Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 8 : Peringatan Dari Jelena


__ADS_3

Victor membuang nafas sebalnya seraya menjauhkan Ponselnya. Dia baru saja pulang untuk syuting seharian sampai hampir saja larut malam, tapi orang tuanya menghubungi untuk menanyakan tentang keadaan janin yang ada di kandungan Jelena. Tentu saja Victor tida bisa mengeluhkan betapa lelahnya dia, dan betapa malasnya dia membicarakan soal Jelena karena dia memang sama sekali tidak perduli dengan Jelena atau pun bayi yang tidak jelas siapa Ayahnya. Kalaupun dia ingin mengeluh hari ini dia lelah sekali dan jangan mengganggunya, orang tua Victor pasti akan langsung marah, dan meminta Victor untuk berhenti menjadi seorang Aktor. Profesi yang dia lakoni sekarang adalah impiannya sejak kecil, jadi sulit untuknya memenuhi keinginan orang tuanya itu.


Tak mau ambil pusing, Victor mengatakan kepada orang tuanya jika janin yang ada di perut Jelena baik-baik saja, dan dia juga mengatakan jika dia sudah mengawasi Rien agar tidak mengabaikan janin yang ada di perutnya. Victor tentu saja paham dengan kekhawatiran yang di rasakan orang tuanya, tapi tetap saja meskipun yang mereka perdulikan adalah calon bayi yang kemungkinan cucu mereka, tapi bukankah tetap saja artinya Victor harus memperhatikan Jelena? Hah! Gila, semua orang tentu saja akan menganggapnya pria konyol dan renda selera kalau sampai dia tahu Jelena adakah istrinya, dan sedang hamil pula.


Masih yakin benar jika anak di perut Jelena bukanlah anaknya, Victor tetap akan memperlakukan Jelena layaknya memperlakukan pelayan rumah. Toh cepat atau lambat Jelena juga akan keluar dari rumah setelah bayi lahir bukan? Sekarang dia hanya perlu fokus saja dengan karir juga dengan hubungannya dengan Katherine.


Merasa benar-benar sangat rindu, Victor memutuskan untuk melakukan panggilan video kepada Katherine. Rupanya Katherine sedang berada di perjalanan pulang, jadi mereka bisa saling mengobrol melalui panggilan video.


Sayang, aku tidak sempat menonton acara live tadi, sukses kan?


Victor tersenyum lalu menganggu. Dia merebahkan tubuhnya, menumpuk dua bantal menjadi satu, dan mengarah ponsel ke wajahnya.


" Lancar, ngomong-ngomong tadi pembawa acara bertanya dengan siapa aku menjalin hubungan. Rasanya aku ingin memberitahu yang sebenarnya dan mengenalkan mu kepada semua orang, tapi karena kau belum setuju untuk mempublikasikan hubungan kita, aku jadi harus menahannya lagi. "

__ADS_1


Katherine tersenyum dengan wajah Kelu, dia memiliki begitu kuat alasan agar dia tetap menahan hubungannya dengan Victor agar tidak terendus keluar. Sebenarnya siapa sih yang tidak ingin mengenalkan pria seperti Victor sebagai kekasihnya, dan siapa juga yang tidak bangga di cintai oleh pria tampan, aktif terkenal, di tambah Victor juga ahli waris dari sepasang pengusaha kaya yang tidak perlu di ragukan lagi bagaimana masa depannya akan terjamin.


Seperti itulah obrolan mereka berdua.


Di sisi lain.


" Kalau kau masih tidak memberikan kami uang, jangan harap kau bisa tenang. Kau ini harusnya berbakti kepada kami, kau tidak ingat kalau selama ini kau hidup karena kami?! " Protes Ibunya Jelena sembari mencengkram lengan Jelena dengan kuat, matanya tajam menatap Jelena, namun nada bicaranya pelan karena dia cukup takut kalau harus menghadapi kemarahan Victor.


