Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 99 : Malam Pertama


__ADS_3

Victor tersenyum lebar karena pada akhirnya dia dan Jelena menikah. Hari ini adalah hari dimana pernikahan Jelena dan Victor di gelar, dan ini adalah pernikahan yang sangat megah dan melelahkan sekali.


Entah sudah berapa banyak tamu undangan yang datang, empat puluh persen bahkan adalah orang asing. Lima jam Jelena habiskan dengan penuh pengorbanan karena harus menggunakan heels yang begitu tidak nyaman, bahkan dia juga sudah berganti pakaian pengantin beberapa kali sampai kepalanya benar-benar pusing sekali.


"Bertahanlah sayang, tamu undangan sudah mulai meninggalkan tempat kok." Ujar Victor yang sejak tadi menggenggam erat tangan Jelena.


Jelena tersenyum tipis, sial! Panggilan sayang dari Victor benar-benar membuat dadanya berdebar kencang. Jujur saja dia sudah merasa lelah dan hampir menyerah tadi, tapi syukurlah mendengar di panggil sayang Jelena sedikit kehilangan rasa bosan yang sejak tadi dia rasakan.


Setelah upacara pernikahan selesai.


"Kalian bersenang-senang lah di sini, Mira biar Ibu dan Ayah yang jaga ya?" Pinta Ibunya Victor, langsung mendapat anggukan setuju dari Victor. Yah, mohon maklumi Ayah mu yang sangat mesum itu, Mira. Kali ini dia benar-benar memilih meninggalkan mu demi bisa berduaan dengan Ibumu.


Jelena sebenarnya ingin mencegah, dia sudah mengulurkan tangannya, bibirnya sudah akan tergerak untuk mengatakan jangan, dan biarkan Mira tidur dengannya. Tapi secepat itu Victor menghentikan tangan Jelena, melambaikan tangan agar segera pergi semua orang dan dia bisa segera melakukan apa yang ingin dia lakukan bersama Jelena.


"Victor, tapi-"


Victor meletakkan Ibu jarinya di bibir Jelena agar Jelena tak melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Ini adalah malam pertama mereka, Victor benar-benar ingin menghabiskan malam bersama Jelena seperti kebanyakan pasangan menikah lainnya. Walaupun memang bukan yang pertama kali untuk mereka, tapi tentu saja memilki sensasi yang berbeda. Sekarang mereka sudah tidak perlu melakukan ehem dengan terburu-buru, juga diam-diam seperti sebelumnya. Mereka sudah bebas, tida perduli kapan akan melakukannya sudah tidak akan ada yang memiliki hal untuk mencegahnya.


Setelah semua orang pergi, segera Victor membawa Jelena untuk masuk ke dalam kamar. Ah, dia melupakan sesuatu yaitu, dia harus mengangkat tubuh Jelena ke atas tempat tidur seperti kebanyakan di drama dan cerita romantis kan? Victor segara mengambil posisi, mengangkat tubuh Jelena tidak perduli jika Jelena menolak.


"Victor, tunggu! Jangan begini!"


Bruk!


"Kita belum makan malam, Victor!" Jelena mencoba mencegah karena dia tahu benar bagaimana Victor kalau sudah melakukan itu.


"Aku sedang bersiap untuk menyantap makan malam ku, kau juga sudah boleh bersiap."

__ADS_1


Tak menunggu Jelena mengatakan apapun untuk menjawab, Victor langsung saja menyatukan bibirnya dengan bibir Jelena, menyesap cepat dan semangat membuat Jelena yang awalnya menolak kini mulai terbuai dengan apa yang sedang mereka lakukan.


Victor, pria itu benar-benar tak melewatkan satupun bagian tubuh Jelena, dia menjamah dengan brutal tapi tak menyakiti Jelena sama sekali. Rasanya malam itu benar-benar seperti berada di tengah-tengah taman dengan suhu yang begitu panas. Dua tubuh yang kini menjadi satu, memeluk dan menyalurkan rasa lewat suara lenguhan dan ciuman yang tak berhenti, sentuhan demi sentuhan menarik keduanya untuk semakin larut dan masuk ke dalam indahnya perasan itu.


