Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 91 : Seorang Bibi


__ADS_3

Beberapa saat kemudian.


"Kau mau langsung pulang, atau mau beli sesuatu dulu?" Tanya Jelena saat mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah mereka.


Tomy menggelengkan kepalanya membuat Jelena tersenyum melihat adiknya yang bersikap sok cuek padahal wajahnya memerah sejak tadi.


Begitu sampai di rumah, Tomy langsung keluar dari mobil sementara Jelena masih tinggal di dalam karena ada hal yang harus dia kerjakan.


"Sampaikan pada Ibu ya? Tolong bantu jaga Mira, aku harus mengerjakan sesuatu." Ucap Jelena saat Tomy turun dari mobil.


Tomy nampak ragu seperti ada yang ingin dia katakan.


"Te terima kasih untuk hari ini!" Ucap Tomy tapi segera setelah itu Tomy berlari cepat karena tak ingin memperlihatkan bagaimana dia benar-benar gugup dan merona wajahnya.


Jelena tersenyum menatap punggung Tomy yang semakin menjauh karena dia berlari dengan cepat, dia merasa malu karena untuk pertama kalinya dia mengucapkan terimakasih kepada Jelena. Ini baru awal saja, Jelena yakin kedepannya dia akan menjadi sosok yang bisa di andalkan, dia akan menjadi Kakak yang baik untuk Tomy meski memang benar hubungannya tak dekat sama sekali sebelumnya.


Jelena melajukan mobil yang ia gunakan, menuju rumah sakit karena Victor memang belum di izinkan untuk kembali ke rumah karena kondisinya yang memang kurang baik. Victor terserang demam tinggi beberapa hari lalu, bahkan demam itu tak membaik setelah tiga hari berlalu. Jadi bagaimana keadaan dia yang sesungguhnya tentu saja akan lebih baik kalau melihat sendiri secara langsung bukan?

__ADS_1


Begitu sampai di rumah sakit, Jelena benar-benar hanya bisa menghela nafas karena sial sekali harus bertemu dengan Katherine. Beberapa tahun belakangan hidupnya benar-benar indah sekali karena di jauhkan dari Katherine, juga wajah menyebalkan nya itu. Sudahlah, toh Katherine bukan lagi orang yang harus dia takuti, batin Jelena lalu kembali melanjutkan langkah kakinya dengan percaya diri.


"Biarkan aku masuk, aku hanya ingin mengantarkan bubur ini!" Ucap Katherine kepada Juno yang sepertinya masih terus menghalangi Katherine dengan diamnya dan tindakannya yang selalu mencoba untuk menghalangi langkah kaki Katherine.


"Aku sudah susah payah bangun pagi sekali, aku belajar membuat bubur sejak pagi, dan untuk pertama kalinya bubur buatan ku jadi tapi kau tidak membiarkan ku memberikan ini? Ayolah, aku sudah susah payah sekali sampai mengabaikan jadwal pemotretan." Pinta Katherine yang jelas tidak bisa memaksa Juno apalagi berbicara dengan kasar, mengancam seperti sbelumnya. Juno juga mengetahui aib yang coba dia sembunyikan, jadi dia benar-benar tidak ingin hal itu sampai di ketahui oleh Victor.


"Tidak bisa, Victor sudah bilang kalau tidak ada yang boleh menggangunya, bahkan Victor juga menolak manager yang ingin melihat keadaannya." Kesal Juno yang tidak tahu harus mengatakan apa agar Katherine menjauh dari sana dan dia bisa merasa tenang.


"Apa aku juga tidak bisa bertemu Victor?" Tanya Jelena seraya melepas kaca mata hitamnya, tersenyum menatap Juno yang kini tengah menatapnya dengan dahi mengeryit karena sebelumnya dia tidak tahu siapa yang bicara. Katherine buang juga tidak tahu sebelumnya kini menjadi membeku dan terkejut melihat tampilan Jelena yang amat jauh berbeda dari sebelumnya. Pakaian yang di gunakan Jelas bukan buatan lokal, cara Jelena menggunakan make up benar-benar natural selain, tapi dia terlihat sangat cantik dan anggun. Senyum yang mengembang penuh percaya diri, aroma parfum yang menyebar membuat Katherine mulai merasa begitu kesal.


