Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 48 : Hamil?


__ADS_3

" Sayang, ada apa? " Tanya Katherine Nyang bisa jelas melihat betapa tidak nyamannya Victor saat itu. Padahal mereka sudah cukup lama tidak bertemu, tapi kenapa Victor justru terlihat begitu tidak nyaman, bahkan Victor juga seperti tak memiliki kerinduan yang sama seperti yang dia rasakan? Katherine terdiam sebentar, sepertinya situasi sekarang sudah banyak berubah, dia merasa seperti Victor bukan lagi Victor yang dulu.


" Sayang, apakah sudah lama bertemu tidak ada ridnu untuk ku? " Katherine bertanya, tapi matanya begitu menuntut mengharapkan jawaban yang akan keluar dari bibir Victor sesuai dengan yang dia inginkan.


Melihat wajah Victor yang jelas tidak enak, dia terlihat tidak betah berada di situasi itu lama, Juno dengan segera bertindak.


" Victor, syuting akan di mulai satu jam lagi, kita harus bergegas pergi ke lokasi karena kita bahkan membutuhkan hampir satu jam untuk sampai ke sana. "


Victor mengangguk, tanpa menjawab pertanyaan dari Katherine dia pergi untuk masuk ke dalam mobil, meninggalkan Katherine yang terdiam menahan kesal.


" Jadi sudah mulai menjauh seperti ini? Jangan harap, Victor. Kau tidak akan bisa melakukan ini padaku! " Gumam Katherine kesal sembari menatap mobil yang di tumpangi Victor menjauh darinya.


Di perjalanan menuju lokasi syuting.


" Jun, apa kau pernah membenci seseorang sampai terus memikirkannya, bahkan sampai lupa merindukan orang yang seharusnya kau rindukan? " Tanya Victor yang kini tengah menyenderkan kepalanya, menatap ke arah luar.


Juno terdiam sebentar, dia yang saat ini sedang bersama Manager Victor juga sebentar saling menatap bertanya apakah yah bertanya barusan benar-benar Victor? Selama ini Victor tidak pernah benar-benar membenci orang sampai harus terus memikirkannya. Victor yang biasanya akan masa bodoh dengan orang lain, bahkan menjalin hubungan dengan wanita juga dia terlalu santai seperti perasaan tertarik yang dia rasakan mengambang antara Iya dan tidak.


" Siapa yang kau benci sampai kau terus memikirkannya? " Tanah Juno.


Victor menghela nafasnya, siapa? Tentu saja Jelena!


" Kenapa aku harus memberitahu siapa orangnya? "


Juno tersenyum tipis, sebentar membuang nafas, lalu menoleh untuk menatap Victor.

__ADS_1


" Siapapun yang kau benci sampai kau terus memikirkannya, artinya dia memiliki tempat yang spesial di hatimu. "


Victor tersentak, dia kini menegakkan kepalanya, menatap Juno dengan tatapan kesal.


" Kau sedang bercanda apa?! "


Juno tersenyum, ekspresi Victor seperti sudah menjelaskan segalanya, dia benar-benar menaruh perasaan untuk orang yang dia benci. Tapi untuk tahu siapa orangnya, sepertinya Juno hanya bisa menunggu waktunya tiba, dan terungkap sendiri.


Kenapa aku harus menempatkan Jelena di tempat yang spesial di dalam hati? Gila, aku bahkan tidak pernah memikirkan akan memiliki hubungan semacam itu dengannya. Kalau ini bukan perasaan seperti yah Juno maksud, jadi aku sebenarnya kenapa? apa karena aku merasa kalah, aku merasa di tipu juga?


Victor membuang nafas, mencari posisi yang nyaman, dan mencoba untuk memejamkan matanya.


Di sisi lain.


Jelena terdiam menatap sarapan paginya yang jauh berbeda dengan yang biasa dia makan. Sejenis nasi goreng, tapi di sana ada tambahan jamur, ada kacang juga, dan minumannya adalah jus orange, jus yang sangat tidak Jelena sukai.


