
" Nona Katherine, anda adalah wanita, kita sama-sama wanita jadi bagiamana anda bisa bicara seperti itu? Anda meminta saya membunuh anak saya sendiri? " Jelena menatap Katherine dengan tatapan pilu juga kecewa karena memang dia benar-benar merasa kecewa dengan apa yang di katakan oleh Katherine. Pertama orang tuanya sebelum dia tahu anak itu adalah anak Victor, kemudian Victor yang adalah Ayah kandung dari anaknya meminta Rien membunuh anaknya sendiri, lalu sekarang Katherine? Kenapa semua orang memperlakukan dirinya seolah dia akan mendengarkan apa yang semua orang katakan? Bukankah sudah cukup selama ini dia menuruti semua perintah dan ucapan orang lain? Tidak bisa kah sekali ini saja orang lain mengerti akan dirinya?
Katherine membelalak marah mendengar Jelena mengatakan kalimat barusan, dia merasa Jelena sudah semakin berani, dan terang-terangan menunjukan wajah aslinya. Padahal sebelumnya dia seperti tikus terjepit yang mulutnya tertutup rapat karena lem yang hanya bisa sedikit bergerak dan sedikit berbicara. Tapi siapa yang akan menyangka kalau Jelena ternyata pintar juga berbicara, menyerang Katherine dengan kalimat yang begitu puitis.
" Berani sekali kau bicara seperti itu denganku, hah?! Kau itu harus sadar diri kalau kau hanyalah seorang pelayan? Pelayan tentu saja hanya pantas untuk berada di dapur, memegang cucian kotor, dan mengunakan celemek! Kau tidak pantas untuk menjadi istrinya Victor, jadi jangan berani melawan ku! "
Jelena menggelengkan kepalanya saat melihat Popi yang sepertinya semakin kehilangan kesabaran karena Katherine terus merendahkan Jelena. Sebagai seorang sahabat yang sudah selalu mendapatkan bantuan, dia tahu apa yang akan di lakukan Popi akan merugikan popi sendiri maka dari itu, Mulai detik itu juga Jelena akan menanggung semuanya seorang diri. Butuh waktu delapan bulan jika ingin keluar dari rumah besar dan mewah itu, jadi selama Jelena belum melahirkan tentu saja dia tidak akan bisa di usir begitu saja, sedangkan sebaik apapun kinerja Jelena, setelah melahirkan bayinya dia sudah harus keluar dari rumah meninggalkan anaknya di sana, dan menutup mulut serapat mungkin merahasiakan kebenaran bahwa dia adalah Ibu dari anak yang akan dia lahirkan untuk keluarga Victor nanti sesuai dengan perjanjian yang sudah mereka setujui bersama. Jadi, Jelena hanya bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan, juga tidak akan banyak menahan diri lagi jika pada akhirnya orang lain lah yang akan merugi karena dirinya.
" Nona Katherine, bersabarlah sebentar saja, sampai anak ini lahir aku juga pasti akan keluar dari rumah ini dengan sendirinya sesuai dengan perjanjian antara keluargaku dan keluarga Tuan Victor. " Pinta Jelena berharap pembicaraan sengit di antara mereka berakhir sampai di sana saja. Dia tidak ingin terus bertengkar hanya untuk hal yang bahkan tidak dia inginkan.
Katherine terdiam, bukan mengalah, tapi dia sedang berpikir sangat keras sekarang ini. Jika ada anak dari lain yang bukan lahir dari dirinya, bukankah itu akan mempersulit dirinya sendiri? Dia tidak ingin perhatian dari Victor berkurang karena adanya anak, dia tidak ingin nanti anak yang di lahirkan oleh Jelena menjadi duri dalam kehidupannya. Tidak, bukankah dengan begitu Katherine juga harus, mau tidak mau ikut mengurus anak dari Jelena yang hanya seorang pelayan?ana mungkin dia akan melakukanya? Selama ini dia hanya tahu bagaimana indahnya menjamin hubungan cinta, tidak memikirkan sama sekali tentang memiliki anak, karena bagi Katherine memiliki anak artinya dia memiliki beban yang harus melekat padanya seumur hidup. Ah! Apalagi membayangkan memiliki bayi itu harus membersihkan kotoran, menjadikan, dan banyak kegiatan yang tidak dia sukai, jadi mana Sudi dia membiarkan anak di dalam perut Rien hidup?