Bagaimana bisa Jelena menjadi amanat cantik? Bukankah anaknya sudah lahir? Jadi mana bisa orang yang sudah melahirkan dan mengurus anak bisa terlihat seperti remaja? Tidak, tentu saja dia tidak akan bisa terima karena dengan penampilan Jelena sekarang dia benar-benar jauh sekali bukan? Make up yang dia gunakan memang boleh memiliki warna natural, tapi ketebalannya jelas sekali terlihat berbeda dengan yang di gunakan Jelena.


Jelena tersenyum, dia juga mengangguk untuk menjawab pertanyaan yang di penuhi oleh rasa penasaran dari Juno barusan.


"Jadi, apa aku boleh bertemu Victor? tidak Alma kok, hanya sebentar saja.'' Ujar Jelena yang sebenarnya juga tidak terlalu perduli dengan pendapat Juno, toh dia bisa datang kapanpun dia mau, dan jika sampai Victor merasa keberatan, dia tahu benar harus bagaimana mengurus tentang Victor.


"Tidak!" Jawab Katherine.

__ADS_1


"Tentu saja, boleh!" Jawab Juno yang terlihat begitu yakin dengan apa yang dia katakan. Kalau Jelena tentu saja dia tidak perlu bertanya atau memikirkan dulu, karena sudah jelas Victor juga menginginkan Jelena. Selama satu pekan lebih Juno memaksa Victor untuk mendapat perawatan karena dia benar-benar merasa kasihan dengan Victor yang hampir tak memiliki waktu istirahat, apalagi saat melihat ponsel, yang ada Victor benar-benar tidak ada waktu untuk istirahat alasannya adalah karena Victor tidak ingin hubungannya dengan Jelena renggang jadi sesering mungkin dia terus mencoba untuk menghubungi Jelena di jam istirahat.


Jelena tersenyum menatap Katherine yang dengan jelas menunjukan tatapan tidak setuju, dia pikir Jelena akan mudah di tindas seperti dulu meskipun penampilan nya berubah drastis.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, kau hanyalah pelayan rumah yang mengandung anak haram, bayi terlarang, aib yang memalukan seperti itu mana cocok untuk Victor? Lebih baik kau cepat pergi, dan urus saja anakmu di banding mengurus Victor, sudah ada aku jadi Victor tidak akan mungkin membutuhkanmu." Katherine menatap Jelena dengan tatapan menghina, juga dengan tegas melarang karena memang dia sama sekali tidak tahu kalau selama ini Jelena dan Victor diam-diam menjalin hubungan. Katherine tentu pernah melihat bagaimana Victor di wawancara mengenai pasangan dan anaknya yang baru lahir saat itu, tapi Katherine mengira apa yang di katakan Victor hanyalah alasan saja agar Katherine tak mencoba untuk terus mendekatinya.


Jelena tersenyum menatap Katherine yang benar-benar tidak berubah sama sekali. Dia malah sok hebat dan bertingkah seolah dunia bahkan harus tunduk padanya.


"Minggir lah, Bibi Katherine. Aku harus lewat, karena aku tidak mau membuat tubuhmu kotor karena tersentuh secara tidak sengaja olehku."


Bibi?


Katherine ternganga tidak percaya dan juga kesal sekali. Usianya baru saja tiga puluh satu dan berani sekali Jelena yang hanya berbeda. betapa tahun memanggilnya seperti itu?


"Tutup mulut sialan mu yang berani sekali memanggil dengan sebutan Bibi! Kau pikir kau anak usia dua tahun sampai memanggilku dengan sebutan Bibi?!" Protes Katherine yang tidak terima di sebut bibi oleh Jelena.


Jelena tersenyum miring, menatap Katherine dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2