
"Kembalilah saja dulu, Victor. Kau juga memiliki banyak pekerjaan jangan khawatirkan Mira, dia pasti akan baik-baik saja, toh ada kak Ken juga yang akan membantu menjaga Mira beberapa hari ini kan?"
Victor membuang nafasnya, tersenyum kelu sembari menatap Jelena.
"Itu yang aku takutkan, aku takut putriku bahkan lebih nyaman dengan Ken, dan menganggap Ken adalah Ayahnya. Aku takut putriku baik-baik saja tanpa ku, tapi dia akan menangis saat Ken akan pergi. Mungkin ini biasa saja untukmu, tapi untukku, melihat putriku lebih dekat dengan Ken adalah hal yang paling menyakitkan untukku."
Jelena terdiam, padahal tadinya dia ingin mengatakan kalau Victor terlalu kekanakan. Tapi mendengarkan alasan Victor, Jelena cukup sadar bahwa dia juga kurang mengerti perasaan Victor selama ini.
"Selama ini aku hanya diam saja, aku pikir tidak masalah asalkan kau dan Mira bahagia. Tapi, sifat egois di dalam diriku selalu muncul, membuatku tidak ingin mengerti keadaan lagi, tidak ingin mengalah lagi. Aku menginginkan mu, menginginkan Mira, menginginkan hidup bersama kalian semua dengan bahagia." Victor mengusap wajahnya dengan kasar.
"Maaf, aku terlalu banyak bicara, melantur ku terlalu jauh. Maaf......"
Jelena terdiam, sebenarnya dia tidak berniat mengatakan kalimat yang membuat Victor merasa di usir. Dia juga tidak berniat menggantikan posisi Victor dengan Ken.
"Aku akan mengemas pakaian ku, besok pagi-pagi aku akan berangkat." Ucap Victor seraya bangkit dari duduknya. Sudahlah, bagaimanapun dia tidak bisa memaksakan kehendak, kalaupun memang benar hati Jelena tidak mungkin untuk membalas perasaan nya, maka dia bisa apa? Ken juga pria yang baik, setidaknya Victor bisa sedikit lega karena Jelena tidak bertemu dengan Victor versi lama yang hanya tahu bagaimana memberikan rasa sakit untuk Jelena saja.
Greb!
"Tunggu!" Jelena mencengkram kain baju yang di gunakan Victor membuat Victor tak bisa melanjutkan langkah kakinya. Mendengar Jelena memintanya untuk menunggu, Victor dengan segera berbalik menatap Jelena dengan hati yang mencoba untuk lapang dada. Mungkin Jelena ingin mengatakan yang sebenarnya kalau dia juga ingin mencoba untuk menjalin hubungan dengan Ken, sedangkan dia ingin hubungannya bersama Victor tetap baik demi anak mereka.
"Aku tidak pernah ingin menggantikan posisimu dengan siapapun. Kau adalah Ayahnya Mira, selamanya tidak akan pernah mungkin bisa di ubah. Ken adalah bagian dari keluarga, tentu saja wajar jika mereka dekat bukan?"
__ADS_1
Victor memaksakan senyumnya, menatap Jelena dan mengangguk paham.
Jelena menatap Victor sebentar lalu segera membuang tatapannya karena dia merasa gugup saat mata mereka bertemu lebih dari beberapa detik. Jelena menelan salivanya sebelum dia mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Aku bukan ingin mengusir mu, sungguh! Aku hanya merasa akan lebih baik kalau kalian tidak terus bertengkar. Aku minta maaf kalau ucapanku membuatmu berpikir yang tidak-tidak, aku tidak bermaksud seperti itu. Jangan pergi kalau alasanmu pergi adalah karena kau kesal, kau bisa pergi saat suasana hati mu baik."
Victor terdiam menatap Jelena, entah bagaimana maksud Jelena yang sebenarnya tapi Victor benar-benar merasa berdebar sekarang. Wajah Jelena yang mencoba menghindari kontak mata langsung dengannya, ucapannya yang terdengar gugup, mungkinkah hanya perasaan Victor saja?
"Jelena?"
