
Jelang terdiam mendengar ucapan Katherine yang begitu tidak enak di dengar. Bukan merasa takut dan rendah diri seperti sebelumnya, tapi Jelena merasa marah, bahkan dia tanpa sabar jadi memikirkan bagaimana caranya bisa membuat mulut Katherine berhenti mengoceh kalau hanya untuk menyakiti hatinya.
Sebentar Jelena menaikkan tatapan matanya untuk melihat bagaimana mata Katherine yang menatapnya seolah Jelena adalah mahluk hina yang menjijikan. Rasanya Jelena benar-benar semakin terpancing emosi hingga keberanian serta rasa takut yang dulu begitu dia rasakan sama sekali gak tertinggal di hatinya. Entah apakah ini karena hormon kehamilan yang membuat mood nya buruk dan menjadi tidak sabaran atau memang Jelena yang sudah muak dengan segala tingkah Katherine yang menyebalkan.
" Tolong minggirlah, Nona Katherine. Anda menghalangi jalan kami. " Ucap Jelena dengan mimik dingin membuat Katherine terperangah tidak percaya. Ternyata memang benar kalau Jelena semakin hari bertambah kurang ajar seolah ingin menantangnya untuk bertarung sengit.
" Kurang ajar sekali kau ya? Beraninya tidak sopan seperti itu! Jangan berbangga diri hanya karena kau mengandung anak yang kau akui sebagai anaknya Victor. Kau tunggu saja waktunya, aku akan membuktikan kepada Victor kalau anak itu bukan anaknya! "
Popi membuang nafasnya, kesal sekali mendengar kalimat yang setiap kali melihat Jelena hanyalah memaki, mengancam, bahkan di tempat umum seperti ini Katherine masih saja tak tahu situasi dan dnegan gamblang mengatakan kalimat menyebalkan itu.
Tadinya Popi ingin membalas ucapan Katherine, tapi Jelena menahan lengan Popi karena dia menyadari benar apa yang akan di lakukan Popi. Tentu saja alasan Jelena adakah karena dia tidak ingin Popi dalam masalah karena membelanya, dan mulai dari hari ini Jelena akan menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa melibatkan orang-orang yang sudah seperti keluarga untuknya.
" Nona Katherine, sebenarnya sejak awal Nona Katherine sendiri yang sudah mengatakan kalimat tidak sopan. Walaupun memang benar aku adalah pelayan rumah yang terpaksa di nikahi oleh Tuannya, tetap saja aku adalah seorang istri. Posisi Nona Katherine akan tetap salah di lihat dari sudut kandang manapun. Tolong berhentilah mengatakan kalimat yang tidak enak di dengar, dan satu hal lagi. Aku akan menjadi sangat sopan saat Nona Katherine juga melakukanya, aku juga akan kurang ajar jika Nona Katherine terus mencoba untuk merendahkan ku setiap kali kita bertemu. Aku, dan Nona Katherine sama-sama manusia, tidak ada yang berbeda di antara kita jadi berhentilah membuat ulah. "
Katherine terdiam tak bisa berkata-kata. Sebenarnya dia ingin sekali berteriak marah karena tidak terima dengan apa yang di katakan Jelena, tapi kalau dia melakukan itu bisa-bisa dia menjadi pusat perhatian bukan? Dia tentu saja tidak ingin membuat dirinya ketahuan tengah berbelanja di supermarket seperti sekarang. Karena kalau ada orang yang tahu, mereka akan mulai membuat kabar yang tidak enak tentangnya. Apalagi sekarang dia pergi bersama managernya, nanti yang ada akan timbul banyak kabar miring bukan?
__ADS_1
" Ayo kita pergi, kak! " Ajak Katherine kepada Managernya yang sedari tadi terus menatap Jelena sembari membatin. Jadi gadis cantik tadi adalah pelayan rumahnya Victor? Hebohnya lagi ternyata Victor sudah menikah dengan pelayan rumah karena pelayan rumah tengah hamil. Memang berita besar, tapi sayangnya dia tidak akan memiliki keberanian menyebarkan kabar itu karena Victor bukanlah orang yang mudah untuk di lawan. Selain Victor adalah aktor ternama dan terkenal, Victor adakah anak tunggal dari pasangan Pembisnis hebat yang jelas memiliki koneksi luas melebihi yang dia bayangkan.
