sangat tidak biasa. Cara dia bicara, nada bicaranya, dia yang terlihat menghindari tatapan mata bukan karena rasa hormat melainkan dia seperti malas melihat Victor, rasanya Victor benar-benar sebal dengan itu. Selama ini dia selalu di tatapan kagum oleh orang lain, dia terlalu biasa mendapatkan pujian, dan dia juga terbiasa melihat para pelayan rumahnya menunduk hormat. Tapi apa yang Jelena lakukan membuat Victor keheranan dan tidak habis pikir kalau akan ada wanita yang menatapnya seperti itu.


" Kalau begitu, aku permisi akan kembali ke kamar dulu, Tuan. "


Setelah mengatakan itu, Jelena dengan segera meninggalkan Victor di sana. Entah akan seperti apa marahnya Victor mendapat respon seperti itu dari Jelena, tapi yang pasti Jelena benar-benar sedang kacau sekali.


Victor membuang nafasnya, kesal sekali rasanya mendapatkan respon yang tidak sesuai ekspektasi, padahal dia sudah repot-repot memperhatikan Jelena, sampai dia harus mengingatkan seperti itu, dan Victor baru pertama kali memperlihatkan kepada Jelena kalau dia juga perduli, tapi justru Jelena sendiri yang tidak menerima niat baiknya itu.

__ADS_1


Begitu kembali ke kamarnya, Jelena meletakkan semua makanan yang akan dia meja dan duduk sebentar untuk menyeka air matanya. Tolong, dia juga tidak ingin sedih seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? semua yang terjadi benar-benar membuat gadis sembilan belas tahun itu seperti berada di ruang kesedihan yang menyuguhkan miliaran kesedihan tiada henti.


Sekarang dia sudah tidak memiliki apapun kecuali bayi yang ada di dalam perutnya, dia adalah satu-satunya keluarga yang akan memiliki ikatan darah dengannya seumur hidup. Tidak akan ada yang bisa menghentikan niatnya untuk menjaga bayinya, dia akan menyelamatkan bayinya, jadi mulai detik ini Jelena akan keras kepada dirinya sendiri, juga akan keras kepada orang lain. Meskipun pada akhirnya akan membuat hubungannya semakin buruk, atau bahkan semakin hancur berantakan tak terarahkan, Jelena tetap akan memperjuangkan bayinya.


Besok paginya.


Katherine kembali ke rumah Victor tepat di jam sarapan, dan langsung duduk di meja makan, dia sebelah Victor dengan sikap manja seperti biasanya. Jelena yang juga berada di sana tengah menyiapkan sarapan tidak berekspresi sama sekali. Entah akan sejauh apa mereka memperlihatkan kemesraan mereka, Jelena tentu saja tidak akan perduli apa lagi melihat ke arah mereka. Sudah cukup Jelena memberikan kesabaran tiada henti, sudah cukup Jelena mengalah dan membiarkan orang untuk mendapatkan kebahagiaan, dia tidak akan memperdulikan apapun lagi, jadi di dalam hati Jelena hanya bisa membatin, lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan, aku tidak perduli sama sekali, juga tidak akan terpengaruh apapun yang akan kalian lakukan.


" Kenapa kau tidak duduk untuk sarapan? " Tanya Victor saat Jelena selesai menyiapkan sarapan dan bersiap untuk beranjak pergi dan sarapan bersama dengan Popi juga Bibi dapur saja nanti.


Jelena terdiam sebentar karena tidak tahu harus menjawab apa, lalu dengan segera dia menggelengkan kepala dengan wajah menunduk sopan.


" Aku akan sarapan dengan Bibi dapur dan juga Popi, Tuan dan Nona Katherine silahkan nikmati saja sarapannya. "


Victor membuang nafasnya, dia lagi-lagi hanya bisa menahan kesal karena harus mendapatkan penolakan dari Jelena lagi, padahal dia sudah banyak berusaha untuk memperhatikan Jelena, ah! Mungkin maksudnya adalah anak yang ada di dalam perut Jelena.


" Duduk! " Ucap Victor dengan nada dan tatapan yang begitu memaksa agar Jelena mengikuti apa yang dia inginkan, dia katakan barusan.

__ADS_1


" Duduk, dan makan sarapan mu! "


Jelena yang terkejut hanya bisa terdiam bingung, sementara Katherine semakin menjadi dengan kemarahan dan perasaan cemburu yang memenuhi hatinya.


" Kau mau membuat ku bicara sampai dengan kalimat yang sama seberapa banyak?! "


Jelena tersentak, dia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti perintah Victor. Makan ya makan saja, memang untuk apa juga dia harus merasa takut?


Jelena ingin bangkit untuk mengambil sarapannya, tapi Victor memanggil Popi dan meminta Popi menyiapkan makanan untuk Jelena. Tentu saja Jelena bingung, kenapa Victor memperlakukannya seperti ini? Tapi mengingat bagaimana kenyataan Victor yang meminta orang tua Jelena untuk memaksa Jelena menggugurkan kandungan, sepertinya Jelena menganggap kalau Victor pasti sedang mencoba untuk mengambil hatinya, lalu bertindak diam-diam untuk membunuh bayinya. Jelena hanya bisa menatap makanan itu tanpa keinginan untuk menyentuhnya sedikitpun. Dia takut, benar-benar takut kalau tenyata ada racun di makanan yang di hidangkan padanya.


" Kenapa kau diam saja? " Tanya Victor.


Jelena terdiam sebentar, lalu menggeleng kepala karena dia tidak ingin menjawab pertanyaan dari Victor.


" Mungkin dia takut kita meracuninya, sayang. " Ucap Katherine lalu tersenyum licik.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2