"Hem?"
Jelena menatap Victor yang memanggilnya, dan kini justru terdiam sembari menatap kedua bola matanya dengan begitu dalam hingga Jelena tidak paham sama sekali apa yang sebenarnya sedang di pikirkan oleh Victor.
Jelena mencoba untuk mengindari ucapan Victor, tapi Victor justru menuntutnya dengan tatapan matanya.
"Aku, aku tidak tahu."
Victor menghela nafas, dia memaksakan senyumnya karena sepertinya dia masih tidak bisa dan tidak boleh terlalu banyak berkhayal untuk bisa hidup bersama dengan Jelena dah Mira sebagai keluarga dalam atau catatan negara yang sah.
"Tidak apa-apa, aku memang seharusnya sadar diri bahwa selama ini kesan ku memang tidak baik. Aku seharusnya lebih sadar diri dan tidak boleh banyak berharap hingga tanpa sadar aku jadi memaksa secara tidak langsung. Apapun yang terjadi, aku akan berusaha yang terbaik, menjadi lebih baik setiap harinya setidaknya agar Mira tidak malu memiliki Ayah seperti ku."
__ADS_1
Jelena terdiam sebentar, haruskah dia mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan? Memang benar bayangan rasa sakit di masa lalu masih bisa Jelena ingat dengan jelas, tapi sampai kapan dia akan terus berpatokan dengan luka masa lalu? Bukankah yang paling penting sekarang adalah bagaimana Victor di masa kini, dan di masa depan? Tidak ada orang yang buruk selamanya, begitu juga dengan orang baik yang pasti akan memiliki satu momen, sisi tidak baiknya juga.
"Sejak kapan kau jadi begitu baik? Kau bisa terus memaksa kalau kau mau bukan?" Setelah mengatakan itu, Jelena mencoba untuk menjauhi Victor, tapi sayang sekali Victor menahan lengan Jelena membuat dia tidak bisa beranjak kemana pun.
"Ucapan mu barusan, bolehkah aku artikan kalau kau tidak masalah saat aku memaksa?"
Jelena menepis tangan Victor dengan mimik wajahnya yang terlihat gugup.
"Ka kapan aku bilang begitu?!" Jawab Jelena yang tanpa sadar pipinya kini terlihat merona.
Menyadari akan reaksi Jelena, Victor benar-benar tidak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum, sungguh dia benar-benar bahagia, bahagia sekali sampai dia jadi lupa untuk melihat di sisi lain di mana Ken yang tengah menggendong Mira mendengarkan dan melihat mereka berdua.
"Jelena, kalau aku benar-benar boleh memaksa, maka mulai dari hari ini kau hanya boleh dekat dengan satu pria saja yaitu, aku!"
Jelena mengigit bibir bawahnya mencoba untuk menahan bibirnya yang ingin tersenyum bahagia.
Merasa tidak puas hanya bisa melihat wajah merona Jelena saja, dengan segera Victor meraih tangan Jelena, menariknya dan memeluknya dengan erat.
"Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" Ucap Jelena yang terdengar kesal, tapi sayangnya dia tidak melakukan apapun untuk menolak selain dari mulutnya yang bicara sehingga membuat Victor tidak merasa di tolak dan semakin mengeratkan pelukannya.
Dari jauh Ken hanya bisa membuang nafas, dan tersenyum meski itu benar-benar terpaksa. Walaupun memang sakit sekali harus melihat Jelena memilih Victor, tapi dia juga tidak berhak untuk memaksa perasaan Jelena. Di sisi lain, orang tua Jelena juga meminta Ken untuk menikahi Jemima yang kini sedang menjalani serangkaian pengobatan.
__ADS_1
Sejak kecil Jemima selalu memimpikan untuk menjadi putri raja, dia juga mengatakan ingin menjadi pengantin paling cantik saat dia menikah nanti. Tapi keadaan Jemima sekarang benar-benar sangat berbeda dari sebelumnya, tubuhnya kurus sekali, kepalanya polos tak memiliki rambut, bola matanya yang cekung, dia juga terlihat pucat sepanjang waktu.
Bersambung.