Di sisi lain.
" Kau sudah mengirimkan uangnya? " Tanya Victor kepada Juno yang baru saja masuk ke dalam ruangannya.
Juno mengangguk sembari menyerahkan es kopi kepada Victor.
" Sebenarnya orang itu siapa? Aneh sekali karena kau terus mengirimkan uang sampai tiga kali dan jumlahnya juga cukup banyak. " Tanya Juno yang begitu penasaran. Juno tentu saja tahu benar bahwa mengirimkan uang seperti ini adalah ha yang belum pernah Victor lakukan sebelumnya, di tambah lagi nama pemilik akun Bank itu sangat asing.
Victor meletakan es kopi tanpa gula yang bari sedikit saja dia minum. Victor menghela nafasnya sembari membuka kancing kemejanya hingga ke batas dada.
Juno bingung, dia ingin sekali lagi bertanya agar lebih jelas apa maksud ucapan Victor barusan. Tapi yah sepertinya Victor yang tidak berniat menjelaskan apa yang dia katakan tadi jadi Juno hanya bisa memendam pertanyaan itu dan menebak-nebak saja sendiri.
Victor sebenarnya tidak ingin memberikan uang kepada orang tersebut, tapi dia juga tidak ingin kalau pada akhirnya dia akan mengisahkan Jelena lagi. Yah, orang yang di maksud oleh Juno adalah orang tua Jelena. Dia juga tahu apa yang terjadi kepada Ayahnya Jelena seminggu lalu karena tidak sengaja mendengar obrolan antara Jelena dan tukang kebun rumahnya. Tadinya Victor juga tidak perduli, tidak ingin memikirkan orang yang tidak penting untuknya, tapi saat dia ingat benar bagaimana sikap orang tua Jelena kepada Jelena, Victor menjadi tidak tenang dan terpaksa mengirimkan uang untuk membayarkan hutang.
__ADS_1
Rupanya mereka memang benar-benar adalah orang yang tidak tahu malu, seperti lintah yang akan terus menghisap darah tanpa kenal lelah meski sudah kenyang. Setelah melunasi hutang, mereka kembali meminta uang untuk berobat, dan sekarang meminta uang lagi untuk membenahi rumah mereka yang ada bagian rusaknya.
Entah akan sebanyak apa kedua orang tua Jelena akan memeras dirinya, tapi Victor juga memiliki batas kesabaran, memiliki ketegasan harus sampai mana dia memaklumi tindakan orang lain dan dia juga tidak akan hanya diam saat orang lain berundak tidak sesuai dengan harapannya.
" Tinggal tiga puluh menit lagi, apa kau akan makan siang sekarang? Nanti syuting di perkirakan selesai jam empat sore, jadi lebih baik makan siang saja sekarang. " Ucap Juno memperingatkan Victor karena dia tidak ingin Victor jatuh sakit lagi seperti kemarin.
" Iya. "
Juno mengambilkan sekotak makanan yang dia beli saat membeli es kopi tadi. Daging bakar dengan sayuran, lalu sebotol jus kiwi. Biasanya itu adalah salah atau menu makan siang yang di sukai Victor, tapi anehnya begitu melihat makanan itu Victor jadi sangat malas untuk makan.
" Apa aku perlu beli makanan yang lain? " Tanya Juno.
Victor membuang nafas, lalu menggelengkan kepala.
" Tiba-tiba saja aku ingin makan sup daging, apa ada yang jual sup daging seperti masakan dia ya? " Gumam Victor.
__ADS_1
Juno mengeryitkan dahi, mungkinkah yang di maksud Victor adalah sup daging buatan Jelena?
Bersambung.