
Setelah kepergian Ken, Victor benar-benar terus melihat ke rumah Jelena, dan begitu mulai malam, Victor akhirnya memutuskan untuk tidur tepat di sofa sebelah jendela. Kenapa? Itu karena dia ingin melihat Jelena kalau saja nanti Jelena keluar rumah, dan dia juga berharap bisa menjaga Jelena tanpa sepengetahuan Jelena.
Tadinya Victor berniat hanya akan berada di sana satu Minggu saja, tapi melihat keadaan sekarang, Victor sepertinya ingin berada di sana lebih lama sampai Jelena benar-benar ada yang menjaga.
Pagi harinya.
Victor mulai terbangun, lebih pagi dari jam bangun pagi biasanya. Alasannya adalah karena dia tidak begitu nyaman tidur di sofa, badannya sakit bahkan hampir seluruh tubuhnya. Namun hal itu benar-benar menjadi sebuah keberuntungan bagi Victor karena tak lama dia terbangun, Jelena keluar dari rumah. bersiap ingin menjalankan kakinya dengan tujuan agar dia di permudah atau lancar saat melahirkan nanti.
Bergegas Victor meraih kaca mata hitamnya, lalu menggunakan topi hitam serta masker penutup mulut berwana hitam. Tampilan seperti jelas akan mengundang tatapan orang lain nanti, tapi ya Victor merasa lebih baik seperti itu asalkan Jelena tidak mengenalinya.
Pelan Victor mengikuti langkah kaki Karena yang berjalan dengan santai sembari mengusap perutnya dengan bahagia. Memang tidak tahu bagaimana wajah Jelena sekarang, tapi Victor yang berada di balik punggung Jelena yakin benar bahwa saya itu Jelena benar-benar merasa begitu bahagia.
Cukup jauh Jelena berjalan, Victor juga masih setia berjalan di belakang Jelena sembari terus menatap punggung Jelena. Merasa cukup lelah, Jelena akhirnya memutuskan untuk berhenti sejenak, lalu duduk di kursi panjang yang tersedia di taman kota. Jelena kembali tersenyum melihat perutnya yang begitu jelas berbentuk saat dia menggunakan pakaian yang cukup membentuk tubuhnya.
" Udaranya segar sekali, kaki ku lelah tapi aku merasa sangat senang. " Gumam Jelena yang tak henti mengusap perutnya dengan lembut.
Saat itu Victor juga berada tak jauh dari Jelena, duduk di bangku yang berjarak sekitar lima meter dari Jelena. Merasa takut jika Jelena menyadari adanya dirinya di sana, Victor mengeluarkan ponselnya, berpura-pura sibuk sehingga saat Jelena menoleh, Jelena gak memilliki kecurigaan apapun.
Hampir lima belas menit Jelena istirahat, akhirnya Jelena kembali menjalankan kakinya untuk melanjutkan olah raga kecilnya itu. Banyak berjalan kaki menjelang melahirkan memang adalah hal yang di anjurkan, tapi Jelena juga tidak boleh mengabaikan kondisinya sehingga harus istirahat saat dia merasa agak lelah.
__ADS_1
Menyadari jika ada yang mengikutinya, Jelena berhenti sebentar untuk menoleh kebelakang, tapi ternyata tidak ada siapapun. Jelena kembali melangkahkan kaki, dan di saat itu pula Victor keluar dari persembunyian, kembali berjalan pekan mengikuti langkah kaki Jelena.
" Aneh, kenapa aku merasa ada yang terus mengikuti ku ya? " Gumam Jelena, kaki kembali berhenti untuk menoleh namun lagi-lagi tak ada orang di belakangnya membuat Jelena keheranan sendiri dengan perasaan was-was yang dia rasakan.
" Perempuan ini, usianya masih bocah kenapa dia sangat sensitif? " Gumam Vuctur pelan lalu sembari keluar dari persembunyian untuk mengikuti Jelena lagi.
Di sisi lain.
Ken mengeryitkan dahinya melihat adanya hal tidak beres. Dia baru saja sampai, dan langsung menyadari jika sistem internet, di kantor milik kedua orang tua jelena telah di retas sekitar dua jam. Untungnya semua perangkat yang tersedia sudah di lindungi dengan lapisan kunci sandi.
