Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 7 : Tertahan Keadaan


__ADS_3

" Tuan, saya tidak akan membantah jika saya anak dari pasangan yang menurut cerita orang sangat brengsek, tapi bisakah saya minta tolong untuk jangan mengatakan tentang jual diri dan menggugurkan kandungan? Dokter bilang penting untuk menjaga ucapan, karena bayi juga bisa merasakan dan mendengar apa yang di ucapkan di sekitarnya. " Ucap Jelena sembari menggenggam tangannya yang terkuak, dia berucap begitu banyak tanpa berani menatap Victor yang jelas amat tidak suka mendengarkan apa yang di katakan Jelena. Tentu saja statusnya yang sebagai pembantu, sekaligus istri tak di anggap dia tidak bisa banyak bicara, tapi kalian mengenai bayinya dia memberanikan diri mengatakan apa yang menurutnya harus di katakan.


Victor tersenyum sinis, dia menggeleng dan membuah nafas kesal karena Jelena untuk pertama kali berani membantah ucapannya. Sebenarnya dia juga hanya kesal saja mengatakan untuk menggugurkan kandungan, karena kalau sampai orang tuanya tahu mereka jelas akan menyalahkan Victor, bisa juga jadi mengekang Victor untuk berhenti menjadi aktor dan fokus mengelola usaha keluarga. Mengusir Jelena tentu saja bukan hal yang bisa dia lakukan, karena dia dan juga Jelena sudah menandatangani surat perjanjian bahwa sebelum bayi itu lahir dan di pastikan benar anak dari Victor, Jelena tidak boleh keluar dari rumah itu. Jika bayi itu lahir dan terbukti anak itu harus di jauhkan dari Victor dan keluarganya, uang yang sudah di berikan kepada Jelena juga akan di kembalikan di hari bayi itu di nyatakan Iya atau tidaknya anak dari Victor. Yah, tidak perduli tengah anak itu, toh nyatanya anak siapa yang di kandung Jelena, begitu anak itu lahir Jelena akan segera keluar dari rumah dan dia bisa hidup tenang seperti biasanya.


" Kau tidak punya hak untuk mengaturku dalam hal apapun. Keluarlah, aku merasa gatal sekujur tubuhku karena dekat denganmu. "


Jelena tak menjawab, dia segera keluar dari kamar Victor dan berjalan menuju ke dapur. Sebelum itu dia sudah mengambil kotak obat jadi dia bisa mengobati lukanya di sana. Bibi dapur sedang sibuk membuat kue kering kesukaan Victor, sementara Popi sedang mengepel di bagian depan jadi Jelena hanya bisa mengobati lukanya seorang diri.


Sore harinya.


Jelena terdiam memandangi betapa gagahnya Victor di layar kaca televisi yang sedang dia tonton. Dia nampak sangat ramah dan hangat, juga begitu nyambung ketika ada yang bicara dengannya. Ah, benar-benar jauh berbeda kalau sedang ada di rumah. Victor yang sat itu sedang menghadiri acara taksi show yang tayang secara live benar-benar membius jutaan penonton dengan visualnya yang begitu sempurna, di tambah Victor sangat pintar membawa diri menambah kesan berkharisma begitu memancar di dalam dirinya.


Pertanyaan terakhir dari si pembawa acara adakah, apakah Victor sedang menjalin hubungan? Victor menjawab dengan berani dan sangat, ada! Aku sedang beroacaran dengan serang gadis cantik. Seperti itulah jawaban Victor membuat si pembawa acara membual dengan mengatakan bahwa dia merasa kecewa karena idolanya ternyata mengidolakan kekasihnya. Jelena hanya bisa tersenyum pahit, kalau di pikirkan bukankah Victor dan Katherine adalah padangan yang sangat serasi? Victor tampan dan sangat terkenal, Katherine juga sama seperti Victor. Lalu apa yang membuat keduanya sama-sama menyembunyikan hubungan mereka? Hah! Kalau Jelena menjadi Katherine, dia pasti akan memamerkan kepada seluruh dunia bahwa Victor adakah kekasihnya, Victor begitu jatuh cinta padanya, BLA BLA masih banyak lagi.

