Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 47 : Rindu Yang Terabaikan


__ADS_3

Ibu Terra mengantar Jelena untuk menuju kamarnya, kamar yang sudah di siapkan sebelum Jelena di bawa ke rumah itu. Satu hari sebelum Ibu Terra membawa Jelena, dia sudah meminta semua orang untuk menyiapkan kamar, menatanya dengan sangat baik, kasur dan apapun yang berada di dalam sana memiliki kualitas yang sangat baik karena harapannya adalah, dia ingin Jelena nyama, apalagi saat ini Jelena kan tengah mengandung.


" Sayang, nanti kalau butuh apapun bisa datang saja ke kamar Ibu ya? Kamar Ibu ada di sebelah kamar ini, dan kamar Tomy ada di ujung sebelum kamar Jemima. "


Jelena memaksakan senyumnya, lalu mengangguk setuju.


Setelah Ibunya keluar dari kamarnya, Jelena duduk di pinggiran tempat tidur, terdiam sebentar memikirkan apakah akan baik-baik saja dia berada di tempat itu? Nyaman, benar-benar nyaman kasur yang ia duduki, dan Jelena juga bisa melihat perabotan di dalam kamarnya sangat bagus, rapih, membuatnya teringat dengan kamar Victor.


Jelena membuang nafasnya, meskipun saat ini dia merasa dia sudah bis terbebas dari Victor, tapi kenapa sepertinya dia akan mendapatkan masalah baru? Jemima yang terlihat tidak menyukainya, di tambah Tomy yang juga gak menyukainya, bukankah akan ada masalah dengan itu? Bagiamanapun Jelena juga tidak bisa menyalahkan salah satu dari mereka, Jemima pasti sangat terkejut, masih tida bisa menerima kenyataan ini, sedangkan Tomy yang baru berusia sepuluh tahun pasti belum paham benar apa artinya kakak kandung yang selama ini tidak pernah ada di hidupnya bukan? Jemima pasti adalah gadis yang sangat baik hingga Tomy begitu menyayangi dan membelanya bukan?


Perlahan Jelena membaringkan tubuhnya, miring ke sebelah kiri. Satu jam berlalu, dan Jelena benar-benar tidak merasa mengantuk sama sekali. Entah ini karena masih pertama kali sehingga dia membutuhkan waktu untuk beradaptasi atau bagaimana, tapi Jelena sekarang benar-benar merindukan Popi, juga merindukan Bibi dapur. Bagaimana keadaan mereka, bahkan sialnya dia juga merindukan tempat tidur yang biasa dia gunakan.


Di sisi lain.


" Tuan, jus buahnya sedang di buat, apa ada lagi yang Tuan inginkan? " Tanya Popi sedikit takut karena ekspresi Victor memang benar-benar tidak baik beberapa hari ini, tepatnya setelah Jelena tidak pulang ke rumah. Jujur saja dia juga ingin tahu kemana Jelena pergi karena sampai sekarang Jelena juga tidak bisa di hubungi.


" Tidak usah, jus saja sudah cukup. " Victor sebenarnya benar-benar tidak menyukai masakan yang di buatkan Popi, tapi kalau jus pasti tidak akan berpengaruh sekali bukan?

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, jus kiwi yang di inginkan Victor sudah selesai di buat, juga sudah di sajikan untuknya. Sembari memainkan ponselnya Victor mencoba untuk meminum jusnya, tapi sayangnya baru satu kali minum Victor langsung tidak menginginkan jus itu lagi. Terlalu manis, juga terlaku encer, dia benar-benar tidak menyukai jus buatan Popi.


'' Bibi dapur masih sakit? " Tanya Victor kepada Popi yang saat itu sedang membersihkan bekas membuat jus.


" Sudah baikan, besok mungkin sudah bisa bekerja lagi, Tuan. "


Victor membuang nafanya, sial! Dia benar-benar kesal karena makan juga jadi tidak enak, do tambah lagi mengingat Jelena yang lebih memilih untuk tinggal dengan pria bernama Ken, pria bajingan yang tiba-tiba saja datang mengaku sebagai kekasihnya Jelena, bahkan mengaku sebagai Ayah dari bayinya Jelena. Tidak, Victor tidak bisa membiarkan hal ini berlangsung lama.