__ADS_1
Melihat Katherine yang tidak berkata apapun lagi, Jelena pikir semua sudah selesai dan dia tidak perlu mengalami apa-apa lagi jadi beranjak pergi dari sana sebelum Katherine mencari bahan lain untuk mereka berdebat. Popi yang melihat Jelena pergi juga ikut pergi kemana arah Jelena, begitu juga dengan bibi dapur.
Malam harinya.
Setelah Victor kembali ke rumah, Katherine langsung saja menanyakan tentang kebenaran itu. Pada asalnya Victor nampak diam seolah dia juga bingung harus mengatakan apa, tapi kemudian Victor menggenggam tangan Katherine dan mengatakan jika dia memang pernah melakukan itu dengan Jelena secara tidak sadar setelah pulang night party bersama temannya. Tapi sangkalan Victor yang mengatakan jika dia juga ragu dengan siapa Ayah kandung anak itu, karena Victor hanya sekali saja melakukannya, Katherine jadi kembali berpikir sangat buruk terhadap Jelena. Iya, di lihat dari dua orang yang tidak ada sopan santunnya itu sepertinya mereka adalah orang tua Jelena, dan mereka pasti sengaja menjebak Victor agar mendapatkan uang yang banyak dari Victor dan keluarganya.
" Je, apakah menurut mu tidak masalah kalau Nona Katherine tahu soal ini? " Tanya Popi sembari mengusap perut Jelena yang masih langsing dan rata. Popi merasa sepertinya Katherine tidak akan tinggal diam begitu saja mengingat betapa hobinya dia mengerjai Jelena selama ini. Entah memiliki dendam atau apa, tapi sepertinya Katherine memang bukan orang yang berhati baik jadi tidak ada salahnya kalau dia dan juga yang lainnya berhati-hati bukan?
" Jelena tersenyum, lalu mengangguk. " Aku kan tidak bisa menyembunyikannya lagi di saat dia menekan ku terus seperti tadi. Sekarang aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan, jadi jangan khawatir tentang ku lagi ya? " Jelena mengakhiri ucapannya dengan senyum yang begitu manis.
" Je, nanti saat kau keluar dari rumah ini, aku juga akan keluar dan berhenti bekerja. "
__ADS_1
" Kenapa? "
" Aku ingin mengajakmu untuk membuka outlet makanan kecil-kecilan dulu, nanti kalau oke, baru kita langsung mengembangkan sebaik mungkin. "
Jelena tersenyum dan kembali mengangguk.
Masa depan mana ada yang akan tahu, bukan hal baru saat rencana hanya tinggal rencana saja ketika takdir berkata lain. Jelena sekarang ini hanya akan fokus bagaimana menjalani delapan bulan sebelum melahirkan, juga perlahan menguatkan diri agar dia bisa rela dengan sepenuh hati ketika harus meninggalkan anaknya nanti.
" Jelena, apa kau sedih karena memikirkan nasib mu? " Tanya Popi dengan tatapan pilu nya.
Jelena terkekeh, sedih? Tidak, bukan! Tapi lebih dari kata sedih. Saat memikirkan akan betapa bahayanya membawa anaknya karena pasti orang tua Jelena akan menemukan mereka, mencuri anaknya, menjual anaknya, menjadikan anaknya pengemis, pengamen seperti yang pernah di lakukan orang tua Jelena padanya. Meskipun hatinya sakit dan tidak rela, asalkan hidup anaknya bahagia, aman, di cintai, bukankah Kesedihan yang dia miliki cukup terbalaskan dengan kebahagiaan anaknya?
__ADS_1
" Aku hanya punya dia, meskipun nanti dia tidak mengenaliku, bahkan mungkin dia akan merasa malu memiliki Ibu sepertiku, tapi hanya dia satu-satunya yang paling berharga bagiku. " Ucap Jelena menyentuh perutnya dengan lembut.
Bersambung.