Mungkin perasaan memburu yang di rasakan Victor seperti perasaan dahaga yang kini telah mendapatkan penawarnya. Jelena, dia benar-benar menentukan kesan tak biasa di dalam hidupnya. Tak sekalipun pernah terpikirkan jika pada akhirnya dia akan jatuh cinta setelah begitu banyak kesalahpahaman, kesakitan yang dia berikan kepada Jelena, adanya Mira, dan semua yang terjadi membawa hai Victor untuk begitu mencintai sosok cantik yang kini begitu memenuhi hatinya.


Jelena, wanita itu dulu juga sama sekali tak pernah memikirkan bahwa pada akhirnya dia akan di cintai juga mencintai pria yang hanya bisa dia tatapan dengan leluasa melalui televisi saja. Sosok itu kini berada di atas tubuhnya, menatap penuh cinta sembari menahan rasa indah dengan wajahnya yang memerah dan basah karena keringat.


"Aku sangat mencintaimu, Je."


Jelena menatap Victor yang terus menatapnya meski sama sekali tak menghentikan apa yang tengah dia lakukan. Entah ini konyol atau tidak, tapi menyatakan perasaan cinta saat sedang melakukan itu apakah biasa bagi pasangan lain? Tapi tetap saja, Jelena benar-benar berbagai mendengarnya.


"Aku, aku juga."


"Juga mencintaimu."


Beberapa saat kemudian.


Sudah satu jam mereka berbaring dengan saling memeluk setelah lelah dengan kegiatan panas mereka berdua.


"Victor, singkirkan tanganmu!" Kesal Jelena saat Victor mulai terus menyentuh bagian bawahnya, dan itu benar-benar mengganggu istirahat nya.


Victor tak menjawab ucapan Jelena, tapi dia masih terus menyentuh tanpa perduli.


"Victor!"


Victor menghela nafasnya, menatap Jelena dan tersenyum membuat Jelena mengeryit karena tak mampu mengartikan apa maksud senyum yang di perlihatkan Victor itu.

__ADS_1


"Sebenarnya aku lelah, tapi rasanya aku tidak ingin berhenti, jadi bagiamana ya?" Ujar Victor membuat Jelena kehilangan kata-kata. Tidak, dia benar-benar ingin menolak karena dia juga sangat kelelahan. Belum lagi saat mengingat bagiamana Victor memperlakukan tubuhnya dengan liar, Jelena benar-benar tidak bisa menahan perasaan malu itu. Gila, Victor benar-benar lihai sekali menggunakan bibit dan lidahnya untuk menyentuh di manapun sampai Jelena lupa rasa malu saat sedang melakukannya.


"Ayolah sayang, aku benar-benar tidak akan menyusahkan mu, kau cukup diam saja dan berbaring dengan nyaman. Aku akan bergerak sendirian, oke?"


Jelena menelan salivanya sendiri, sialan! Sejak tadi sebenarnya Jelena juga memang hanya diam, Victor sendiri yang bergerak terus tanpa henti kan?


Di sisi lain.


"Ibu, Ayah, bolehkah aku tahu kemana kedua orang tuaku sekarang?" Tanya Jemima kepada Ibu Terra yang kini sedang duduk di ruang keluarga bersama suaminya karena belum bisa tidur.


Ibu Terra dan Suaminya saling menatap sebelum memutuskan untuk menjawab pertanyaan Jemima.


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba menanyakan keberadaan mereka?" Tanya Ayah.


Jemima terdiam sebentar.


"Aku ingin menemui mereka, ada yang ingin aku bicarakan, boleh kah?"


"Tentu saja, bagaimanapun mereka memang orang tuamu." Ujar Ayah.


"Jemima, Ayah dan Ibu tidak akan melarang kau bertemu dengan mereka. Tapi tolong jangan begitu menyalahkan semuanya, kami menahan mu karena kami tahu jika kami menyerahkan mu kepada mereka, kau hanya akan merasakan penderitaan, Jemima."


Jemima tersenyum.


"Ibu, Ayah, aku tentu saja tahu. Walaupun aku bukan anak kalian, tapi kalian benar-benar tetap menyayangiku tentu saja aku adalah manusia yang paling beruntung."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2