
Maafkan, maafkan Ayah yang pernah mengatakan banyak hal yang menyakiti mu dan menyakiti Ibu mu. Maafkan Ayah yang pernah mengatakan kalau kau benih terkadang jika hidup di rahim Ibumu, maafkan Ayah yang berkali-kali meminta Ibumu untuk membunuhmu. Ayah menyesal, menyesal sekali. Saat itu Ayah terlalu egois, menyalahkan Ibumu, juga kehadiran mu yang di luar ekspektasi. Sungguh, Ayah tidak tahu kalau kehilangan mu akan sangat menyakitkan, terlebih melihat Ibumu yang menangis seperti sekarang ini, menangis seperti dunianya telah sirna, Ayah benar-benar rela menukar nyawa Ayah dengan mu. Tolong, tolong, tolong kembalilah, jangan biarkan Ibumu menderita, berikan dia kesempatan untuk bahagia, berikan dia merasakan benar seperti apa indahnya dunia ini.
Jelena masih memeluk bayinya, menangis hingga tak lagi bisa mengeluarkan suara. mereka berdua menangis, bersamaan, dengan harapan yang sama, memohon dengan rela, meminta bertukar nyawa untuk bayi mereka.
Tubuh kecil yang lemas, matanya terpejam rapat, perlahan-lahan mulai memberikan gerakan.
Baik Victor dan juga Jelena yang menyadari adanya gerakan di tubuh bayinya segera merespon, mereka saling menatap apakah merasakan hal itu atau tidak, dan ternyata mereka memang merasakan itu.
" Dokter, anak ku, anak ku, dia bergerak! " Ucap Victur sembari menyeka air matanya, dia dengan gugup dan panik kembali melihat anaknya yang mulai menggerakkan mulut, membuatnya dan mengeluarkan suara tangis yang begitu pelan.
Dokter yang menyadari hal itu tentu saja dengan segera melihat kembali bayi yang sudah di nyatakan meninggal begitu lahir beberapa saat lalu. Dengan segera mereka kembali memeriksa kondisi bayi itu, dan memberikan pertolongan medis secepat mungkin agar jangan sampai terlambat. Kejadian seperti ini memang bukan yang pertama kali di rumah sakit, tapi tetap saja mereka merasa tegang, juga merasa begitu bersyukur karena keajaiban memang akan selalu datang atas izin Tuhan, dan mereka yang katanya tangan Dokter juga tidak mungkin bisa melakukan itu.
Jelena menutup bibirnya, menahan tangis bahagianya begitu juga dengan Victur. Bagus, bayinya hidup, dia bahagia, bahagia sekali, apalagi saat melihat wajah Jelena yang terlihat begitu bahagia. Tangis kesedihan kini berganti tangis kebahagiaan.
Baginya memang di pasangi banyak alat di tubuhnya, tapi Dokter yang tersenyum dengan mata haru seolah mengatakan kepada Jelena dan Victor bahwa bayinya pasti akan baik-baik saja.
Ibu Terra, dia benar-benar melihat secara langsung bagaimana keajaiban itu terjadi. Dia melihat sepasang orang tua yang menangisi anak mereka, memohon dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan khusuk entah bagaimana kalimat itu, tapi keajaiban itu terjadi pasti karena harapan dan doa yang tulus dari kedua orang tua bayi itu bukan? Ibu Terra menyeka air matanya, dia seperti kehilangan rasa bencinya terhadap Victor, dan dia juga tersadar bena bahwa, tidak ada yang lebih penting di banding kebahagiaan putrinya. Sekarang langkah apapun yang akan di ambil putrinya, dia akan mendoakan yang terbaik, tidak akan melarang jika menang itu tidak akan membuat putrinya dalam bahaya.
__ADS_1
Victur meraih tangan Jelena, membuat Jelena terkejut dan ingin segera melepaskan tangannya. Tapi melihat Victor yang menangis dan tersenyum bersamaan, Jelena mengurungkan niatnya. Biarlah untuk saat ini saja, bagaimanapun Victor juga sudah menunjukkan bahwa dia bisa menyayangi anaknya dengan tulus.
