
" Kau seharusnya tahu benar betapa besarnya kesalahan yang kau lakukan bukan? Kami membesarkan mu tanpa pernah menunjukkan sikap kasar, apa lagi sampai bertindak sejauh itu bukan? "
Jemima tertunduk setelah sebentar melihat tatapan yang penuh dengan kekecewaan dari Ayahnya. Tahu, sungguh dia tahu seberapa jahatnya apa yang dia lakukan terhadap Jelena, tapi apakah penyesalan itu akan berguna? Tidak bukan? Bahkan jika Jemima membelah dadanya dan menunjukan bagiamana hatinya, tentu saja itu tidak akan berguna. Bukankah pada akhirnya akan tetap saja sama bahwa Jelena celaka karena dia?
Sekarang Jemima akan menerima apapun hukuman yang ada dia terima. Keluar dari rumah itu, apapun mungkin dia setujui tanpa menunggu satu atau dua detik. Tidak apa-apa, meski dia memang belum tahu akan hidup di mana, bagaimana dia akan hidup dan akan jadi seperti apa nantinya, Jemima merasa dia tidak memiliki apapun yang bisa dia gunakan untuk menjadi pedoman. Biarlah, kali ini dia memang akan lebih baik untuk tidak memikirkan apapun, selain mengutuk dirinya sendiri.
" Jelena sudah mengatakan apa yang terjadi kepada Ayah, dan Ibu. Jujur saja kami sangat kecewa dengan apa yang kau lakukan, padahal tentang blog pribadi mu yang begitu merugikan kami semua masih belum sempat kami menasehati mu, kau sudah membuat ulah yang lebih fatal lagi. Ingatlah di keluarga kita tidak ada yang boleh melakukan kekerasan, kau juga ingat benar bagaimana Ibu menasehati kalian semua bukan? "
Jemima semakin menunduk, jemarinya saling bertautan erat mencoba menahan dirinya untuk tidak menangis.
" Kau salah, kami marah, kami kecewa, tapi kami juga tidak bisa membuang mu begitu saja seperti sampah. Hanya saja pasti akan ada jarak yang terasa, jadi kau harus bisa memakluminya, dan jangan banyak menyalahkan orang lain, juga menuntut yang tidak mudah. "
Jemima terdiam dengan segala pemikirannya. Haruskah dia bersyukur karena tidak di buang? Ataukah seharusnya Jemima merasa malu karena kejahatannya di balas dengan kebaikan?
Jemima mengeratkan tautan tangannya, menatap Ayahnya dengan tatapan serius.
" Ayah, apakah aku boleh menemui Jelena? Aku janji tidak akan melakukan hal yang menyakitinya, aku bersumpah. " Pinta Jemima kepada Ayahnya.
Ayahnya Jelena terdiam sebentar untuk berpikir, dia menimbang apakah dia bisa mempercayai Jemima atau tidak? Tapi melihat cara Jemima menatap, berbicara dengan nada bicara memohon, dia seperti kehilangan keraguan yang dia rasakan beberapa detik lalu.
Beberapa saat kemudian, Ayahnya Jelena membawa Jemima untuk bertemu dengan Jelena, dan membiarkan mereka bicara berdua saja.
__ADS_1
Jelena dan juga Jemima sebentar terdiam, saling menatap untuk beberapa saat. Jemima yang bingung harus mulai dari mana, Jelena yang bingung hal apa yang ingin di bicarakan oleh Jemima? Akankah dia mengatakan hal-hal yang memicu pertengkaran?
" Bagaimana kabarmu? " Tanya Jemima setelah beberapa saat diam kebingungan harus mengatakan apa.
Jelena terdiam sebentar, lalu memaksakan senyumnya. Sungguh di luar dugaan, dan mungkinkah Jemima sengaja berbicara seperti itu karena di paksa Ayah mereka?