Sebuah ponsel yang kini masih ada di tangannya segera dia gunakan untuk menghubungi Juno, meminta Juno untuk mencari tahu tentang Ken, dan mencari tahu apakah benar ada hubungan yang tidak biasa antara Jelena dan juga Ken. Tidak lupa Victor juga meminta Juno untuk mencaritahu siapa Ken yang sebenarnya.


" Aku benar-benar tidak bisa percaya kalau dia semurahan itu. " Gumam Victor membayangkan wajah Jelena. Sudah jangan tanya kenapa dia begitu mengingat wajah Jelena dan terkesan tidak menolaknya, itu semua karena Victor sendiri sudah muak terus mengelak saya memikirkan Jelena, jadi sekarang dia sudah tidak ingin melakukan hal percuma itu toh nyatanya dia masih akan terus mengingat Jelena.


Popi membuatkan matanya sendiri karena pemikirannya itu. Sungguh dia benar-benar takut kalau sampai apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi. Bagaimana jika Jelena sekarang dalam bahaya, atau malah bisa jadi kalau sekarang Jelena sudah tidak bernyawa? Victor selalu memasang wajah tidak suka, dingin, kepada semua orang, terutama kepada Jelena yang di anggap telah mengubah hidupnya, dan bahkan tiba-tiba saja akan melahirkan anaknya.


Apakah Jelena di kubur di tempat yang tersembunyi? Apakah Jelena sengaja di habisi untuk menyingkirkan masalah Victor? Pasti Victor melakukannya karena tidak ingin anak, tidak ingin terikat hubungan pernikahan, tidak ingin hubungannya dengan Katherine terganggu kan?


Sekarang Popi benar-benar gemetaran membayangkan jika saja apa yang dia pikirkan terjadi. Tidak ada Jelena si cantik yang polos, baik hati, tapi dia juga bodoh.

__ADS_1


" Apa yang kau pikirkan dengan ekspresi seperti itu? " Tanya Victor yang tidak sengaja melihat ke arah Popi dan kebingungan dengan wajahnya yang nampak sangat aneh seperti sedang menonton film horor saja.


" Ti tidak, tidak ada, Tuan Victor. " Popi mencoba untuk memasang wajah biasa saja, dia juga mencoba untuk sedikit tersenyum agar apa yang dia pikirkan tak dapat di baca oleh Victor.


Victor membuang nafanya, sungguh dia tidak perduli juga tidak mau tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Popi sebenarnya.


Karena tak ingin meminum jus kiwi buatan Popi yang sama sekian tidak selera, Victor bangkit dari sana, masuk ke dalam kamar untuk mengambil beberapa barang karena dia juga harus segera menuju ke lokasi syuting, Juno juga akan sampai sekitar sepuluh menit lagi.


Begitu Victor keluar dari rumah, langkah kakinya terhenti melihat Katherine yang sudah menunggunya di sana, bersama dnegan Juno. Yah, tentu saja Juno menjadi alasan Katherine bisa masuk ke rumah.


" Sayang! " Katherine berlari, memeluk Victor dengan erat sembari menangis manja. Sebenarnya Victor benar-benar sedang dalam situasi yang tidak ingin banyak membuang waktu, dia sedang pusing memikirkan masalahnya dengan Jelena, tapi dia juga tidak tega kalau bersikap dingin lagi kepada Katherine setelah beberapa waktu lalu itu.


" Kenapa kau kesini? " Tanya Victor sembari perlahan menjauhkan tubuh Katherine darinya.


" Aku tidak bisa tahan, aku tersiksa dengan perasaan rindu padamu! "


Victor terdiam, dahinya mengeryit memikirkan kata rindu.

__ADS_1


Selama ini kenapa dia tidak merindukan Katherine? Dia justru sibuk memikirkan Jelena hingga lupa dengan Katherine.


Bersambung.


__ADS_2