
Photo yang mulai ramai itu begitu banyak, ada yang saat Mira duduk di pundak Victor, lalu Jelena dan Victor saling berpegangan tangan, Victor mencium pipi Jelena, merangkul Jelena, dan mereka benar-benar terlihat bahagia sekali saat itu. Orang yang katanya melihat langsung juga memberikan komentar dan mengatakan bahwa hari itu mereka bertiga seperti sinar yang menyilaukan, mereka sangat romantis dan bahagia, tidak terlihat seperti orang yang tepaksa.
"Wah, komentar begitu banyak semuanya benar-benar mendukung hubungan kita ya?" Ucap Victor kepada Jelena. Sejak pagi Victor sudah datang ke rumah orang tuanya Jelena, alasannya ingin bermain bersama dengan Mira karena dia tidak memiliki kegiatan lagi, yah sekarang dia adalah seorang pengangguran!
Jelena menghela nafas sembari menjauhkan ponselnya.
"Aku benar-benar tidak percaya kalau istriku bisa sehebat ini!" Ucap Victor tersenyum bangga menatap Jelena begitu lekat sampai dia lupa memperhatikan Mira yang sedang sibuk dengan mainnya.
"Aku belum menjadi istrimu!" Jelena menatap Victor sebal, tapi itu justru membuat Victor benar-benar tidak tahan dan langsung saja mendekatkan bibirnya dengan bibir Jelena.
"Ehem! Bawa orang tuamu segera kalau kau sudah tidak tahan." Ucap Ayahnya Jelena yang langsung membuat Victor menjauh dari Jelena dengan kikuk.
Sebenarnya bukan tidak memberitahukan orang tuanya tentang kabar yang begitu bahagia itu, hanya saja orang tua Victor butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang mendesak, dan besok baru dia bisa datang menemui orang tua Jelena langsung tanpa istirahat dari mereka sampai ke bandara nanti.
"Besok mereka akan datang, mereka sudah memesan tiket pesawat jadi Ayah tolong tenang ya? Barusan juga cuma ingin cium Jelena saja kok."
Ayahnya Jelena menatap Victor dengan tatapan tajam membuat Victor benar-benar menyesali apa yang dia katakan barusan. Ah, sungguh beruntung sekali karena dia salah Ayahnya Mira, karena kalau bukan, sudah pasti Victor sudah di tendang sampai ke ujung dunia.
Esok harinya.
"Kami benar-benar bahagia karena pada akhirnya kalian memutuskan untuk menikah. Sebenarnya sejak awal Victor mengatakan jika kalian dalam hubungan pendekatan beberapa tahun lalu, kami sangat senang, tapi tetap saja tidak berani menginginkan lebih karena kami benar-benar ingat bagaimana dan apa saja yang terjadi sebelumnya. Kapanpun acar pernikahan kalian di gelar kami sungguh tidak akan menolak, justru lebih cepat lebih baik." Ujar Ibunya Victor yang dengan jelas menunjukkan betapa dia bahagia dari mimik wajahnya. Di tambah dia juga bahagia sekali bertemu dengan Mira yang sudah hampir dua bulan tidak bertemu karena masalah pekerjaan.
__ADS_1
Ayahnya Helena menghela nafas, sebenarnya dia masih tidak rela ingin menikahkan Jelena dengan pria seperti Victor, tapi melihat bagaimana Jelena menginginkan pernikahan ini, juga melihat Mira yang dekat dengan Ayahnya, di tambah perubahan Victor beberapa tahun ini benar-benar membuatnya tak bisa menolak sama sekali. Walupun memang masih tidak rela, tapi sebagai seorang Ayah dia hanya menginginkan kebahagiaan putrinya, maka dengan segala cinta, doa serta harapan itu seorang Ayah kini harus melepaskan putrinya memilih jalan yang dia inginkan.
"Baiklah, masalah tanggal pernikahan akan lebih baik jika lebih cepat. Bagaimana pun putra kalian sudah seperti kehilangan kendali, aku juga tidak ingin banyak mendebatkan hal itu."