" Siapa yang begitu hebat sudah masuk ke jaringan perusahaan selama ini? Ck! Sayang sekali masih belum bisa membobol dan mendapatkan apa yang di inginkan. '' Gumam Ken lalu tersenyum puas.
" Siapa orang yang begitu berani melakukan ini? " Tanya Ayahnya Jelena setelah menghela nafas lega karena semua rahasia perusahaan dalam keadaan aman. Tapi biarpun aman untuk sekarang, bukan berarti mereka tidak akan mencoba lagi dan jelas perusahaan akan sangat rugi, dan bisa jadi hancur berkeping-keping di buatnya.
Ken membuang nafasnya, mengeraskan rahangnya karena dia yakin benar siapa yang melakukan itu.
" Keluarga Horison. Kekuatan kecerdikan, juga keberanian sejauh ini tentu saja adalah keluarga Horison. Walaupun mereka menyembunyikan identitas saat menyadap sistem kemanan perusahaan, tapi yakin seratus persen bahwa yang saya katakan adalah benar. " Ujar Ken yang segara mendapatkan anggukan setuju dari Ayahnya Jelena.
" Mereka pikir semua orang bisa mereka tekan dengan mudah? Mereka begitu hobi merendahkan orang lain hanya karena mereka banyak di agungkan oleh penjilat. Aku benar-benar merasa tidak terima, putriku di lecehkan hingga hamil, di rampas Mada depannya, kebahagiannya, usinya yang baru sembilan belas tahun harus menjalani kehamilan dan menanggung beban menjadi Ibu. Sudah begitu mereka menekan putriku, aku tidak bisa menerima itu. Sial, setiap kali mengingat itu aku benar-benar merasa ingin melakukan hal kriminal. " Ayahnya Jelena mengendurkan dasinya agar nafasnya bisa sedikit lega karena mengingat apa yang di lakukan keluarga Horison, atau keluarga Victor.
__ADS_1
" Tuan, jadi menurut Tuan apakah kita hanya akan diam menunggu mereka bergerak lebih? Atau nanti kita hanya perlu menangkal setiap mereka menyerang? "
Ayahnya Jelena memasang wajah dingin, dia adalah seorang Ayah yang kehilangan sembilan belas tahun kesempatan untuk membesarkan anak kandungnya, menentukan cinta dan kasih sayang yang seharusnya, dia tentu tidak akan bisa menerima kesakitan demi kesakitan yang akan datang kepada putrinya. Sudah cukup mereka melakukan itu sebelum Jelena di temukan, sekarang mana mungkin dia hanya akan diam mengalah begitu saja?
" Entah akan kehabisan banyak sumberdaya atau apapun, kali ini aku tidak akan membiarkan dia melakukan sesuka hatinya. " Ayahnya Jelena menatap Ken dengan tatapan yang terlihat begitu serius.
" Ken, menurut mu apakah kita bahkan tidak mampu memberikan pukulan untuk membuatnya berhenti menginjak dan bertindak sesuka hati? "
Ken tersenyum tipis.
" Bukankah kita memiliki kemampuan yang tidak kalah? Asalkan Tuan memberikan perintah, maka kami akan bertindak dengan cepat, mengerahkan segala kemampuan untuk bisa memegang erat senjata kita untuk terus memberikan serangan. "
Ayahnya Jelena tersenyum tipis.
" Kau tidak membutuhkan izin dariku untuk melakukan itu. Aku juga merasa pada akhirnya dia tidak akan bisa bertindak sesuka hatinya. Bagiamana dengan surat perjanjian yang mengikat Jelena? "
" Tidak masalah, hanya dengan membuktikan betapa terpaksa Jelena, di tambah tekanan dari orang tua yang selama ini mengaku sebagai orang tua Jelena, di tambah kasus penipuan di mana Jelena di tukar demi keuntungan pihak tertentu. Semua akan berakhir dengan menguntungkan kita. Pernikahan antara Jelena dan juga Victor tidak terdaftar dalam catatan sipil, saksi dari pihak luar juga tidak ada, jadi mudah untuk mengakhiri hubungan pernikahan di antara mereka. "
Bersambung.
__ADS_1