
Ken memukul wajah Victor sangat kuat hingga sisi bibir Victor mengeluarkan darah, tersungkur dan hanya bisa perlahan bangkit karena saat terjatuh tadi Victor tidak sengaja membenturkan perutnya ke pinggiran tempat duduk yang terbuat dari bahan besi itu.
Sebenarnya Victor bisa saja memukul balik dan memberikan lebih dari pada apa yang dia dapatkan, tapi apa akan ada gunanya? Jelena sedang memekik kesakitan, jadi apakah tidak bisa menunggu sebentar saja sampai dia memastikan keadaan Jelena? Kalaupun masih ingin di larang untuknya menemui Jelena, apakah itu sungguh harus dia lakukan? Meskipun memang benar awalnya dia tidak menginginkan Jelena dan bayi di dalam perutnya, tapi pada akhirnya semua berubah bukan? Victor juga siap dan berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa dia akan memperlakukan Jelena sangat baik di kemudian hari.
" Kalau saja bukan karena kau, bukan karena keluargamu yang begitu menguasai anak itu, kau pikir Jelena dan anaknya akan mengalami ini semua? "
Tatapan mata Ken, cara bicara, dan juga Nafa bicaranya sudah sangat jelas kalau apapun alasannya Victor tidak memilki kesempatan untuk masuk ke dalam sana, bertemu langsung dengan Jelena. Rasanya ingin menjatuhkan kedua kakinya, berlutut dan menyatukan kedua telapak tangannya untuk memohon, tapi dengan situasi sekarang, bahkan menangis darah pun tidak akan membuat Ken membiarkan dia masuk.
Victor menatap Ken dengan tatapan dingin begitu dia sudah berdiri dengan tegap. Kedua orang tuanya yang sudah sejak tadi menahan diri kini bersiap akan bertindak seandainya terjadi sesuatu lagi dengan Victor.
Victor mengeraskan rahangnya, menatap dengan dalam, kaki tak lama dia melayangkan satu pukulan keras ke pipi Ken. Ken juga terjatuh, tapi secepat itu dia bisa bangun dan kembali membalas pukulan kepada Victor. Ayahnya Victor benar-benar kehilangan kesabaran, dia meraih puncak Ken, mencengkram sangat kuat, laku menjauhkan dari Victor.
__ADS_1
" Hentikan! "
Victor memegangi perut bagian atas yang tadi membentur sisi kursi tunggu, mengatur nafas, lalu dengan segera dia mengambil kesempatan untuk menerobos masuk ke dalam ruangan.
Deg!
Victor terdiam membeku, tak bisa bicara melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya itu. Beberapa Dokter terdiam dengan mimik sedih, seolah mereka berduka melihat apa yang juga terjadi dengan Jelena juga anaknya.
Bayi itu, dia tak melakukan pergerakan sama sekali, dia berada di dada Jelena, berada di pelukan Jelena yang tengah menangis sangat keras, wajahnya sampai memerah terus meneteskan air mata dari kedua matanya yang sedikit terpejam berbicara dengan begitu menyedihkan.
Entah anaknya laki-laki atau perempuan, dia tidak tahu, tidak perduli, tidak ingin tahu, karena yang dia inginkan sekarang hanyalah kembalikan nyawa anaknya, kembalikan kesempatan untuknya menjadi Ibu, kembalikan momen yang akan dia habiskan bersama dengan anaknya, dan hidup bersama anaknya hingga akhir hayat.
__ADS_1
Semua orang kini bisa melihat itu semua, Orang tua Victor, orang tua Jelena, juga dengan Ken. Mereka benar-benar terpukul dengan apa yang terjadi, terutama kedua orang tua Victor. Mereka telah mengajukan satu hal penting, sangat penting yaitu, Jelena. Jelena yang telah memberikan banyak, berkorban tak terhitung demi anak yang dia kandung, tapi dengan arogannya mereka ingin merebut anak itu. Mereka menyesal, sungguh menyesal sekali mengingat bagaimana mereka berpikir tentang anak yang di kandung Jelena.
Kedua orang tua Jelena juga sama menyesalnya, selama ini mereka dengan tidak berperasaan terus menekan Jelena, memaksa Jelena mengikuti apa yang mereka inginkan karena menganggap jika apa yang menurutnya baik dan benar, akan membahagiakan Jelena. Sekarang dia bisa melihat betapa sulitnya menjadi Jelena, betapa besarnya perjuangan Jelena di usianya yang masih muda. Padahal jika gadis lain di usianya, sudah jelas mereka akan menghabiskan waktu mereka untuk hal yang mereka sukai bukan?
Victor tanpa sadar terus menitihkan air matanya, air mata yang disertai penyesalan dalam, dalam sekali hingga tidak tahu seberapa dalam dan seberapa besar penyesalan itu. Gadis sembilan belas tahun tahun mengandung anaknya di tengah tekanan banyak orang, di paksa untuk ini dan itu, namun tidak ada yang tahu seberapa sakit dan kesedihan yang dia alami karena tak ada yang memperdulikan dirinya, tak ada satupun yang bertanya bagiamana dengan dirinya.
Victor perlahan menjalankan kedua kakinya yang sebenarnya sangat lemas dan gemetaran. Dia sudah tidak ingat kalau tengah menangis dan membiarkan saja air matanya mengiringi langkah kakinya mendekat kepada Jelena dan anaknya. Begitu dia dekat dengan Jelena, dia bisa dengan jelas melihat wajah bayi itu, sungguh! Sungguh sangat mirip sekali dengannya. Walaupun mata bayi itu tertutup, tapi Victor ingat benar photo dirinya saat bayi. Perlahan tangan Victur menjalar untuk menyentuh kepala bayinya, mengusap dengan pelan sembari menangis.
Maafkan, maafkan Ayah yang pernah mengatakan banyak hal yang menyakiti mu dan menyakiti Ibu mu. Maafkan Ayah yang pernah mengatakan kalau kau benih terkadang jika hidup di rahim Ibumu, maafkan Ayah yang berkali-kali meminta Ibumu untuk membunuhmu. Ayah menyesal, menyesal sekali. Saat itu Ayah terlalu egois, menyalahkan Ibumu, juga kehadiran mu yang di luar ekspektasi. Sungguh, Ayah tidak tahu kalau kehilangan mu akan sangat menyakitkan, terlebih melihat Ibumu yang menangis seperti sekarang ini, menangis seperti dunianya telah sirna, Ayah benar-benar rela menukar nyawa Ayah dengan mu. Tolong, tolong, tolong kembalilah, jangan biarkan Ibumu menderita, berikan dia kesempatan untuk bahagia, berikan dia merasakan benar seperti apa indahnya dunia ini.
Jelena masih memeluk bayinya, menangis hingga tak lagi bisa mengeluarkan suara. mereka berdua menangis, bersamaan, dengan harapan yang sama, memohon dengan rela, meminta bertukar nyawa untuk bayi mereka.
__ADS_1
Tubuh kecil yang lemas, matanya terpejam rapat, perlahan-lahan mulai memberikan gerakan.
Bersambung.