
Jelena memandang dinding kosong di kamarnya sembari terus berpikir, bukankah kalau seperti ini artinya dia akan terus berada di tidak yang sama? Situasi sekarang juga tidak mendukung dan tidak membuatnya tenang untuk menjalani kehamilan, jadi bukankah sama saja dengan berada di rumah Victor? Jemima yang membentuk diri menjadi semakin arogan, Tomy yang terus memperlihatkan betapa jauh jarak di antara mereka hingga seolah-olah Jelena tidak akan sanggup untuk menggapainya. Ayahnya yang selalu bingung harus bagiamana karena di lain sisi dia menyayangi Jemima, di sisi lain dia juga tidak mungkin menekan anak kandungnya yang baru saja di temukan.
Seperti berdiri di sisi dia jurang, akan sama sakitnya jika saja jatuh ke salah satu jurang itu, jadi bukankah akan lebih baik jika Jelena mengindari keduanya? Ibu, Ayah, adik, semuanya memang memiliki hubungan erat dengannya, tapi sembilan belas tahun keasingan secara tidak sengaja ini jelas membuat mereka tidak mudah untuk bisa sedekat itu.
Jelena menghela nafas, menyentuh dengan lembut perutnya dan mengusap perlahan. Di dalam perutnya itu ada makhluk kecil yang akan menjadi bayi, dan seorang anak. Dia adalah satu-satunya kerabat, satu-satunya bagian dalam diri dan juga bagian dalam hidup yang sangat jelas. Melihat betapa canggungnya dirinya dan keluarga, Jelena benar-benar akan berusaha dengan sangat keras agar tidak terpisah dengan anaknya apapun yang terjadi.
Sekarang Jelena sudah tahu harus bagiamana, dia sudah mengerti akan melakukan apa meski semu Mada depan di kepalanya. Dia bangkit dari posisinya, meraih ponselnya untuk menghubungi Ken yang kini tengah sibuk dengan pekerjaannya. Dia tengah mengurus segala surat menyurat untuk Jelena, dan dan juga sedang memindahkan beberapa aset keluarga untuk di jadikan milik Jelena sesuai perintah Ibu Terra.
" Ada apa, Nona Jelena? "
Ken terdiam sebentar, tatapannya nampak terkejut tapi dia tidak mengatakan apapun.
" Nona Jelena yakin dengan apa yang di katakan barusan? "
__ADS_1
Setelah mendapatkan jawaban dari Jelena, Ken menjauhkan ponselnya, tentu saja karena Jelena sudah mengakhiri panggilan suara.
Jelena juga melakukan yang sama.
Sudah dua Minggu dia tidak tah menahu tentang Victor, tentang Popi, juga tentang Bibi dapur. Untuk kedua orang itu, Bibi dapur dan Popi, sejujurnya Jelena benar-benar sangat merindukan mereka, dia ingin mengatakan kabar mereka dan memberitahu kabar dirinya agar mereka tidak merasa khawatir. Tapi Jelena yaitu tidak akan kuat, Jelena takut dia justru akan langsung berlari menuju mereka dan memeluk mereka dan pada akhirnya akan membuatnya kembali bertemu dengan Victor. Selama itu pula Jelena tidak menggunakan ponsel lamanya, dan hanya menggunakan ponsel baru yang di belikan Ibunya.
Malam harinya.
" Aku memang anak kandung Ayah dan Ibu, tapi kenyataan ini pasti menyakitkan untuk Jemima bukan? Kalian menyayangi dia juga kan? Dia tersiksa melihat ku karena pasti akan mengingatkan dia bahwa dia bukan anak kandung Ayah dan Ibu, di tambah aku juga ingin mengasah kemampuan ku, aku ingin bisa berdiri di kaki ku sendiri, meskipun jelas itu sulit, tapi tekad ku akan selalu membuatku merasa kuat dan tidak mudah menyerah. "
Ibu Terra menyeka air matanya, benar! Pada awalnya dia memang sangat menyayangi Jemima karena dia pikir Jemima adalah putri kandungnya, dia juga berniat akan tetap merawat Jemima dengan kasih sayang seperti sebelumnya. Tapi saat tahu bagaimana perbuatan kedua orang tua kandung Jemima kepada Jelena, dia benar-benar sangat tidak bisa menerimanya. Seolah ingin melampiaskan kemarahan itu kepada Jemima, tapi dia juga tidak tega karena masih tetap menyayangi dia. Namun ketika harus memilih, tentu dia akan memilih putri kandungnya yang malang itu.
" Apa yang di katakan Jelena ada benarnya, Bu. Biarkan dia pergi untuk tenang, dan biarkan dia menjalani kehamilannya, serta melakukan apa yang ingin dia lakukan. " Ujar Ayahnya Jelena membuat Ibu Terra menatapnya dengan marah. Kenapa suaminya bertahan demikian? Apakah karena dia juga merasa lebih berat untuk Jemima sehingga menyetujui usulan Jelena? Padahal Jelena sudah hidup sulit dan menyedihkan selama ini, kenapa juga harus menyetujui untuk berpisah? Padahal dia ingin memberikan kasih sayang sebanyak apapun agar Jelena merasa lebih baik, dan sakit di masa lalu bisa terasa ringan.
__ADS_1
" Jangan berpikir macam-macam, sungguh aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tahu Jelena adakah anak kandung kita, aku menyayanginya, aku juga ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama dia, tapi kau akan berlebihan memperlakukan Jelena, dan itu akan membuat Jemima tidak terima, pada akhirnya Jemima akan menyakiti Jelena. Kau bis bayangkan apa yang akan terjadi nanti? Aku sungguh tidak sanggup, bagaimanapun mereka berdua adalah keluarga kita, anak-anak kita, jadi keputusan Jelena ada baiknya juga. Bukan untuk Jemima saja, tai juga untuk dirinya sendiri. Tolong mengertilah, biarkan dia memilih jalannya sendiri, memilih apa yang bisa membuatnya merasa lebih baik. Bukankah kita adalah orang tua yang selalu mendukung keputusan anak kita asalkan anak bahagia dan tidak merugikan orang lain? "
Ibu Terra membuang tatapan matanya ke arah lain, tadinya dia ingin marah dan melampiaskan semua itu kepada suaminya, tapi apa yang di katakan suaminya juga masuk akal. Jemima butuh waktu untuk memahami, begitu juga dengan Tomy, sedangkan Jelena butuh waktu untuk terbiasa dengan situasi yang sangat berubah dari sebelumnya ini.
" Aku tidak rela, aku masih ingin bersama putriku, ingin menggantikan waktu yang hilang, tapi aku juga tidak ingin menyiksa batin putriku sendiri. "
Jelana memaksakan senyumnya, andaikan situasinya sedikit lebih baik, mungkin dia juga akan dengan tenang tinggal di rumah orang tuanya. Tapi, untuk apa bertahan kalau sudah jelas suatu hari nanti akan jadi masalah besar yang menyakiti semua orang?
Keputusan Jelena ini bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk Jemima, untuk kedua orang tuanya juga.
" Baiklah, Ibu izinkan kau pergi. Tapi ingat baik-baik, kau wajib memberikan kabar kepada Ibu setiap hari, tidak boleh mengabaikan pesan dari Ibu juga, setiap tiga bulan sekali Ibu akan datang menemuimu, terutama saat kehamilan mu sudah besar nanti, Ibu akan berada dua puluh empat jam bersama dengan mu. "
Bersambung.
__ADS_1