
Jelena duduk terdiam di tepi tempat tidurnya dengan perasaan lelah, sebenarnya dia benar-benar merasa menyesal, merasa apa yang dia katakan terhadap Victor adalah hal yang seharusnya tidak dia katakan. Dia seharusnya sadar kalau dia hanyalah seorang pelayan rumah yang hanya bisa diam dan melakukan segala perintah dari tuan ruamnya.
Mungkin memang benar ini adalah pengaruh dari mood seorang ibu yang tengah hamil. Rasanya Jelena benar-benar seperti sulit mengendalikan diri, dia mudah tersinggung, mudah berpikir negatif, bahkan dia juga mulai tidak mempercayai siapapun lagi.
Jelena menunduk untuk melihat perutnya yang masih begitu rata. Dia mengatakan satu tangannya, mengusap dengan lembut perutnya sembari berdoa dan menahan tangis. Bukankah dia akan memiliki anak kandung? Tapi kenapa beberapa waktu lalu Jelena sempat berpikir untuk meninggalkan bayinya begitu saja setelah dia di lahirkan? Dengan pemikiran jika hidup bayinya akan bahagia bersama Victor dan keluarganya, tapi dia lupa kalau pasti anaknya akan membenci dirinya karena menganggap Jelena membuangnya.
Perasaan tidak rela sekarang benar-benar Jelena rasakan. Dia tidak ingin berpisah dengan anaknya, dia ingin merawat bayinya hingga dia tumbuh menjadi anak yang hebat. Meskipun masih tidak tahu bagiamana caranya, Jelena akan terus berusaha melakukan apa yang bisa dia lakukan agar dia dan bayinya tidak akan terpisah saat selesai melahirkan nanti.
Di sisi lain.
Victor juga merenung, memikirkan semua yang di ucapkan Jelena beberapa saat lalu. Benarkah semua tidak bisa dia bantah, sungguh dia sampai kehabisan kata karena semua yang di katakan Jelena begitu sesuai dengan kenyataan? Rasanya Victor seperti tidak menerimanya, tapi sial kenyataan juga berkata kalau dia memang seburuk yang Jelena katakan tadi.
Rasanya dia tidak menerima kenyataan bahwa dia adalah seorang suami, tapi dia juga mulai terus memikirkan bahwa dia akan segera memiliki anak. Meski sebelumnya tidak menginginkan anak sama sekali karena beberapa alasan, Victor sekarang jadi seperti memiliki pribadi baru yang mulai sedikit meredam sikap arogan yang biasanya.
Victor membuang nafasnya, bangkit untuk mendekati Jendela dan membukanya lebar-lebar. Biarkan angin malam masuk dan menerpa wajahnya, siapa tahu dengan begitu suasana hatinya juga akan sedikit membaik.
Besok paginya.
Victor terus menguap saat dia tengah duduk di meja makan untuk menyantap sarapan paginya. Semalam dia benar-benar tidak bisa tidur memikirkan apa yang Jelena ucapkan.
__ADS_1
Rasanya kesal karena tak mendapatkan jawaban, tapi Victor justru di buat semakin kesal saat Jelena justru tak banyak bicara begitu bertemu dengannya. Jelena mencoba untuk terus menghindar dengan wajah yang seolah terang-terangan tak memiliki minat sedikitpun untuk melihat ke arah Victor.
Aneh, padahal Jelena hanyalah seorang pelayan yang dengan rangkaian cerita akhirnya menjadi istri yang tidak di inginkan. Tapi kenapa Victor justru kesal karena seperti di acuhkan? Lagi, sejak kapan Victor perduli dengan pelayan rumahnya. Apakah karena Victor khawatir dengan bayi yang di kandung Jelena? Bayi itu juga adalah anaknya, tapi sepertinya bukan karena itu juga. Mungkinkah karena perasaan bersalah karena sudah menuduh Jelena sangat buruk? Entah, Victor benar-benar tidak memahami dirinya sendiri, dan bingung sebenarnya kenapa perasaannya sangat kacau sekali hanya karena ucapannya Jelena?
