
Dua hari Ken berada di sana, dan dua hari sudah Ken menahan diri untuk tidak melakukan apapun yang akan membuat Jelena marah dan kesal. Victor juga masih berada di sana, entah apa yang menahan pria itu, tapi Victor memang terlihat begitu waspada, dia bahkan tak memberikan sedikit saja waktu untuk Jelena dan Ken berbicara berduaan saja.
"Kak Ken benar-benar akan kembali sekarang?" Tanya Jelena yang terlihat tidak rela dan sedih. Bagaimanapun dua hari adalah waktu yang singkat, bahkan bisa di bilang rasa lelah dari perjalanan kemarin saja masih belum hilang.
Ken yang saat itu tengah mengemas pakaiannya hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Sebenarnya dia masih ingin berada di sana lebih lama untuk menemani Jelena dan menemani Mira, tapi sekarang sudah ada Victor, walaupun memang sempat dia membenci sikap Victor, tai melihat bagaimana Victor yang sekarang, Ken merasa Victor bahkan lebih baik di banding dirinya. Jadi Ken merasa tidak masalah meninggalkan Jelena dan Mira, toh nanti akan ada lagi waktu yang bisa dia gunakan untuk di habiskan bersama Mira dan syukur kalau juga dengan Jelena.
"Apa Kak Ken merasa tidak nyaman dan kesal karena dua hari ini aku dan Victor terus menitipkan Mira kepada kak Ken dan pengasuh, sementara kami berdua justru sibuk sendiri." Ken terkekeh pelan, walaupun dia memang cemburu, tapi melihat Jelena yang merasa bersalah Ken jadi tidak bisa menahan tawanya lagi.
"Kenapa aku harus kesal, Jelena? Benar aku memang menginginkanmu, aku memang sedikit kesal kau terus pergi untuk kencan dua hari ini bersama dengan Victor. Tapi alasanku kembali bukan karena lelah menjaga Mira, bukan juga karena cemburu. Kau tahu benar kalau Ayah dan Ibumu bahkan hampir tidak bisa tidur dengan tenang setiap harinya bukan? Dia sibuk mengurus Tomy, sibuk mengurusi Jemima, dan sibuk mencemaskan mu. Pekerjaan kantor di limpahkan padaku untuk beberapa waktu ini makanya aku benar-benar sangat sibuk sekali."
Jelena memaksakan senyumnya, benar saja dia sudah beberapa hari ini tidak mengunjungi kedua orang tuanya, tapi Jelena janji setelah ini dia akan menghubungi Ibunya untuk menanyakan kabar keluarga. Kemarin Ibunya Jelena sempat mengeluh dengan Tomy yang terus membuat ulah di sekolah, Jemima juga sedang drop sehingga dia benar-benar sibuk sekali, dan sudah dua bulan ini Jelena tidak bertemu dengan Ayah dan Ibunya.
"Baiklah, tolong sampaikan kepada mereka semua untuk tetap menjaga kesehatan, aku merindukan mereka."
Ken mengangguk paham.
Setelah berpamitan dengan Jelena dan Mira, begitu juga dengan Victor, Ken segera menuju ke bandara dan dia juga memilih untuk tidak perlu merepotkan orang lain jadilah Ken pergi dengan taksi.
Beberapa saat kemudian.
"Kau sedih sekali ya Kak Ken mu itu pulang?" Tanya Victor yang sebenarnya sudah sejak tadi memperhatikan wajah Jelena yang terlihat tidak bersemangat setelah Ken meninggalkan rumahnya.
Jelena sebentar menatap Victor yang sedang berjalan mendekati dimana dia tengah duduk sembari memangku Mira yang sudah mulai tertidur.
__ADS_1
"Memangnya tidak boleh?"
"Tidak, tidak boleh!"
Jelena membulatkan matanya, menatap Victor dengan tatapan tajam. Yah, maksudnya untuk jangan berisik dan mengganggu Mira yang baru saja mulai tertidur.
"Maaf...." Ucap Victor lirih lalu perlahan mengambil posisi untuk duduk di sebelah Jelena.
