Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 33 : Canggung Dan Kesal


__ADS_3

Jelena tak mengatakan sepatah katapun, dia benar-benar memilih untuk fokus membeli apa saja yang dia butuhkan. Semuanya serba murah, kualitasnya juga biasa saja karena memang itu lah yang mampu Jelena beli dengan gaji yang dia dapatkan kemarin. Bisa saja memang membeli yang bagus, tapi Jelena pikir dia perlu menghemat uang agar saat melahirkan nanti dia dapat sedikit lega karena memiliki uang selama masa pemulihan dan untuk membeli apa saja yang di butuhkan oleh bayinya.


Melihat semua brang yang di beli Jelena Victor benar-benar berpikir keras, kenapa mengacuhkan barang yang memiliki kualitas bagus, dan mengambil barang yang biasa saja?


" Body lotion, pembersih kaki, shampo, sabun, bahkan pasta gigi juga kau beli yang kualitasnya rendah? Kenapa kau tidak menyayangi tubuhmu? Atau kah kau sangat bodoh dan tidak bisa membedakan? " Protes Victor karena sudah tidak tahan lagi melihat Jelena memasukkan barang-barang yang bahkan dia pikir orang tidak akan Sudi membelinya.


Jelena terdiam sebentar, membuang nafanya dan sebentar menatap Victor sebelum dia menjawab pertanyaan itu sembari mengubah arah pandangan matanya.


" Tentu saja aku tahu, Tuan Victor. Aku tahu mana barang yang bagus dan tidak. Tapi masalahnya adalah, aku tidak memiliki banyak uang yang harus aku buang percuma untuk membeli ini. Jika aku mampu membeli semua barang berkualitas bagus, artinya aku akan menghabiskan seberapa besar pun upah kerja yang aku dapatkan. Aku bukan orang kaya, tentu saja aku harus menghemat uang agar memiliki tabungan untuk masa depan, terutama untuk masa tua. "


Victor tak lagi bicara.


Benar, selama ini dia selalu berada di dekat orang-orang yang memiliki cukup uang, orang-orang yang selalu menginginkan yah tebaik untuk diri sendiri, dia sama sekali tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi seorang yang kekurangan uang, orang yang hanya memiliki sedikit pemasukan dan harus pintar membaginya dan harus tetap memikirkan bagaimana harus bisa menabung untuk masa depan dan kebutuhan mendadak.


Saat belanja bersama dengan Katherine, mereka berdua tentu saja akan membeli semua yang terbaik dari semua merek ternama. Kali ini Victor benar-benar mendapatkan satu pembelajaran yang begitu berarti.


" Aku sudah selesai, sekarang tinggal Tuan Victor. " Ucap Jelena membuat Victor teringat dengan alasan yang dia gunakan untuk ikut Jelena ke supermarket tadi.


" Oh, aku, iya, tentu saja! " Victor melangkahkan kakinya ke sembarang arah karena dia bingung, apa yang ingin dia beli? tidak ada! Semua yang dia butuhkan sudah Juno belikan. Victor mengambil beberapa barang saat dia sampai ke perlengkapan pria. Asal saja, entah apa juga gunanya membuat Jelena juga hanya bisa diam tak mengatakan apapun karena memang Jelena tidak tahu menahu tentang itu.


Setelah selesai berbelanja, Victor sebenarnya ingin mengajak Jelena untuk makan siang, tapi dia tidak terlalu berani mengatakan itu. Dia tidak ingin Jelena berpikir macam-macam, jadi dia mengurungkan niatnya itu hingga mereka kembali ke rumah tanpa bicara satu kata pun. Jelena langsung masuk ke kamarnya karena sebentar lagi adalah jadwal untuk tidur siang, sementara Victor juga kembali ke kamar.

__ADS_1


Victor melepaskan masker penutup mulut, topi dan kaca mata hitam yang sedari tadi dia gunakan saat untuk pergi belanja. Dia duduk di pinggiran tempat tidur sembari menghela nafas. Sebentar dia menatap barang belanjaannya yang tidak tahu apa saja yang dia beli, apa yang ada di dalamnya.


