
Pagi hari.
Seperti biasanya, Jelena akan berolah raga dengan berjalan kaki, dan seperti biasanya juga Victor akan mengikuti Jelena dari belakang, memastikan Jelena akan baik-baik saja.
Jelena yang menyadari benar dia di ikuti hanya bisa menahan diri untuk tidak menunjukan bahwa dia sudah mengetahui akan hal itu. Mencoba untuk tetap tenang, berjalan seperti biasanya seolah-olah tidak ada yang dia pikirkan. Padahal dia benar-benar sangat berdebar takut. Takut jika saja orang itu justru memiliki niat jahat, tapi juga tidak berani banyak menuduh karena dia juga memiliki sedikit dugaan mungkin saja pria itu di utus oleh Ken untuk melindunginya.
Jelena terus berjalan, mengusap perutnya terus dengan lembut, dia mencoba untuk mengalihkan fokusnya berharap bisa menenangkan dirinya, tapi karena sudah lama Jelena berjalan dan belum ada pergerakan apapun dari pria yang mengikutinya, Jelena mencoba untuk menguji pria itu.
Jelena menghentikan langkah kakinya, otomatis pula Victor juga berhenti dan hanya diam mengamati apa yang akan di lakukan Jelena.
Sebentar Jelena terdiam, menggerakkan bola matanya ke samping memastikan ptiabitu tidak terlalu dekat dengannya. Setelah itu Jelena berpura-pura memegangi kepalanya, mengeryitkan dahi agar terlihat menahan sakit, lalu melemahkan tubuhnya seolah gontai dan ingin terjatuh. Benar saja, pria itu dengan cepat dan sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Kesempatan itu Jelena gunakan untuk secepat mungkin meraih kaca mata hitam dan masker penutup mulut dan hidung yang di gunakan pria itu.
" Tuan Victor? " Jelena terdiam dengan wajah terkejutnya, sama dengan Victor yang juga terkejut. Sungguh dia tidak tahu kalau pada akhirnya dia akan di bodohi oleh Jelena, dan sekarang identitasnya sudah sangat jelas di ketahui, dia juga tidak bisa mengelak sama sekali.
__ADS_1
Jelena segera menjauhkan tubuhnya, menyerahkan kaca mata hitam dan masker penutup mulut kepada Victor. Padahal hidupnya baik-baik saja selama tidak ada Victor di sekitarnya, kenapa sekarang tiba-tiba saja dia harus mendapati Victor padahal dia sudah pindah negara bukan?
Victor juga tidak tahu harus mengatakan apa, dia terdiam sembari berpikir dari mana dan dari bagian mana dia akan mulai berbicara namun sayangnya hingga sekarang Victor justru hanya sibuk memikirkan saja.
" Tuan Victor, ini bukan kebetulan kan? Kenapa Tuan Victor bisa berada di sini? " Tanya Jelena dengan tatapan yang kuat biasa begitu terasa menekan dan memperlihatkan betapa keberatan juga betapa marahnya Jelena karena harus melihat Victor di sana.
Victor menunduk sebentar, untung saja Jelena memulai pembicaraan di antara mereka, karena kalau tidak sampai detik ini Victor pasti tidak akan tahu harus mengatakan apa.
Jelena tersenyum kelu, memastikan dirinya baik-baik saja? Kenapa ucapan itu sama sekali tidak pantas di ucapkan oleh Victor yang selama ini menginginkan kematian janin di dalam kandungan Jelena. Rasanya muak sekali melihat wajah Victor yang seolah dia ingin melindungi dan benar-benar perduli. Nyatanya Jelena sudah begitu terbiasa di khianati dan di perlakukan buruk, atau juga masa bodoh. Sekarang sesulit apa masalah yang harus dia lalui, walaupun memang sangat berat, Jelena akan menghadapi dengan hai yang teguh. Justru sikap baik Victor yang sangat tidak biasa, membuatnya risih, tidak! Bukan hanya itu, tapi Jelena merasa mual, jijik melihat cara bicara Victor yang begitu berbanding terbalik dari Victor yang dulu dia kenal.
