Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 6 : Jam Tangan


__ADS_3

" Percuma saja kau di nikahi oleh anak Tuan rumahmu bekerja kalau nyatanya masih harus menjadi pembantu. Kau ini jangan mau mengalah terus, jangan bodoh! Minta saja uang dengan suamimu, kenapa harus menunggu gajian? " Kesal Ibunya Jelena sembari melirik sinis Jelena yang sudah mengatakan alasannya jika dia tidak memiliki uang. Jelena sebenarnya ingin menjelaskan bahwa posisinya di rumah itu benar-benar tidak seperti yang di kira oleh Ayah dan Ibunya, tapi melihat mereka yang setiap waktu hanya membicarakan uang, meminta uang dengan paksa, bicaranya kasar saat Jelena mengatakan tidak punya uang, mana mungkin mereka akan memahami kondisi Jelena? Padahal selama Jelena bekerja sebagai pelayan di rumah itu, sembilan puluh persen upahnya selalu berada di tangan orang tuanya. Bukan Jelena sengaja memberikan semua upah itu, hanya saja mereka selalu datang setiap tanggal gajian, dan mengambil hampir semua untuk mereka. Jelena tentu juga pernah menolak karena dia tahu akan di gunakan untuk apa uang itu, tapi dia benar-benar tidak berdaya karena kedua orang tuanya selalu mengancam dan membuat keributan yang membuat Jelena begitu malu dan tidak memiliki pilihan lain.


" Ibu, bagaimana aku bisa di nikahi oleh Tuan Victor juga seharusnya Ibu dan Ayah tahu kan? Lagi pula uang dari Nyonya besar dan Uan besar kan banyak, kemana uang itu? " Tanya Jelena.


Kedua orang tua Jelena terdiam sesaat karena bingung harus mengatakan apa, tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya jika uang itu habis untuk membayar hutang judi, dan bermain judi lagi, serta meminum minuman beralkohol. Uang sebagai hantaran pernikahan memang terbilang besar, jadi mereka sempat gelap mata dan menganggap uang sebanyak itu tidak akan begitu cepat habis kalau mereka menggunakannya sedikit untuk bermain judi. Sial! Mereka yang gila judi, benar-benar tidak bisa mengontrol diri dan akhirnya justru malah berhutang karena kalah judi. Jelena yang bisa melihat wajah kedua orang tuanya penuh kebohongan hanya bisa menahan diri untuk tidak menangis. Sebenarnya kenapa mereka bisa begitu gila dengan hal buruk seperti itu? Terlalu banyak mengkonsumsi minuman alkohol, bahkan mereka juga sempat menjadi pecandu obat-obatan terlarang hingga mata mereka benar-benar sangat sayu seperti orang yang mengantuk sepanjang hari.


" Ayah, Ibu, cobalah untuk meninggalkan kebiasaan buruk kalian itu. Kalau saja uang yang aku berikan di gunakan untuk keperluan rumah, dan untuk makan kalian berdua, tentu kalian tidak akan jadi kacau seperti ini kan? "


Niat Jelena yang hanya ingin kedua orang tuanya berubah justru di tanggapi sinis oleh Ibunya, dan sah Ayah jadi terlihat sangat kesal. Tentu saja pada akhirnya akan terjadi hal yang seperti biasanya yaitu, mereka berdua kompak memarahi Jelena, mengungkit betapa sulitnya mereka karena harus membedakan Jelena, bahkan menyekolahkan Jelena. Mereka berteriak kesal dan memaki dengan bahasa yang sama sekali tidak mengenakan untuk di dengar.


" Diam! "


Kedua orang tua Jelena terdiam, menoleh ke arah sumber suara begitu juga dengan Jelena. Tentu saja Jelena tahu siapa orang itu, dia adalah Victor. Pria itu benar-benar terlihat kesal, matanya yang menatap sangat tajam juga dingin mendoakan dia benar-benar marah. Mungkin karena Victor ingin tidur, tetapi terganggu oleh suara kedua orang tua Jelena makanya dia menjadi begitu kesal.

