Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 94 : Cinta Dan Pengorbanan


__ADS_3

Victor tersenyum lebar, dia benar-benar merasa begitu bahagia setelah apa yang ingin dia lakukan sudah dia lakukan. Sekarang siapa memangnya yang berani menghentikan dia dan juga Jelena? Kalau dulu saja hanya selalu dan langsung Jelena hamil, bukan berarti kaki ini Jelena tidak hamil kan? Memang hanya sehari, tapi mereka benar-benar melakukannya beberapa kali di dalam kamar rawat rumah sakit. Gila memang kalau di pikirkan lagi, tapi mau bagaimana ya? Dia juga sudah kehilangan kendali, bahkan sampai tidak begitu perduli saat Jelena mengatakan dia lelah dan takut ada yang masuk ke dalam. Yah, memang sempat ada merasa takut Juno masuk, tapi bukan karena takut Juno melihat apa yang sedang dia lakukan, melainkan dia takut Juno melihat tubuh Jelena yang polos tanpa busana kala itu.


Berbeda dengan Victor, Jelena benar-benar tidak bisa tersenyum sama sekali saat seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit dan pegal. Oke lah dia memang tidak ingin bohong, rasanya memang enak, tapi setelah itu berakhir tubuhnya benar-benar seperti remuk terlindas truk tronton. Pinggulnya pegal sekali, di tambah sekarang kedua kakinya gemetar hebat, menapakkan kaki saja seperti mengambang rasanya.


"Baiklah, jadi kita perlu bergegas menentukan tanggal pernikahan kan?" Tanya Victor seraya menatap Jelena dengan senyum meski senyum manis di bibirnya tak mendapatkan balasan sama sekali.


Jelena menghela nafas, padahal beberapa saat sebelum Victor menyerangnya habis-habisan dia sudah memiliki tekad untuk tidak menunda lagi, di tambah Mira juga sudah semakin sering menanyakan keberadaan Ayahnya. Tapi kalau mengingat bagiamana Victor membuat tubuhnya sakit, dia jadi ragu-ragu karena itu.


"Kenapa menghela nafas seperti itu? Kalau kau menunda lagi, masa iya nanti adiknya Mira juga akan lahir di luar hubungan pernikahan? Kau tidak kasihan, Hem?"


Jelena kembali mengenal nafas.


"Jadi, apa kau tidak kasihan dengan tubuhku yang seperti di telindas truk tronton?"


Victor menahan tawanya, ah! kenapa dia merasa begitu hebat terhadap Jelena? Yah, sebelumnya dengan beberapa mantan kekasih dia hanya cukup modal memiliki minat maka dia hanya butuh diam dan wanita cantik alias mantan kekasihnya bergerak di atas tubuhnya dengan berbagai macam gaya.


Jelena, dia benar-benar begitu polos sama sekali tak memiliki pengalaman, dia bahkan tidak bisa berciuman dengan benar kalau bukan karena Victor yang mengajarinya. Entah ini di sebut keberuntungan atau keajaiban karena bisa memiliki Jelena sebagai kekasih juga Ibu dari anaknya. Tapi sungguh untung saja dia Jelena, kalau wanita lain Victor benar-benar tidak yakin bisa berubah seperti ini atau tidak.


"Kasihan, tapi aku benar-benar sulit menahan diri. Kau tahu kan beberapa tahun ini aku puasa dari ehem ehem? Kalau kita menikah nanti, aku janji tidak akan sebuas itu."

__ADS_1


Jelena terdiam sebentar. Yah, bagaimana mungkin dia akan mundur? Sekarang dia juga tidak memiliki alasan lagi walau memang dia agar waspada dengan bagaimana Victor akan menyerangnya nanti saat mereka sudah menikah.


"Baiklah, tapi aku ingin kita membuat surat perjanjian, apa kau tidak masalah?" Tanya Jelena.


Victor mengangguk dengan cepat, entah seperti apa isi perjanjian yang akan di buat Jelena nanti, tapi sungguh Victor sama sekali tidak perduli dengan itu.


