
Seperti biasanya, Jelena akan mengerjakan semua pekerjaan yang biasanya dia kerjakan. Pagi dia membantu Bibi dapur, lalu Kaka sudah selesai sarapan baru dia akan pergi untuk mencuci baju sembari menyetrika baju yang sudah kering. Tapi pagi ini Juno datang setelah Bibi dapur selesai membuat bubur nasi, Juni meminta Jelena membuatkan sup daging sapi seperti yang pernah di makan oleh Victor, dan rasanya juga wajib sama.
Jelena tentu saja tidak bisa menolak, dia dengan segera membuat sup daging sapi seperti yang pernah dia buat, lalu setelah selesai barulah dia menyiapkan di nampan berserta jus, air mineral dan potongan buah. Kali ini bukan Jelena yang mengantarkan nampak itu, melainkan Popi.
" Kenapa kau memintanya untuk membawakan sarapan ku ke kamar? Kau mau mengotori kamar ku? " Protes Victor karena menang dia tidak pernah makan di dalam kamar, dia tidak menyukai hawa makanan tertinggal di kamarnya, dia juga tidak ingin melihat sedikit saja sisa makanan tertinggal di sana.
" Tapi kau kan sedang sakit? " Ucap Juno, bukankah memang biasanya orang yang sedang sakit akan makan di dalam kamar?
Victor membuang nafasnya, dia bangkit perlahan dan berdiri. Dia benar-benar ingin makan di luar kamarnya bukan hanya demi kebersihan kamar saja, tapi dia juga harus melihat sendiri bahwa Jelena juga makan makanan yang sama dengannya. Iya, lagi-lagi Victor ingin memastikan bahwa bayinya tidak kekurangan gizi. Maklum saja, Jelena terlihat semakin kurus semenjak dia hamil.
" Kau yakin? " Tanya Juno yang merasa ragu karena melihat wajah Victor yang masih pucat, tubuhnya juga terlihat lemas.
" Tentu saja, cepat bawa keluar makanan itu, aku tidak mau kamar ku bau daging sapi! "
" Oke! " Dengan segera Juno mengikuti saja apa yang di katakan Victor karena dia tahu benar Victor tidak akan menerima masukan dari siapapun.
Sesampainya di meja makan, Victor mengeryit mencari keberadaan Jelena.
__ADS_1
Di sisi lain.
Jelena membukakan matanya karena begitu terkejut mendengar apa yang di katakan oleh tukang kebun beberapa saat lalu. Tukang kebun di rumah Victor juga adalah orang yang di mintai tolong oleh Bibi dapur untuk membeli kebutuhan dapur. Tukang kebun mengatakan jika di jalan pulang tadi dia tidak sengaja melihat Ayahnya Jelena di pukuli betapa preman karena terus mangkir dari hutang hingga wajahnya terluka cukup parah hingga banyak darah di beberapa bagian.
Tentu saja Jelena tidak bisa tidak sedih dan khawatir. Bagaimanapun dia juga adalah orang tuanya bukan? Memang benar Jelena pernah meminta orang tuanya untuk tidak datang lagi dengan alasan apapun, jujur dia juga membenci sikap jahat kedua orang tuanya, terutama Ayahnya yang selalu saja tidak ada kapok nya berjudi. Tapi tetap saja hatinya tidak tega, dia juga merasa khawatir sekali memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini kalau Ayahnya masih belum membayar hutang?
" Aku mengatakan ini bukan karena ingin melihat mu bersedih, Jelena. Aku hanya ingin kau melihat baik-baik orang tua yang selama ini kau hidupi. Mereka hanya tahu berhutang untuk hal yang tidak penting, untuk kali ini biarkan mereka menyelesaikan masalah ini sendiri, jangan membantunya agar mereka tahu harus bagaimana caranya mengahargai mu, mengahargai apa yang sudah kau berikan dan mereka bisa lebih bijak menggunakan uang. "
Jelena terdiam tak bisa mengatakan apapun, sebenarnya dia sangat tidak tega mendengar kalau Ayahnya sampai terluka cukup parah, tapi apa yang di katakan tukang kebun juga ada benarnya jadi dia akan memilih untuk diam dan memikirkan baik-baik harus bagaimana menghadapi masalah ini.
Sekarang dia harus melakukan apa? Dia terkekang oleh kenyataan di mana dia mengandung bayinya Victor, bahkan dia juga terkekang dengan tangan kosongnya yang tidak memiliki apapun.
" Sampai kapan kau akan tetap di sini? " Tanya Victor dengan nada bicara dan wajah yang dingin seperti biasanya. Jelena tersentak, segera dia bangkit untuk melihat sebentar ke arah sumber suara. Begitu tahu dia adalah Victor, Jelena segera menundukkan wajahnya karena seperti itu adalah hal yang di anggap sopan.
" Masuk, pergilah untuk sarapan, aku tidak ingin bayi di perut mu terkena dampaknya. "
Jelena mengangguk paham.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Jelena dan Victor kini berada di atau meja makan, dan ini adalah kali berdua mereka makan untuk sarapan hanya berdua saja. Agak canggung yang Victor rasakan, tapi Jelena justru terlihat tak merasakan apa yang Victor rasakan. Dia seperti sedang memikirkan hal lain. Bukankah itu menyebalkan? Yang ada di dekat Jelena adalah aktor terkenal, pria yang memiliki banyak peminat, banyak penggemar gadis-gadis cantik, biasanya yang akan di lakukan para gadis di luar sana akan terus menatap ke arahnya, dan tersenyum manis untuk membuat sedikit perhatian Victor tertuju padanya.
Victor yang sibuk melihat ke arah Jelena rupanya tidak menyadari jika Katherine berada tak jauh darinya dan bisa melihat dengan jelas bagaimana Victor terus menatap Jelena, begitu lekat tidak tahu apakah Victor terpanah ataukah Victor merasa ada hal yang sedang dia cari dari wajah Jelena? Ah, tentu saja alasan kedua tidak mungkin bukan?
Tidak mau membiarkan Victor terus menatap Jelena, Katherine dengan segera berjalan mendekati Victor, memeluknya dari belakang, laku mengecup pipinya beberapa kali.
" Selamat pagi, sayang? Maaf aku datang terlambat. Aku mendapat pesan dari Manager mu kalau kau sakit makanya aku buru-buru untuk datang kemari setelah syuting selesai. "
Victor yang tersentak dengan kedatangan Katherine yang tiba-tiba saja hanya bisa terdiam, dan mengangguk, bibirnya tersenyum seolah mengatakan bahwa itu benar-benar bukan masalah.
Jelena tidak tertarik sama sekali untuk melihat bagaimana Victor dan juga Katherine bersama dengan begitu mesra. Rasanya Jelena tidak tertarik untuk melakukan apapun, dia bahkan tidak tertarik untuk makan kalau saja dia tidak ingat kalau dia sedang hamil.
" Sayang, aku memiliki schedule yang begitu padat jadi maaf karena terlambat menemui mu. Untungnya kita sama-sama tahu kalau kita sibuk jadi aku bisa tenang dengan pengertian mu. Lagi pula kalau aku melewatkan kesempatan ini, aku bisa hidup sengsara dan menjadi pelayan rumah yang seperti tidak ada kerjaan kan? Ah, aku benar-benar tidak siap hanya dengan memikirkan apa yang aku katakan barusan. " Ucap Katherine yang sebenarnya ingin menyindir dan menyadarkan Jelena kalau dia hanyalah pelayan rumah saja.
Bersambung.
__ADS_1