
Ibu Terra terdiam menahan tangisnya menatap rumah besar yang megah, tempat di mana putrinya bekerja sebagai pelayan rumah itu. Rasanya dia ingin sekali langsung masuk ke dalam, memeluk putrinya dan membawanya pergi, hidup bersama dan menemui suaminya yang kini sedang sakit-sakitan.
Sayang sekali, dia tidak bisa masuk begitu saja karena rumah itu di jaga sangat ketat. Sudah di coba oleh Ken, tapi sepertinya pemilik rumah memang tidak akan menerima tamu asing.
Di dalam rumah.
Victor meminta Katherine untuk segera meninggalkan rumahnya, bukan bermaksud untuk mengusirnya, tapi Victor juga perlu menjaga agar tidak timbul masalah lain lagi. Dia sudah cukup pusing dengan masalah Jelena, juga rumor yang tercium media. Kalau sampai nanti Katherine kedapatan berada di rumahnya, hal itu benar-benar akan merugikan keduanya bukan?
Katherine menatap Victor dengan tatapan kecewa. Jelas, dia merasa tak lagi di cintai, dia merasa tak lagi di inginkan, tepatnya sudah akan di isi oleh Jelena.
" Padahal seharusnya kita menghadapi rumor ini bukan? kau dan aku seharusnya bersatu saling menyemangati, kita tunjukkan kepada semua orang kalau kita saling mencintai, dengan begitu mereka juga akan paham dan memaklumi bukan? Kenapa kau seperti pengecut, Victor? "
Victor membuang nafasnya, pengecut? Haha, benar-benar lucu sekali. Memang sehebat apa dia sampai bisa menghadapi kebencian dari penggemar yang pasti akan melampiaskan kepada Katherine? Luci sekali, benar-benar lucu sekali. Dia membuat rencana ini adalah untuk menjaga Katherine tetap aman meskipun sebenarnya dia cukup marah dan kecewa kepada Katherine karena sudah bertindak sembarangan. Tapi sepertinya niat baiknya sama sekali tak memiliki arti, dan Katherine kini terlihat semakin arogan, ingin mengikatnya erat-erat padahal sejak awal Victor sudah mengingatkan bahwa dia tidak menyukai hubungan apapun yang berhubungan dengan rumit.
" Terserah kau mau menganggap seperti apa, aku tidak akan menjelaskan apapun lagi. Pergilah, dan tolong jangan datang lagi sampai keadaan tenang. "
Katherine mengepalkan tangannya, rasanya ingin mengatakan apa yang sedang dia pikirkan dan dia rasakan. Tapi, Victor tidak akan menyukainya, bisa saja itu akan membuat Victor membencinya. Katherine hanya bisa menahan semua itu, pergi ke luar dengan kesedihan yang mendalam.
Biarlah sekarang dia akan coba untuk mengalah dan menerima, ada masanya nanti dia akan kembali dan mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Setelah kepergian Katherine, Victor mendatangi satpam rumahnya dan meminta kepada satpam rumah untuk tidak membuka gerbang lagi saat Katherine datang. Selama ini Katherine bisa bebas masuk kapan pun dia inginkan karena izin dari Victor, jadi hanya dengan perintah Victor Katherine tidak akan bisa masuk ke dalam rumah lagi.
Saat Victor ingin berbalik dan meninggalkan tempat itu, Victor teralihkan pandang melihat stau mobil mewah terparkir tak jauh dari gerbang rumahnya. Selama ini tidak ada yang bisa parkir sembarangan, kecuali jika di dalamnya ada orang.
" Mobil itu milik siapa? " Tanya Victor kepada satpam rumahnya.
" Saya juga kurang tahu, Tuan Victor. Sudah sejak tai mobil itu berhenti di sana, dan penumpangnya tidak keluar dari mobil. "
Victor terdiam dengan dahi mengeryit saat dia tengah berpikir. Mungkinkah dia adalah wartawan yang sedang memantau rumahnya? Tapi dia tinggal di tempat yang sangat ketat keamanannya, tidak mungkin wartawan bisa sampai di sana, dan lagi bukankah agak tidak mungkin jika seorang wartawan memiliki mobil semewah itu?