" Aku tahu apa yang aku lakukan sangat keterlaluan, aku bahkan tidak berani bertanya tentang anak mu setelah melihat mu. Aku ingin tahu, tapi aku takut mendengar kabar yang menakutkan, dan aku minta maaf, sungguh minta maaf. Beberapa hari ini aku menyadari benar di mana letak kesalahan ku, aku menyadari jika tidak seharusnya aku menganggap apa yang aku pikirkan benar, lalu berakhir dengan membenci mu, membenci situasi ini. "
Tadinya Jelena masih menganggap jika apa yang di katakan Jemima pasti hanyalah karena dia di tekan, di paksa untuk meminta maaf kepada Jelena aga hubungan mereka sedikit lebih baik. Tapi begitu melihat tubuh Jemima yang gemetar, air matanya yang jatuh saat dia mencoba untuk tidak menangis, Jelena menyadari benar bahwa Jemima jutsru tak sejahat yang dia pikirkan.
" Aku, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau apa yang aku lakukan akan mencelakai mu, mencelakai anak mu, mencelakai nama baik Ayah dan Ibu, perusahaan, aku bahkan membuat diriku terlihat kasihan di mata umum, padahal aku tidak ingin di kasihani, aku tidak butuh itu. Maaf......"
Jemima terlihat lega meski Jemima masih tidak bisa menutupi tangisnya.
Beberapa saat kemudian sat mereka sudah sama-sama tenang, bisa bicara dengan baik dan perasaan lega. Jemima meraih tangan Jelena, menggenggamnya erat.
" Jelena, aku harap kau akan selalu ada untuk Ayah dan Ibu, kau juga akan menjadi Kakak yang baik untuk Tomy. Dia memang terlihat menyebalkan dengan cara bicaranya, tapi percayalah dia adalah anak yang penyayang dan pengertian. Dia akan sangat perhatian kepada mu, menyayangi mu melebihi ekspektasi mu saat kau berhasil merebut hatinya nanti. "
Jelena mengeryit menatap Jemima, kenapa kalimat itu seperti kalimat perpisahan? Jemima seperti sedang menyampaikan itu, dia pasti sudah bersiap bukan?
" Kau ingin pergi kemana? " Tanya Jelena.
__ADS_1
Jemima menatap Jelena lalu menggelengkan kepala.
" Tidak ada tujuan, juga tidak akan pergi kalau memang tidak harus pergi. " Jawab Jemima yang semakin membuat Jelena bingung.
" Apa maksudnya? "
Jemima menahan nafasnya sebentar, tersenyum padahal dia ingin menangis sekali saat itu. Haruskah dia menceritakan yang sebenarnya? Mungkinkah Jelena akan mengerti dirinya, mengerti alasannya?
" Aku hanya asal bicara. "
Jelena mencengkram lengan Jemima, menatapnya dengan tegas.
" Katakan, kau akan pergi kemana? Apa Ayah dan Ibu yang memintanya, apa kau yang ingin pergi sendiri? "
Jemima menatap kedua bola mata Jelena, padahal dia hanya ingin menatap Jelena tegas dan tidak terlihat berbohong. Sial, kedua bola mata Jelena terlalu teduh membuatnya seperti tak bisa menahan apa yang sebenarnya dia coba untuk tutupi.
" Je Jelena, sebenarnya sekitar satu tahun yang lalu aku di diagnosis mengalami kangker darah, sudah masuk stadium dua. Dokter menyarankan untuk kemoterapi, meminum obat kemoterapi dan menjalani pengobatan dengan benar. Tapi aku sudah sangat lelah, aku tidak sanggup kalau harus kembali merasakan di suntik, di oeprasi, dan lainnya. Sejak kecil aku keluar rumah sakit, separuh hidup ku habis untuk berobat ke rumah sakit. Aku hanya diam-diam meminum obat Dokter, untuk sedikit memperpanjang umurku, aku diam-diam menahan rasa sakit, sakit seperti seluruh tubuhku sedang di sayat bersamaan. Aku pikir aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama Ayah dan Ibu, juga Tomy. Tapi semua tidak berjalan seperti yang aku inginkan, itu lah kenapa aku marah dan tidak bisa menerima kenyataan ini. Tapi sekarang aku lega sekali, setidaknya Ayah, Ibu, Tomy tidak akan terlalu bersedih saat aku pergi nanti. "
Jelena membulatkan matanya, terkejut sekali sampai dia tidak sadar meneteskan air mata.
Bersambung.
__ADS_1