Tadi dia ingin membayar semua belanjaan, tapi Jelena menolak keras, dan Victor juga memaksa untuk membayar. Jelena yang enggan membuat keributan akhirnya memilih untuk diam, tapi saat Victor akan membayar, dia benar-benar di buat tidak berkutik karena ternyata dia meninggalkan dompetnya di mobil. Tentu saja pada akhirnya Jelena harus mengantar semua barang yang di beli hari itu.


Setelah beberapa saat, Victor memutuskan untuk keluar dari kamar, dia akan datang ke kamar Jelena karena harus membayar uang belanja.


Begitu sampai di kamar Jelena, Victor terdiam sebentar untuk menenangkan dirinya. Sungguh dia tidak terlalu mengerti apa arti perasaan gugup yang dia miliki saat itu. Padahal dia bisa memasang wajah angkuh, dingin, seperti biasanya bukan?


Sudahlah, sepertinya ini juga akan berhenti nanti. Mungkin saja perasaannya sekarang memang sedang kacau karena banyak hal yang terjadi belakangan ini.


Victor mengetuk pintu kamar Jelena beberapa kali, dan menunggu di bukakan pintu beberapa saat sebelum Jelena membuka pintunya.


Victor memberikan sekitar lima belas lembar uang kepada Jelena.


" Aku harus membayar belanjaan ku kan? "


Jelena terdiam sebentar, lalu menatap uang yang di sodorkan padanya. Tentu saja Jelena enggan menerimanya karena uang itu banyak sekali, jauh lebih banyak dari jumlah belanjaan Victor yang sebenarnya.


" Berikan saja aku tiga lembar, itu cukup. "


Victor membuang nafasnya.

__ADS_1


" Ambil saja semua, sekalian untuk mengganti uangmu yang kau gunakan untuk kontrol kehamilan kemarin. Uang ini sama sekali tidak akan membuatku miskin, jadi jangan meremehkan ku. "


Jelena menahan dirinya yang mulai merasa kesal, tidak usah di beritahu tentu saja dia tahu benar betapa banyak uang yang bisa di hasilkan Victor dalam satu hari.


" Sudahlah, terima saja Jelena. Jangan sok jual mahal, kau tahu benar kan kalau harus menghidupi orang tua tidak berotak dan juga menghidupi dirimu sendiri saat keluar dari rumah ini setelah melahirkan? "


Jelena menoleh begitu juga dengan Victor untuk melihat siapa yang mengatakan kalimat barusan meski mereka bisa menebaknya hanya dengan mendengar suaranya.


Katherine!


Victor membuang nafasnya, kembali menatap Katherine karena ingat benar bagiamana Katherine membuat ulah kemarin. Sekarang dia tiba-tiba saja datang tanpa kabar, tersenyum senang saat melihat ke arah Victor. Ah, tidak! Victor kembali mengingat kalimat yang di katakan Katherine barusan yaitu, Jelena harus menghidupi dirinya sendiri setelah dia melahirkan nanti. Iya, dia ingat benar perjanjian yang sudah di setujui oleh keluarga mereka masing-masing, juga sudah dia sepakati oleh Victor dan Jelena sendiri.


Tadinya Victor ingin mengajak bicara Katherine untuk membahas masalah yang terjadi di antara mereka dan publik. Tapi mengingat apa yang di katakan Katherine benar-benar membuat Victor seperti tak ingin bicara.


Jelena juga hanya diam tak mengatakan apapun meski hatinya seperti tengah mengatakan banyak hal.


" Sayang, nanti setelah anak itu lahir, kita langsung menikah saja yuk? Aku akan bantu merawat anak itu. " Ucap Katherine sembari mendekati Victor


Jelena mengepal tangannya, menahan marah. Tidak, jangan harap akan memiliki anaknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2