Setelah selesai sarapan pagi, Victor sebentar duduk di ruang tengah sembari memainkan ponselnya. Hari ini dia berniat istirahat saja di rumah sampai nanti pukul tujuh malam untuk syuting.
Victor membuang nafasnya begitu melihat potongan wawancara Katherine semalam. Sungguh Victor tidak tahu kalau Katherine akan mengatakan kalimat yang benar-benar membuat Victor tidak suka. Bukannya mengakui kalau hubungan mereka hanyalah rumor, atau mereka dulu pernah menjalin hubungan, namun sekarang sudah tidak lagi.
" Semua orang bebas memiliki hubungan spesial, kenapa harus keberatan dan memprotes? Jangan mengajukan banyak pertanyaan, aku tidak bisa memberikan jawaban. "
Seperti itulah kalimat yang keluar dari mulut Katherine. Tentu saja Victor tahu benar bahwa Katherine pasti sengaja menjawab pertanyaan para wartawan dengan kalimat mengambang, tidak jelas apa artinya, tapi juga membuat orang lain meyakini rumor itu adalah benar.
" Tuan, siang nanti aku akan keluar sebentar untuk membeli kebutuhan bulanan ku. Karena Popi sedang tidak enak badan, Bibi dapur juga harus mengerjakan tugas rumah, aku akan minta tukang kebun untuk menemani, dan memastikan benar bahwa bayi ini akan baik-baik saja. " Ucap Jelena yang membuat Victor tersentak karena sama sekali tidak menyadari keberadaan Jelena karena sangat fokus menatap ponselnya.
Victor terdiam sebentar, sebenarnya dia tidak ingin melakukan ini, tapi entah mengapa apa yang di katakan Jelena kemarin membuat Victor berpikir bahwa dia tidak ingin Jelena kembali mengungkit dan mengatakan kalimat yang tidak enak di dengar itu.
" Biar aku yang antar. "
Apa?
__ADS_1
Jelena terdiam dengan tatapan terkejut menatap Victor yang tak menatapnya sama sekali karena dia begitu fokus dengan ponselnya.
" Jangan menatapku seperti itu, aku melakukan itu karena aku hanya tidak ingin anak itu menyalahkan ku saat dia lahir dan besar nanti. Setidaknya aku juga membantu saat dia masih di dalam perut. "
Sial!
Victor semakin tidak ingin menatap Jelena karena merasa malu dengan apa yang barusan dia katakan. Kenapa? Kenapa dia harus beralasan seperti itu? Padahal dia bisa mengatakan jika dia juga memiliki kebutuhan yang sedang dia ingin beli kan? Atau bisa beralasan kalau dia juga satu jalur dengan tempat yang akan di tuju Jelena?
" Tidak apa-apa, Tuan Victor. Aku bisa berbelanja dengan tenang nanti. "
Victor membuang nafanya. Jadi apakah maksudnya jika Victor ikut pergi akan membuat Jelena tidak bisa berbelanja dengan nyaman? Apakah memang benar wajah Victor terasa begitu mengganggu bagi Jelena? Tidak, dia jelas tampan jadi tidak mungkin akan ada wanita yang merasa keberatan melihat wajahnya dan berniat untuk berada selalu di dekatnya.
" Kau pikir aku juga suka rela mengantar mu kesana? Aku juga harus pergi belanja, jadi jangan sok menolak. "
Jelena tak lagi ingin bicara.
Seorang aktor ternama, anak dari pasangan keluarga pebisnis hebat, dia memiliki wajah yang tampan, tubuh atletis, juga di idolakan oleh banyak wanita, kenapa pria seperti itu harus menemaninya belanja? Bukanya merasa senang, Jelena justru merasa akan mendapatkan masalah saat dia berada di dekat Victor, atau kasarnya Jelena menganggap Victor adalah beban untuknya.
Bersambung.
__ADS_1