"Bagaimana kalau lusa kita juga pulang? Aku harus pulang untuk membatalkan peranku di film yang aku ceritakan padamu. Aku juga ingin mengakhiri kontrak dengan salah satu brand sebelum nanti managerku memperpanjang kontraknya."
Jelena terdiam sebentar, bukannya tidak ingin kembali sekarang, hanya saja Jelena masih belum siap, dia juga memiliki bisnis yang baru saja mulai berjalan, pendidikannya pun belum selesai.
"Je, setelah aku mengakhiri kontrak dan sebagainya, kita langsung menikah saja ya? Aku pikir akan lebih baik kalau lebih cepat menikah, kita jadi bisa memiliki waktu yang banyak bertiga. Juga tidak perlu mondar mandir seperti ini lagi kan?"
"kita baru saja mulai untuk lebih dekat, bagaimana bisa kita langsung menikah begitu? Setidaknya aku kita lebih saking mengenal, aku juga harus menggapai cita-cita ku, menyelesaikan pendidikan ku. Kalau kau tidak sabar untuk menikah, bagaimana kalau-"
Victor menatap Jelena dengan tatapan sebal.
"Kalau apa? Kau mau bilang untuk menikah saja dengan orang lain? Sungguh kau ingin begitu?"
Jelena terdiam, menelan salivanya karena memang itu yang ingin dia katakan, hanya saja dia tidak benar-benar serius ingin seperti itu. Benar, dia memang menyukai Victor, ingin memiliki lebih banyak waktu untuk bersama, tapi pelajaran hidup mengajarkan Jelena untuk menjadi wanita yang mampu menopang dirinya sendiri tanpa bantuan pria, juga penting saling mengenal lagi lebih jauh agar fisik dan mentalnya siap membangun rumah tangga tanpa ada tekanan dari masa lalu.
"Apa kau masih berpikir bahwa aku sanggup melakukan itu? Tidak, aku bahkan tidak memiliki minat secantik apa pun wanita lain di hadapan ku. Aku tahu ini memang terlalu cepat, tapi perasaan takut kehilangan mu dan Mira lebih besar di banding apapun."
__ADS_1
Jelena tersenyum tipis, sungguh masih tidak bisa di sangka kalau pria yang duku sangat dingin akan mengatakan kalimat seperti itu.
"Aku bukannya meragukan mu, tapi bisakah kau bersabar sampai aku benar-benar siap secara keseluruhan? Aku masih ingin menggapai beberapa hal, ingin menyelesaikan pendidikan, aku ingin sedikit saja terlihat cocok denganmu, jadi bisakah kau bersabar sebentar lagi?"
Victor terdiam sebentar, sebenarnya kalau boleh jujur dia sih inginnya cepat-cepat menikah sebelum Ken akan merebut Jelena, atau pria manapun juga. Tapi kalau dia begitu egois seperti itu, jelas Jelena tidak akan Sudi untuk bersanding dengannya bukan? Hubungan pernikahan yang sebelumnya adalah hubungan pernikahan yang mengakibatkan untuk Jelena, untuk kedua kalinya tentu dia tidak boleh memberikan luka yang sama untuk Jelena bukan?
"Berapa lama kira-kira?" Tanya Victor dengan mimik pasrah yang terlihat begitu lucu di mata Jelena.
"Bagiamana dengan lima puluh tahun?"
Victor menoleh, menatap Jelena dengan tatapan terkejut.
"Aku bahkan tidak yakin punyaku masih bisa berdiri atau tidak, atau bahkan mungkin aku tidak hidup lagi."
Jelena terkekeh pelan.
"Aku hanya bercanda, aku tidak tahu kapan, tapi aku yakin tidak akan selama itu pastinya."
Victor kembali menghela nafasnya, sudahlah! Bisa apa dia sekarang selain mengiyakan ucapan Jelena? Nantinya mereka akan hidup bersama, jadi meredam ego sudah harus dia latih sejak dini karen kalau tidak, bisa jadi nanti berujung perpisahan lagi.
"Baiklah, aku akan mencoba sebaik mungkin memenuhi keinginanmu."
Bersambung.
__ADS_1