
Di ruang kepala sekolah.
"Aku tidak ingin ganti rugi, apalagi hanya permintaan maaf saja! Keluarkan saja anak itu dari sekolah, bukankah dengan begitu sekolah akan aman?!" Kesal Ibu dari anak yang di pikul oleh Tomy.
Tomy sedari tadi hanya terdiam, dia terus melihat ke pintu berharap Ibunya akan segera datang. Tapi kalau mengingat banyak nya ulah yang dia buat, apakah mungkin Ibunya akan datang?
"Selamat siang menjelang sore? Saya adalah kakaknya Tomy."
Tomy membulatkan matanya karena terkejut, begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.
"Wah, kakak itu wajahnya seperti malaikat." Ucap anak yang di pukul Tomy dengan mimik terpana. Sedangkan Tomy hanya bisa terus berada di wajah terkejut karena Jelena benar-benar sangat jauh berbeda dari Jelena yang dia kenal sebelumnya.
"Oh, apa kabar Nona? Sungguh saya terkejut karena biasanya yang akan datang adalah Ibunya Tomy sendiri." Ujar kepala sekolah seraya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Jelena. Tentu saja Jelena dengan sopan menjabat tangan kepala sekolah dan juga yang lainnya.
Begitu selesai berjabat tangan, dengan segera Jelena mengambil posisi duduk di sebelah Tomy yang sontak membuat Tomy terlihat membuang wajahnya menyembunyikan agar Jelena tak melihat bagaimana dia merasa begitu malu dan kesal.
Pembicaraan kembali di mulai, dan Jelena benar-benar hanya diam mendengarkan apa yang di katakan Ibu dari anak yang katanya di pukul oleh Tomy. Dia benar-benar terlihat begitu antusias, mendesak dan menekan kepala sekolah untuk memberikan sangsi kepada Tomy yaitu, mengeluarkan nya dari sekolah. Setelah beberapa saat, Jelena mengambil kesempatan untuk bicara karena dia merasa Ibu dari anak yang di pukul itu pasti sudah cukup.
"Jadi, bolehkah sebentar aku berbicara dan bertanya kepada adik saya? Sejak tadi aku hanya mendengar bagaimana anak itu di pukul, dan desakan untuk mengeluarkan Adik ku dari sekolah." Tanya Jelena yang langsung membuat Ibu dari anak itu menatap Jelena dengan tatapan tak suka. Bagiamana pun kedatangan Jelena sudah cukup menyebalkan karena telah menyita perhatian banyak orang, jadi saat bicara barusan Jelena seperti begitu menguasai fokus semua orang.
Jelena menatap Tomy yang dengan sengaja menghindari tatapan matanya. Bukanya Tomy tidak mau, hanya saja selama ini mereka tidak dekat, di mata Tomy Jelena juga bukan orang yang bisa membantunya dalam hal ini. Tapi, saat kedua tangan Jelena menyentuh wajahnya, membuat mau tak mau dia menatap mata Jelena, Tomy hanya bisa terdiam gugup setelahnya. Gila, ternyata kakaknya benar-benar sangat cantik, batin Tomy.
"Tomy, apa yang sudah di lakukan anak itu sampai kau memukulnya?" Tanya Jelena yang membuat Tomy terdiam menahan tangis harunya. Padahal selama ini dia salah mendapatkan pertanyaan seperti ini, apa yang kau lakukan? Kau memukul temanmu apa kau ingin bertingkah sok jagoan?
__ADS_1
Tomy terdiam sebentar, dia menatap kembali temannya yang sejak tadi menatapnya seolah mengancam untuk tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi adanya Jelena membuat Tomy merasa bahwa Jelena pasti akan membantu dan melindungi dia bukan? Tomy mencoba meyakinkan diri tidak perduli bahwa sebenarnya selama ini dia dah Jelena sama sekali tidak pernah sedekat itu.