__ADS_1


Jelena benar-benar tidak tahu harus melakukan apa, kedua orang tuanya juga harus tahu bahwa dia tidak bisa terus seperti itu dan mendorong Jelena terus menerus ke dalam jurang tanpa pernah sekalipun memperdulikan bagaimana sulitnya dan sakitnya menjadi Jelena.


" Malam-malam begini berteriak apa kalian pikir dunia ini milik kalian?! Aku butuh istirahat karena aku banyak pekerjaan besok. Kalian para parasit, lintah penghisap darah, tutup mulut kalian rapat-rapat atau kalau tidak, aku akan panggilkan petugas keamanan untuk menyeret kalian sampai ke lubang neraka! "


Kedua orang tua Jelena segera bergegas pergi, tapi mereka berdua benar-benar meninggalkan tatapan sinis kepada Jelena untuk membuatnya merasa terancam dan agar Jelena tetap memberikan mereka uang saat mereka kembali nanti. Setelah kedua orang tua Jelena pergi, Victor menatap Jelena dengan tatapan dingin yang membuat Jelena langsung menundukkan wajahnya untuk menghindari tatapan mata mereka berdua.


" Benar-benar keluarga lintah darat, kalau kau begitu menginginkan uang dengan cepat, maka gugurkan saja kandungan mu, dan jual dirimu sebanyak yang kau butuhkan. Sial! Setiap kali melihat mu, aku benar-benar merasa seperti ingin mencekik orang sampai mati. " Ucap Victor lalu segera beranjak dari sana. Dugaannya yang begitu yakin bahwa anak yang berada di kandungan Jelena bukanlah anaknya benar-benar membuatnya seperti ingin meninju perut Jelena sampai bayinya mati. Di tambah keluarga Jelena yang begitu terkenal keluarga tidak baik, dia semakin ingin menyakiti Jelena saja.


Besok paginya.


Seperti kebiasaan Jelena setiap pagi, dia akan membersihkan semua kamar di lantai satu, termasuk kamar Victor. Dia memunguti pakaian yang berserakan di lantai, juga membenahi beberapa batang yang berantakan. Melihat adanya jam tangan Victor di lantai, tentu saja Jelena segera mengambilnya karena tahu benar bahwa semua barang milik Victor pastilah hartanya sangat mahal. Karena Jelena melihat ada debu di sana, jadi dia menggosokkan jam tangan itu ke lengan bajunya.


Victor keluar dari kamar mandi, melihat Jelena menggenggam jam tangan miliknya yah harganya bahkan bisa lima tahun upah Jelena bekerja tentu saja dia menjadi kesal karena mencurigai jika Jelena pasti ingin mengambil jam tangannya untuk dia jual. Jadi dengan segera dia berjalan menghampiri Jelena, lalu merebut jam tangan itu dari tangan Jelena membuat tangan Jelena tersangkut dan berdarah.

__ADS_1


" Kau ingin mencuri jamku? Berani sekali kau?! " Victor benar-benar mengabaikan tangan Jelena yang terluka dan fokus dengan dugaannya sendiri.


Jelena memegangi tangannya, meringis menahan perih tapi tak berani mengaduh.


" Sudah kubilang kalau butuh uang, maka jual saja dirimu! "


Jelena menggelengkan kepala membantah apa yang dituduhkan Victor padanya. Tapi apa gunanya? Jelena sama sekali tidak pernah di anggap benar apapun yang dia katakan.


" Tuan, jam itu terjatuh di lantai. Aku memungutnya dan ingin membersihkannya saja dari debu. Aku tidak ingin mencarinya, sungguh. "


Victor tersenyum dingin tatapan dingin.


" Anak seorang brengsek, mana mungkin akan menjadi polos? Kalian semua benar-benar hebat memerankan peran masing-masing ya? "

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2