Victor terus menatap mobil itu, tai karena kaca mobilnya yang begitu gelap, Victor tidak bisa melihat apapun dan memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Katherine berada di dalam mobil milik managernya, tidak mungkin dia bisa mendapatkan photo Katherine juga.
" Anda tidak perlu melakukan ini, Tuan Victor. " Ucap Jelena yang terkejut dengan sikap Victor, hingga dia termangu beberapa saat dengan tatapan tidak percaya akan melihat Victor memegang keranjang baju kotor yang sudah pasti itu adalah kali pertama untuknya.
Victor membuang keranjang baju kotor itu ke sembarang arah karena dia juga terkejut dengan ada yang dia lakukan. Tidak! Kenapa tadi dia memegang keranjang baju kotor? Sudah gila kah?
Jelena hanya bisa diam tak ingin lagi bertanya melihat Victor menjauhkan keranjang kajian kotor itu dengan cukup kuat. Jujur saja Jelena memang benar-benar di buat bingung luar biasa dengan sikap Victor yang begitu tidak masuk akal intinya beberapa waktu ini. Tapi sayangnya hingga detik ini Jelena masih tidak memiliki kesan yang baik terhadap Victor. Bagi Jelena, apa yang di lakukan Victor pasti karena dia memiliki niat yang buruk, buat yang menakutkan jadi Jelena tetap harus berjaga, berhati-hati. Bagiamanapun Victor sejak awal sama sekali tak memiliki keperdulian terhadapnya, mencoba untuk mencelakai bayinya, jadi bagi Jelena semua hal yang di lakukan adalah trik untuk menyakiti bayinya.
" Jangan banyak berpikir, kalau bukan karena Ibuku yang memintaku untuk tidak membiarkan mu bekerja berlebihan, mana mungkin aku Sudi menyentuh keranjang kajian kotor itu? Makanya lain kali jangan membuat mataku melihat kau bekerja, aku juga sama sekali tidak rela membantumu. " Setelah mengatakan itu Victor buru-buru meninggalkan Jelena di sana.
__ADS_1
Jelena hanya menghela nafas tanpa memikirkan apapun, terserah apa yang akan di lakukan Victor, Katherine dan siapapun, dia sudah tidak ingin memikirkan apapun. Bahkan kakinya seakan tak menyentuh lantai ketika berjalan memikirkan begitu banyak masalah yang datang padanya.
Setelah mengerjakan pekerjaannya yaitu mencuci baju, Jelena ingat bahwa sampah belum sempat dia buang jadi dia segera menuju dapur untuk membuang sampah.
" Biar aku saja, Je! " Ucap Popi yang kala itu tengah mengelap kursi di meja makan.
Jelena tersenyum sembari menggelengkan kepala. Pekerjaannya tidak lah berat, dia hanya mencuci dan menyetrika baju saja, membuah sampah, dan membantu sedikit untuk urusan dapur berdana Popi. Maklum saja, Bibi dapur sudah tidak muda lagi jadi sering kali dia muda kelelahan dan juga sering sakit. Tapi ya karena dia memiliki tiga anak yang sekolah dia tidak memiliki pilihan lain selain tetap bekerja bagaimanapun keadaannya.
Begitu Jelena membuang sampah keluar, lengan Jelena di tahan oleh seseorang membuat Jelena tersentak dan mau tidak mau Jelena harus menatap orang itu.
" Kau yang namanya Jelena? "
Jelena terdiam sebentar, menatap benar-benar wajah pria yang menahan lengannya. Lalu menarik lengangnya.
" Aku tidak akan menjawab. " Ucap Jelena membuat pria yang tak lain adalah Ken kembali menahan lengan Jelena tapi tak menekannya sehingga Jelena tidak merasa kesakitan.
" Tolong beri tahu apa benar anda Jelena atau bukan, ini sangat penting. "
Victor yang sudah akan berangkat untuk syuting tidak sengaja melihat Jelena dan pria itu.
__ADS_1
Bersambung.