"Dia bilang aku gendut, juga anak manja yang masih menyusu pada Ibuku. Dia sering mengisi loker ku dengan sampah, kadang daun kering, juga kadang batu. Tadi pagi, dia memasukkan kecoa ke tasku, bahkan juga mendorongku sampai jatuh saat aku memprotes tindakannya. Aku tidak tahan lagi, aku membalas karena mereka terus memakiku padahal mereka sudah melakukan hal yang jahat padaku."
Ibu dari anak itu terlihat gugup, dia mengindari tatapan mata Jelena yang kini tertuju padanya. Dia memang tidak pernah dekat dengan Tomy, tapi Jelena paham benar bahwa Tomy adalah anak yang paling tidak suka banyak bicara, selalu mengekspresikan apa yang sebenarnya dia rasakan, dan dia tidak memiliki hobi untuk berbohong.
"Jadi, sekarang minta maaflah kepada dia, Tomy." Ucap Jelena membuat Tomy membulatkan matanya begitu terkejut dengan apa yang di katakan Jelena. Padahal jelas-jelas bukan dia yang salah, kenapa dia harus meminta maaf?
Cih! Memang Jelena bukanlah orang yang pantas untuk di sebut kakak, ujar Tomy di dalam hati.
"Ayo!" Titah Jelena yang pada akhirnya membuat sorot mata Tomy terlihat begitu marah dan tidak setuju dengan apa yang di katakan oleh Jelena.
"Percayalah padaku, sekarang minta maaflah."
Tomy berjalan mendekati anak itu, menatapnya sebentar lalu mengatakan,
"Maaf...."
Anak itu hanya bisa mengangguk karena dia sendiri juga bingung harus bagaiman merespon permintaan maaf dari Tomy karena itu adalah kali pertama untuknya Tomy mejanya maaf.
Setelah itu, Jelena kembali membawa Tomy untuk duduk di sebelahnya.
"Jadi, sekarang giliran mu untuk meminta maaf kepada Tomy. Kesalahan yang kau lakukan adalah kesalahan yang akan menjadi fatal jika tidak segera di hentikan. Kau tahu seberapa banyak murid yang harus tinggal di penjara narapidana dini karena perundungan semacam ini?"
__ADS_1
Anak itu membulatkan mataya karena begitu terkejut. Tentu saja dia tidak ingin tinggal di penjara, dia tidak sanggup kehilangan kenyamanan dan fasilitas dari orang tuanya jika negara di dalam penjara.
"Aku, aku, aku minta maaf! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, aku tidak akan merundung mu lagi."
Setelah pembicaraan itu Tomy dan juga anak itu berjabat tangan untuk saling memaafkan satu sama lain. Kini mereka berdua sudah boleh keluar dan hanya tinggal menunggu wali mereka keluar dari ruangan kepala sekolah.
"Nyonya, lain kali coba pahami dulu masalahnya, jangan begitu menuntut hanya karena ingin melindungi putramu. Sikap seorang Ibu yang seperti itu, anda benar-benar akan membuat anak Anda menjadi seorang penjahat suatu hari nanti." Jelena mengatakan itu dengan kalimat yang lebih percaya diri membuat Ibu dari anak itu gak bisa berkata apa-apa.
Beberapa saat kemudian.
"Kau mau langsung pulang, atau mau beli sesuatu dulu?" Tanya Jelena saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah mereka.
Tomy menggelengkan kepalanya membuat Jelena tersenyum melihat adiknya yang bersikap sok cuek padahal wajahnya memerah sejak tadi.
Begitu sampai di rumah, Tomy langsung keluar dari mobil sementara Jelena masih tinggal di dalam karena ada hal yang harus dia kerjakan.
"Sampaikan pada Ibu ya? Tolong bantu jaga Mira, aku harus mengerjakan sesuatu." Ucap Jelena saat Tomy turun dari mobil.
Tomy nampak ragu seperti ada yang ingin dia katakan.
"Te terima kasih untuk hari ini!" Ucap Tomy tapi segera setelah itu Tomy berlari cepat karena tak ingin memperlihatkan bagaimana dia benar-benar gugup dan merona wajahnya.
Bersambung.
__ADS_1