"Akan aku beritahu intinya padamu, pertama aku tidak ingin menerima kekerasan dalam bentuk fisik maupun verbal. Kedua, aku tidak akan menerima jika adanya pihak ketiga, kalau itu terjadi maka secara otomatis perceraian adalah ujungnya. Ketiga, anak akan ada padaku jika benar kita berpisah. Ke empat, kau tidak di perbolehkan memerankan tokoh yang harus melakukan banyak adegan vulgar jika kau masih ingin bekerja di bidang akting. Ke lima, tidak ada yang boleh menceritakan masalah rumah tangga kepada pihak lain meskipun juga terhadap keluarga."


Victor mengubah nafasnya.


"Sebenarnya aku setuju dengan semua persyaratan itu, hanya saja aku agak risih karena belum saja menikah kita sudah membahas orang ketiga, bercerai, ah! Apa kau tidak merasa ngeri?"


Victor tersenyum tipis, anak-anak kita? Ya Tuhan, kenapa ucapan itu benar-benar begtu indah dan menyenangkan sekali? Padahal dulu dia sama sekali tidak ingin memiliki anak, tapi memikirkan akan memiliki banyak anak ternyata benar-benar membuat Victor begitu bahagia dan sulit menahan bibirnya yang selalu ingin tersenyum.


"Jadi, karena semua sudah jelas bagaimana kalau kita temui saja kedua orang tuamu untuk membahas pernikahan? Aku harap bisa segera menikah agar kita tidak perlu tinggal terpisah lagi."


Jelena mengeryitkan dahi mendengar apa yang di katakan Victor tadi. Tinggal terpisah? Yah, dia lupa akan hal itu, dia lupa kalau selama ini mereka kan tinggal di negara yang berbeda, dan mereka juga memiliki bidang pekerjaan yang berbeda. Victor menjadi aktor sedangkan Jelena menjadi pemilik restauran di luar negeri sana.


"Victor, aku benar-benar lupa kalau kita memiliki pekerjaan di negara yang berbeda. Aku, sepertinya lupa kalau aku dan kau terpisah negara. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan, bisnis yang sudah aku rintis dari nol. Kau, juga tidak mungkin meninggalkan pekerjaan mu di negara ini kan?"

__ADS_1


Victor terdiam, benar sekali! Dia lupa akan hal itu, dia lupa kalau dia memiliki banyak kontrak pekerjaan sampai tahun depan di negara tempat dia tinggal. Dia jelas tidak akan bisa bersama Jelena jika harus memenuhi kontrak kerjanya bukan?


"Victor, lebih baik kita pikirkan lagi soal kita menikah. Aku rasa akan sulit bagi kita karena pernikahan kita harus mengorbankan salah satu dari kita. Aku juga akan memikirkan semua ini baik-baik, tapi juga jangan banyak berharap karena aku tidak akan bisa menentukan jaminan kebahagiaan untuk hubungan kita."


Victor masih terdiam.


"Sekarang aku harus segera kembali, aku belum melihat Jemima sejak aku datang."


Victor mengangguk, otaknya benar-benar masih berpikir dengan keras bagaimana dia akan melangkah untuk hubungannya dengan Jelena? Pengorbanan keduanya sangat di butuhkan sekarang, tapi jujur Victor tidak ingin Jelena berkorban karena memiliki restauran adalah impianya seja lama, dan dia juga masih merasa berat jika harus mengakhiri kariernya yang sedang berada di atas sekarang.


"Setelah Jelena pergi kau terlihat sedih ya? Tidak mungkin kau tidak melakukan apapun kan? Aku tidak buta sampai bisa melihat tanda merah di leher Jelena tadi." Ujar Juno yang masuk beberapa saat setelah Jelena pergi.


Victor menghela nafas, mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jun, bagaimana jika sebuah hubungan membutuhkan pengorbanan yang cukup serius?"


Juno membuang nafasnya.


"Simple saja, kira-kira kau akan lebih sedih jika harus berkorban untuk hubungan, ataukah mengakhiri hubungan?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2