Jelena memaksakan senyumnya, dia mengangguk setuju saja karena tidak enak untuk menolaknya. Perlahan dia mulai menyendok makanan, memasukkan ke dalam mulutnya, dan seperti yang dia batin, dia memang tidak menyukai makanan itu.


Huek!


Jelena menutup mulutnya, menatap semua orang yang kini menatapnya dengan tatapan bingung terkecuali Ibu Terra.


" Maaf...... " Ucap Jelena yang merasa tidak enak karena pasti orang jadi tidak berselera karena mualnya barusan kan?


Ibu Terra tersenyum, dia segera mendekati Jelena dan mengusap punggung Jelena perlahan.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, katakan saja apa kau menyukai menu sarapan di sini atau tidak, Ibu akan membuatkan makanan sendiri sesuai dengan selera mu. "


Jemima dan Tomy menatap Jelena dengan tatapan tak suka. Membuatkan makanan sendiri? Bahkan selama ini mereka hanya makan makanan yang di buat oleh Pelayan rumah saja. Bukankah berlebihan cara Ibu Tera memperlakukan Jelena? Apakah sembilan belas tahun akan di gantikan sikap seperti ini seumur hidup?


" Ibu, kenapa Ibu tidak memasak juga untuk kami? " Protes Tomy yang merasa tak terima dengan sikap Ibunya yang begitu pilih kasih.


Ibu Terra menghela nafasnya. Dia sebenarnya juga ingin membuatkan makanan untuk Jemima dan juga Tomy, tapi masalahnya dia sama sekali tidak bisa memasak, dan keinginanya untuk membuatkan makanan kepada Jelena tentu saja akan dia lakukan dengan arahan internet.


" Ibu juga ingin, tapi kau tahu kan? Menggoreng telur saja Ibu selalu gosong, atau kalau tidak ya kurang matang. "


Tomy menjebik sebal, dia menatap sinis kepada Ibunya juga kepada Jelena.


Jemima, gadis itu biasanya juga akan banyak protes, dia akan mengatakan apa yang dia pikirkan tak sekalipun mencoba untuk memendamnya. Tahu, dia juga cukup yakin kalau tidak mungkin bagi kedua orang tuanya membuang dirinya karena selama ini mereka sudah merasakan kebersamaan yang pasti menimbulkan perasaan sayang dan tidak rela untuk berpisah. Tapi, adanya Jelena benar-benar membuat Jemima merasa tertekan, dia merasa tidak pantas untuk mengutarakan apa yang dia rasakan, bahkan untuk bermanja-manja kepada kedua orang tuanya seperti dulu dia juga tidak merasa leluasa lagi.


" Aku tidak apa-apa, aku akan memasak untuk diri sendiri sesuai seleraku. " Ujar Jelena yang melihat wajah tak suka dari Tomy, juga Jemima yang seperti terus menahan diri dan tidak nyaman dengan adanya dia di sana.


" Untuk dirimu sendiri? Kau benar-benar tidak menganggap kami ada ya? " Protes Tomy lagi.


" Tomy! " Kesal Ibu Terra.


" Kakak mu ini sedang hamil, jadi jangan membuatnya sulit. Makanan yang biasa kita makan dan dia jelas berbeda! Jadi jangan terus menyuarakan pendapat yang tidak jelas! "


Tomy langsung terdiam tak ingin lagi bicara karena Ibunya yang terlihat begitu serius dan tegas. Usianya yang baru sepuluh tahun benar-benar membuatnya tidak memahami kalau Jelena adalah Kaka satu Ayah dan Ibu dengannya, dia sudah bersama dengan Jemima dan tidak mudah menggeser Jemima dengan orang lain untuk menjadi kakaknya meski orang itu juga adalah kakak kandungnya sendiri.


" Hamil? Usianya baru sembilan tahun kenapa dia hamil? " Tanya Jemima yang terlihat begitu terkejut.

__ADS_1


Ibu Terra terdiam tidak tahu harus bagiamana menjelaskannya, suaminya yang sudah tahu kebenaran itu juga hanya bisa menahan kesedihan dengan apa yang menimpa putrinya.


Bersambung.


__ADS_2