Jelena terdiam tak bicara, berbakti? Rasanya dia ingin memukul kepalanya sendiri sampai mati karena selama ini semua yang dia lakukan seolah tak bisa menggantikan sehari saja masa hidup bersama orang tuanya. Padahal dia juga tidak pernah merasa bahagia, dia menderita karena kedua orang tuanya membuat masa kecilnya sama sekali tak terasa bahagia. Belum lagi dia juga pernah di jual untuk melunasi hutang oleh orang tuanya, di pukuli, dia juga pernah di usir hanya karena hasil mengamen tidak banyak. Jelena sudah pernah mencoba untuk tinggal di kantor asuhan, namun pemilik Pati menolak karena merasa Jelena masih memiliki orang tua lengkap, sedangkan mereka juga harus mengurus anak panti jadi Jelena tidak ada pilihan lain selain tinggal di rumah neraka, orang tua yang sama sekali tak ada bedanya dengan iblis.


Jelena membuang nafasnya, melepaskan lengannya dari cengkraman Ibunya yang membuatnya merasa begitu sakit.


" Ibu, dua Minggu yang lalu aku sudah memberikan semua upah bekerja milik ku, lalu seminggu kemudian Ibu sudah menerima uang mahar dari Tuan Victor, meskipun aku tidak di beritahu betapa uang maharnya, tapi aku yakin jumlahnya pasti cukup banyak kan? "

__ADS_1


Ibunya Jelena mendelik marah, dia mencubit lengan Jelena membuatnya memekik dan mendesis kesakitan. Tentu saja hal seperti ini adalah hal yang biasa Jelena terima, meskipun ingin membalas tapi dia juga tidak memiliki keberanian sebesar itu, di tambah dia juga tidak mau membuat Ibu dan Ayahnya berulah lagi.


" Kalau kau tidak memberikan Ibu uang, jangan salahkan kalau Ibu akan memberi tahu semua orang bahwa kau menikahi Tuan Victor, Hem? " Ibunya Jelena menatap dengan tatapan mengancam, tersenyum seolah ingin menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak main-main dengan ucapannya.


Sekarang Jelena benar-benar tidak bisa banyak membantah lagi, walaupun sebenarnya dia ingin tega dan mengacuhkan Ibunya, tapi kalau sampai benar Ibunya melakukan hal itu, sudah pasti Victor akan marah dan lagi-lagi pasti menyalahkan Jelena bukan? Tidak, Jelena masih tidak sanggup menghadapi wajah marah Victor yang begitu dingin dan membuatnya tertekan.


Jelang segera meninggalkan Ibunya, bukan untuk menemui Victor demi meminta uang, tapi dia menemui Bibi dapur untuk meminjam uang padanya. Tadinya Bibi dapur ogah meminjamkan uang karena tujuan Jelena meminjam adalah untuk orang tuanya yang sangat tidak berotak, tapi saat Jelena mengatakan alasannya, Bibi dapur juga merasa terganggu karena tahu benar bagaimana Victor status menyalahkan Jelena. Mengingat Jelena yang sedang hamil, dan bagaimana perlakuan Victor serta Katherine, Bibi dapur memutuskan untuk memberikan beberapa lembar saja kepada Jelena.


" Hanya segini? Kau ini sedang bercanda ya? " Protes Ibunya Jelena dengan tak terima saya menghitung uang yang tak banyak itu.


Jelena sebentar terdiam.


" Ibu, aku memang menikah dengan Tuan Victor, tapi jangan lupa karena apa aku di nikahi, dan asal Ibu tahu aku juga tidak beda dari sebelumnya. Aku, masih menjadi pelayan di rumah ini. Kalau Ibu memang tidak tahan untuk memberitahu semua orang, maka lakukan saja sesuka Ibu, dan lihatlah bagiamana aku di usir, dan Ibu tidak akan mendapatkan uang lagi. Tuan Victor tidak menginginkan anak ini, tentu saja dia tidak perduli dengan ku, juga tidak akan memperlakukan ku seperti istri, apalagi memberi uang. Tapi karena aku ingat perjanjian yang di buat Ibu, Ayah dan orang tua Tuan Victor makanya aku bertahan di rumah ini sampai anak ini lahir. Ibu jangan menganggap remeh, mereka adalah orang hebat yang akan bisa menyingkirkan Ibu dan Ayah hanya dengan satu detik saja. "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2