__ADS_1


" Berhentilah memandangi suami antagonis mu itu, dia tidak lantas untuk kau tatap penuh cinta seperti itu. " Kesal Popi yang baru saja masuk ke dalam kamar Jelena untuk mengantarkan saja hamil dan juga buah yang sudah di potong-potong.


Jelena membuang nafasnya, lalu menatap Popi dengan tatapan sebal.


" Aku kan sudah mengidolakan dia sejak lama, bukan mencintai dia. Aku tidak pernah sekalipun menginginkan posisi ini, rasanya sangat berat, menakutkan, dan menyakitkan. " Ujar Jelena membuat Popi menghela nafas dengan perasaan sedih. Tentu saja dia tahu bagiamana sulitnya menjadi Jelena. Dia harus hidup tanpa keluarga yang mendukung, tidak memiliki teman saat sekolah, tetangga ogah mendekat padanya, sekarang harus berada di posisi yang sulit. Kalau saja Jelena tidak memiliki orang tua gila, kalau saja dia tidak menandatangani surat perjanjian, kalau saja semua ini bisa di ulang lagi, sebagai seorang sahabat dia pasti akan menjauhkan Jelena dari semua hal mengaitkan ini.


" Iya, aku juga tidak mungkin sanggup kalau jadi kau, Jelena. Belum lagi saat kau melahirkan nanti, bayimu akan tinggal di sini dan kau harus pergi, aku tidak sanggup membayangkannya. " Ujar Popi.


" Sepertinya akan lebih bagus kalau seperti itu, Popi. Anak ini akan tumbuh di keluarga yang baik. Kau bisa bayangkan bagiamana jika dia tinggal bersama keluargaku bukan? Aku justru lebih takut dan sedih kalau sampai dia terluka, atau dalam bahaya. Beberapa hari lalu aku sempat berpikir, bagaimana kalau aku lari saja ya? Tapi, aku mau lari kemana? Aku tidak punya uang, tidak ada tujuan, dan kalau bayi ini lahir apakah aku bisa melindunginya dengan baik? Meskipun sulit sekali menjalani hari-hari di tempat ini, tapi aku hanya perlu bersabar saja, karena anak ini adalah anak Tuan Victor, aku yakin Tuan Victor, Nyonya dan Tuan besar pasti akan melindungi dia jutaan kali lebih. "


Popi mengangguk setuju, lalu memeluk Jelena.


" Tidak ada yang lebih baik darimu, Jelena. Kau selalu melakukan hal baik, hanya saja kau salah karena memiliki orang tua seperti mereka, kau salah karena terlalu naif dan bodoh, dan aku juga salah karena tidak berani mencegah malam itu terjadi. "

__ADS_1


Jelena tersenyum, menyeka air matanya yang jatuh karena dia tidak ingin Popi melihat dia menangis. Tidak, ini sudah bukan waktunya lagi untuk bersedih. Kata jika di dunia ini hanyalah untuk menghayal saja jadi untuk apa memikirkannya? Sekarang semua sudah terjadi, bayi yang ada di perutnya sana sekali tidak bersalah, karena kalau dia boleh memilih, dia pasti akan memilih rahim dari sekarang wanita terhormat, dan juga kaya raya bukan?


Popi dan Jelena mengurai pelukannya, lalu saling menatap dan tersenyum.


" Jelena, kalau nanti kau sudah melahirkan, kau kan tidak boleh tinggal di sini lagi, bagaimana kalau kita buka usaha saja? " Tanya Popi dengan semangat.


Jelena tersenyum dan mengangguk. Apa yah akan terjadi nanti, maka biarkan saja dan jalani waktu dengan baik. Tidak usah memusingkan apapun karena semua masalah akan datang silih berganti jadi fokus saja untuk hal yang perlu.


" Baiklah, ayo menonton Tuan Victor lagi! " Ujar Jelena.


" Aku tidak mengidolakan dia, kau saja yang menonton! "


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2