Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 82 : Debaran Jantung


__ADS_3

"Aku benar-benar menyukaimu, bukan! Bukan suka, tapi aku cinta!" Ucap Victor begitu serius membuat Jelena terdiam karena apa yang di ucapan Victor benar-benar seperti mimpi untuknya.


"A apa?" Jelena terlihat gugup membuat Victor tertawa kecil, dan tentu saja Jelena jadi sebal karena ternyata Victor sedang berakting sekarang.


"Menyebalkan!" Maki Jelena seraya membuang wajahnya, ogah bertatapan dengan jarak yang begitu dekat dengan Victor. Tapi belum sempurna dia menoleh menghindari tatapan Victor, tangan Victor sudah lebih dulu meraih wajah Jelena, membuatnya tak ada pilihan untuk kembali menoleh ke arah yang sama, arah di mana wajah Victor berada di sana, dan tak ada jeda dengan cepat Victor mencium bibir Jelena.


Bukan ciuman panas, hanya bibir yang saling menempel tapi benar-benar membuat jantung Jelena berdetak sangat cepat. Entahlah, Jelena seperti membeku tak bisa bergerak jadi dia tak menolak apa yang di lakukan Victor padanya. Setelah menempel cukup lama bibir mereka berdua, sebentar Victor menjauhkan bibirnya, menatap Jelena dengan dalam mencari tahu apakah dia bisa sedikit lebih jauh dari apa yang dia lakukan sekarang? Sedikit, sungguh hanya sedikit saja.


Tak ada yang di tanyakan Victor dengan menatapnya seperti itu, tentu saja Jelena juga tak mengatakan apapun. Dia juga hanya menatap Victor saja karena matanya seperti tak dapat dia arahkan ke arah lain.


Victor kembali menyatukan bibirnya, hanya saja Jelena benar-benar terkejut saat Victor menggerakkan bibirnya, lidahnya bergerak membasahi bibirnya seperti ingin memasukannya ke dalam mulut. Jelena merasa hal itu aneh, dia mendorong tubuh Victor tapi Victor menahan tangannya sebentar, lalu mengarahkan ke dadanya. Debaran itu, jantung Victor berdegup sangat cepat dan kuat membuat Jelena bisa tahu kalau Victor juga merasakan yang sama dengan yang dia rasakan.


Jelena sudah tak lagi berdaya untuk mengeluarkan tenaganya, debaran jantung Victor yang begitu di rasakan oleh telapak tangannya membuat Jelena terlena, tanpa sadar memejamkan mata dan mulai menikmati apa yang di lakukan Victor padanya. Dia tidak tahu cara membalas ciuman Victor yang begitu membara itu, tapi dia yang memejamkan mata membuat Victor merasa dia tidak di tolak. Yah, dia cukup paham jika Jelena memang tidak memiliki pengalaman dalam hubungan seperti ini, berbeda dengan dirinya yang sudah tidak di ragukan lagi.


Victor dan Jelena kini saling menatap satu sama lain, dahi mereka bersatu sehingga mereka benar-benar intens saling bertatapan dengan segala pemikirannya. Victor yang kini sedang menahan diri sebisa mungkin untuk tidak melakukan apa yang seharusnya tidak dia lakukan kepada Jelena, dia tidak ingin mengingatkan akan kejadian yang pasti menimbulkan trauma untuk Jelena. Hari di mana dia dengan kasar memaksa Jelena, merebut kesuciannya, dan membuat Jelena hamil.

__ADS_1


Jelena, dia hanya bisa diam seolah terbius dengan tatapan Victor. Tatapan itu benar-benar tak pernah Jelena lihat sebelumnya. Dia seperti mengharapkan sesuatu, dia juga terlihat menahan sesuatu yang begitu dia inginkan. Apa? Apakah dia ingin melakukan suatu yang lebih setelah berciuman? Tapi, jika arahnya kesana tentu saja Jelena tidak siap dan itu juga bukan hal yang pantas untuk dia lakukan meskipun mereka memang pernah terikat hubungan pernikahan.


"Kau pasti terkejut, tapi aku benar-benar meminta maaf karena aku tidak bisa menahannya." Ucap Victor seraya menjauhkan wajahnya sebelum dia semakin terbuai dan kehilangan kendali.


Jelena terdiam, sungguh dia tidak tahu harus mengatakan apa. Sejujurnya dia sangat malu sekarang ini, tapi dia juga sedikit merasa kaku karena bayangan di mana hari Victor melecehkannya hingga hamil kembali teringat. Setelah hari itu, Jelena benar-benar hancur, merutuki dirinya sendiri yang bodoh dan tidak bisa menjaga diri, belum lagi setiap kali melihat bekas gigitan merah yang di tinggalkan Victor, dan rasa perih di bagian intinya membuat Jelena tak memiliki keinginan untuk mengulangi kejadian itu lagi.


"Bu.......!"


Mira masuk ke dalam kamar, berlari kecil dengan kakinya yang lucu. Segera Jelena dan Victor bangkit bersamaan, mengulurkan tangan untuk menggendong si pemilik tubuh mungil itu. Benar-benar seperti biasanya, Mira akan tetap berlari menuju Ayahnya meski yang dia panggil adalah Ibunya.


"Kau terus melihatku apa kau terpesona?" Tanya Victor yang menyadari itu sejak tadi. Pengasuh Mira yang melihat itu segera keluar dari sana, dia sadar benar akan bagus jika kedua orang itu semakin dekat bukan?


Jelena segera membuang arah pandangannya.


"Kalaupun benar terpesona, sudah pasti aku akan terpesona dengan Mira, bukan denganmu." Ucap Jelena yang mengundang gelak tawa dari Victor.

__ADS_1


"Berikan Mira padaku, biarkan aku menyusui dia dulu." Jelena mengambil Mira dari gendongan Victor lalu membawanya untuk ke tempat tidur dan mengambil posisi agar bisa lebih nyaman menyusui.


"Kau, tidak berniat untuk melihatku menyusui Mira kan?"


Victor tersenyum kikuk, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Yah, dia lupa! Tapi kalau boleh sih dia tidak masalah untuk melihat.


"Apa kau keberatan karena ini adalah kamarmu?" Tanya Jelena lagi, dia mulai terlihat kesal makanya Victor memilih untuk segera keluar dari sana.


Di sisi lain.


Katherine membuang ponselnya, membanting hingga pecah berantakan di lantai. Kesal, sungguh dia kesal sekali karena Victor sama sekali tak menganggapnya setelah apa yang dia lakukan. Dia sudah mencoba untuk mengunggah photo dirinya bersama Victor untuk menghebohkan berita, dan membuat Victor kembali menoleh ke arahnya meski caranya memang tidak enak. Sayang sekali, Juno terlalu banyak ikut campur, menekan dengan segala cara sehingga photo yang dia unggah menghilang begitu saja padahal dia tidak menghapusnya.


"Jelena, kalau aku bertemu denganmu nanti, aku pasti akan memberikan pelajaran yang menyakitkan. Hanya seorang wanita rendahan yang mudah di tindas, aku tentu saja tidak boleh kalah dari perempuan semacam itu. Pelayan tentu saja akan tetap menjadi pelayan, tidak perduli kalau sekarang dia sudah menjadi Cinderella setelah sekian lama menjadi Upik abu." Katherine menatap dengan begitu marah, dia sudah kehilangan banyak pekerjaan karena terus membuat kekacauan, jadi dia pikir tidak akan merugi lagi, dan puas kalau melampiaskan kepada Jelena.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2