" Tuan Victor, Kak Ken mengatakan padaku kalau perjanjian di antara kita, yang juga di ganda tangani oleh para orang tua bisa dengan mudah di batalkan. Maka itu aku juga tidak akan mengikuti peraturan itu, aku tidak akan menyerahkan anak ku, jadi jangan harap aku akan menyerahkan bayi ini apapun yang terjadi. " Jelena mengepalkan tangannya, rasanya dia kesal sekali karena Victor dan keluarnya seperti tidak kenal lelah dan hobi sekali menekan seseorang dengan kelemahannya. Mungkin ini juga menjadi pelajaran Jelena, di masa depan untuk menjauh dari Victor dan keluarganya, fokus dengan hidupnya, mencintai diri sendiri, dan jangan biarkan orang lain mengetahui sisi lemah yang akan di jadikan sebuah peluang untuk menekan kita.
" Entah perjanjian itu ada atau tidak, yang paling penting adalah anak kita akan selalu menghubungkan kita berdua. " Ujar Victor yang semakin membuat Jelena tidak habis pikir. Anak kita? Tunggu! Apakah pria di hadapannya, pria yang selau menatapnya dengan dingin, memicingkan mata, tersenyum dengan kesan menakutkan, mengancam, juga menghina itu mengatakan kalimat barusan? Tidak! Jelena kini semakin curiga, dia tidak ingin berada di dekat Victor karena yakin benar jika pada akhirnya dia akan mendapatkan siksaan batin lagi, dia juga menduga kalau Victor pasti sengaja mengatakan itu agar bisa membawa anaknya kembali ke rumahnya tidak perduli bagaimana keadaan Jelena nantinya.
__ADS_1
" Hentikan, hentikan apa yang kau katakan, Tuan Victor. Terserah kau akan melakukan apa, tapi ingatlah aku, juga keluargaku akan menahan bayiku bersama dengan ku. Kau bisa saja pintar mengelabuhi orang lain tapi aku tidak akan pernah mengikuti tipuan mu lagi. " Ujar Jelena dengan berani, dia juga menatap Victor yang sedari tadi memilih untuk menjadi pendengar saja. Biarkan saja Jelena berpikir buruk tentangnya, dia tidak akan mengatakan apapun sebagai balasan, dan dia menerima segala hukuman dengan sangat berterimakasih asalkan memang benar itu dapat membuat hati Jelena sedikit membaik.
" Pergilah, Tuan Victor. Aku tahu Tuan Victor adalah orang yang sangat sibuk, pasti untuk berada di tempat ini sudah membuat miliaran uang hilang begitu saja bukan? "
Victor masih memilih untuk diam, sepertinya apapun yang dia katakan kepada Jelena hanya akan di anggap angin lalu saja. Padahal apa yang Jelena katakan sungguh tidak seperti yang dia rasakan. Tidak apa-apa, Victor tentu saja harus menerima bagaimanapun reaksinya setelah dia mengecewakan Jelena berkali-kali.
" Tuan Victor, aku mohon menjauh lah dariku, aku akan berusaha untuk menjaga diri sendiri dengan baik, tolong juga untuk tidak muncul di hadapan ku. Mengenai anak yang aku kandung ini, biarkan menjadi urusan ku dan juga keluarga ku. Tuan Victor tidak menginginkan anak bukan? Tuan Victor tidak ingin karirnya hancur bukan? Maka jangan memikirkan soal anak ini lagi, aku akan mengusahakan yang tebaik untuk anak ini. Aku harap Tuan Victor juga mengerti, aku juga berharap Tuan Victor kembali menjadi Tuan Victor yang dulu. "
Victor menghela nafasnya.
" Apa sudah selesai? " Tanya Victor.
Bersambung.
__ADS_1