"Baiklah, bagaimana kalau lusa?" Ucap Victor yang pada akhirnya membuat semua mata tertuju padanya dengan begitu tajam. Lusa? Ini adalah pernikahan bukan main rumah-rumahan! Kira-kira seperti itu mungkin yang sedang mereka ucapkan di dalam hati saat menatap Victor tadi.
"Bulan depan saja, mempersiapkan pernikahan tentu saja tidak mudah. Aku ingin pernikahan putriku tidak terkesan buru-buru, dan lagi Jelena masih harus memeriksa restauran di luar negeri dulu kan?" Ujar Ibunya Jelena yang langsung membuat Victor membulatkan matanya tak setuju dengan itu. Dua bulan, ini terlalu lama! Dia dan Jelena beberapa kali melakukan hubungan badan, ini bisa gawat kan?
"Jangan, jangan selama itu, Ibu mertua. Nanti Jelena keburu hamil bagaimana?"
Kembali semua orang menatap Victor dengan tatapan marah, begitu juga dengan Jelena. Padahal dia sudah sejak tadi menahan diri untuk tidak memperlihatkan ekspresi apapun, tapi Victor malah seperti menjelaskan bagaimana kondisi yang sebenarnya.
Phak!
"Dasar memalukan! Kau seharusnya tidak melakukan itu!" Kesal Ayahnya Victor berbisik kesal kepada putranya.
Victor tak mampu menjawab ucapan itu, dia memilih diam dan memutuskan untuk tidak lagi bicara. Sebenarnya memang itu salahnya, sejak di rumah sakit dia benar-benar kesulitan menahan diri karena yang ada di otaknya benar-benar hanya bayangan saat dia dan Jelena melakukan hubungan badan. Setiap kali dia datang dengan alasan untuk menemani Mira, Victor akan mencari kesempatan sebisa mungkin, membuat Jelena tak berdaya sehingga bisa di sebut pula itu adalah pemaksaan.
"Bajingan, aku kesal sekali! Kesal karena tidak memiliki pilihan lain!" Kesal Ayahnya Jelena yang kini terlihat frustasi.
Pada akhirnya pernikahan sepakat akan di gelar satu bulan dari musyawarahkan mereka, dan kini mereka semua sudah mulai sibuk untuk mempersiapkan apa saja yang di butuhkan.
__ADS_1
"Je, Je!" Panggil Jemima lalu dengan cepat berjalan mendekati Jelena yang kala itu tengah berbicara dengan pihak hotel untuk membicarakan soal menu makanan dan juga lainnya.
"Ada apa?" Tanya Jelena.
"Lihat ini!" Jemima memperlihatkan layar ponselnya yang kini menyala. Lagi, berita tentang Jelena kembali ramai di mana kedua orang tua yang dulu membesarkan dengan tidak manusiawi di ungkit. Pecandu narkoba, judi, minuman keras, bahkan mereka berdua juga adalah mantan narapidana.
"Mau bagaimana lagi? Beberapa pihak memang sengaja melakukan ini untuk mempengaruhi ku, dan pernikahan kami. Tidak masalah, toh kenyataannya adalah semua sudah baik-baik saja kan?" Jelena tersenyum kepada Jemima yang terlihat panik.
Jemima memaksakan senyumnya, lalu mengangguk setuju.
Sebenarnya sejahat apa orang tua kandungnya terhadap Jelena? Selama ini dia sengaja tidak mencari tahu karena ingin fokus untuk pengobatan, tapi jika yang di katakan media tentang orang tua kandungnya, maka hidup Jelena pasti begitu menderita sebelumnya bukan?
Jemima mencengkram ponselnya.
"Je, kau tahu di mana mereka berdua sekarang?" Tanya Jemima.
"Ayah dan Ibu yang tahu, mereka tidak juga memberitahu ku karena ingin aku hidup tanpa memikirkan masa lalu."
Jemima terdiam sebentar, menatap Jelena yang sama sekali tak memperlihatkan kemarahan saat membicarakan orang tuanya.
"Je, aku memang tidak tahu Seberapa besar kesalahan yang di lakukan mereka, tapi bagaimanapun darah yang ada di tubuhku mengalir darah mereka berdua, jadi aku mewakili mereka meminta maaf."
__ADS_1
Bersambung.