" Apa kau merasakan apa yang aku rasakan? " Tanya Ibunya Victor kepada Suaminya. Ayahnya Victor mengangguk, yah dia paham benar apa yang di rasakan oleh istrinya. Bagaimana pun dia juga seorang wanita, juga seorang Ibu yang akan sangat terpukul, sedih, bahkan bisa gila kalau sampai kehilangan anak yang baru saja di lahirkannya.
" Sekarang aku berada di jalur yang sama denganmu, sama seperti sebelumnya. Apapun yang akan kau pilih, aku akan mendukungnya. "
Ibunya Victor tersenyum, meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. Matanya menatap Jelena dan Victor yang kini terlihat bahagia, dan perlahan menjalankan kaki mereka untuk keluar dari ruangan dan menunggu saja di luar.
Ayahnya Jelena juga terdiam dengan apa yang dia pikirkan, terdiam karena tersadar jika apapun keputusan putrinya adalah hal yang harus dia dukung. Dia juga memutuskan untuk keluar dari ruangan, tapi tak lupa untuk terus berdoa dan berharap untuk putrinya dan cucunya baik-baik saja, karena hanya dengan begitu semua juga akan baik untuk keluarganya.
Ken juga memutuskan untuk keluar dari ruangan, membawa harapannya untuk Jelena dan juga anaknya. Entah apa dan bagaimana jalan hidup yang akan di pilih Jelena, Ken masih sangat yakin Jelena tidak akan salah memilih, dan pasti dia akan tetap mengutamakan keselamatan serta kebahagiaan anaknya nanti.
Putri?
Jelena dan Victor benar-benar tersenyum bahagia, ternyata anak mereka seorang gadis kecil? Berat badannya menang tidak cukup dua kilogram, tapi tidak juga kondisi yang normal.
Setelah mengetahui keadaan Jelena dan bayinya yang berjenis perempuan, orang tua Victor memutuskan untuk membiarkan saja Jelena tenang, istirahat dengan baik karena kalau ada mereka berdua jelas saja Jelena akan merasa tertekan dan ketakutan bukan? Sekarang yang penting adalah semua baik-baik saja, dan mereka juga akan mencoba untuk menerima dan bersusah sebaik mungkin dalam hidup.
__ADS_1
" Pulang lah, kau sudah hampir dua hari di sini, kau tidak makan juga jarang ke kamar mandi. Jelena ada orang tuanya yang menjaga, aku juga akan di sini, kau bisa pulang dan istirahat. " Ucap Ken kepada Victor. Sekarang ini semua orang tengah berada di ruang perawatan, kelas VVIP yang luas dan nyaman walaupun banyak orang di sana.
" Di sini sangat luas, bahkan sepuluh orang lagi berada di sini tidak akan masalah bukan? Aku bisa istirahat di sini, bukankah di sini juga ada tempat tidur untuk keluarga? Sofa juga ada, kau mengatakan alasan sok baik mu hanya kedok saja karena niat yang sebenarnya adalah untuk mengusir ku bukan?" Ucap Victor dengan tatapan dingin. bagaimanapun dia benar-benar tidak bisa terus mentolelir sikap Ken yang jelas sekali ingin mendorongnya menjauh dari Jelena dan putrinya.
Ken mengedarkan pandangan, sungguh dia tidak menyadari benar kondisi kamarnya.
" Jelena pasti lelah melihat wajah menyebalkan mu. " Kesal Ken namun nada bicaranya masih pelan.
Victor tersenyum dengan mimik kesal.
" Hentikan!, aku justru sangat ingin kalian berdua pergi. " Ucap Jelena dengan tatapan kesal.
Orang tua Jelena yang sedari tadi berada di sana, menonton perdebatan antara Ken dan juga Victor hanya bisa terdiam dan keheranan.
Ken dan Victor langsung terdiam.
" Ibu, aku haus! " Pinta Jelena karena untuk marah saja cukup membuat tenggorokannya keting.
__ADS_1
Victor dan Ken bergegas cepat memberikan botol air mineral secara bersamaan.
Bersambung.