
Jelena terdiam karena dia sangat terkejut melihat Katherine yang diam-diam menyiramkan minyak di depan pintu kamar Jelena. Untungnya saat itu Jelena sedang berada di luar kamar tanpa sepengetahuan Katherine karena dia tengah berada di dapur untuk mengambil buah dan juga jus. Asalnya Jelena bingung melihat Katherine yang berjalan pelan sembari membawa gelas berisi air yang agak kuning, dan jelas itu adalah minyak goreng. Katherine menyiramkan minyak itu di depan pintu kamar Jelena, tentu saja Jelena tahu apa niat Katherine barusan. Dia ingin mencelakai bayi yang ada di perut Jelena dengan membuat Jelena terjatuh.
Padahal dia sudah menjelaskan sejelas mungkin, sudah memohon untuk di berikan kesempatan agar menunggu saja bayinya lahir baru akan pergi. Tapi kalau seperti ini, bisa-bisa bayinya bahkan meninggal sebelum di lahirkan bukan?
Popi yang juga melihat itu hanya bisa membatin penuh kemarahan, dia sebenarnya ingin sekali menghampiri Katherine dan menegurnya. Tapi Victor pasti akan tetap menyalahkan dirinya, dan mempercayai Katherine bukan? Sial sekali karena saat ini dia dan juga Jelena tidak sedang membawa ponsel, jadi mereka hanya bisa melihat seperti ini sana, berharap kedepannya Jelena bisa menjadi lebih jeli lagi untuk menghadapi Katherine yang sepertinya tidak akan bisa menerima anak yang akan dilahirkan Jelena.
" Kau lihat kan, Je? Dia begitu licik dan selalu mencari masalah dengan mu sedari dulu, padahal dia tahu kau sedang hamil, tapi niatnya justru ingin membunuh anak mu. Kau akan terus mengalah dengan orang seperti itu? Kau tidak boleh diam begitu saja, menurut apa yang orang lain katakan, kau harus bisa melindungi dirimu terutama anak mu, Jelena. " Ucap Popi mengingatkan Jelena setelah Katherine beranjak pergi dari sana.
Jelena menyentuh perutnya, mengigit bibir bawahnya menahan perasaan yang begitu sulit kalau hanya untuk di jabarkan melalui kata-kata. Tapi sekarang dia sadar benar kalau bayinya akan terus dalam bahaya jadi dia harus mencari cara untuk memperhatikan dan memastikan benar bayinya akan lahir dengan sehat.
" Popi, menurut mu selain berhati-hati dengan Nona Katherine, apa yang harus aku lakukan? " Tanya Jelena.
" Banyak! Kau harus bisa membuat Tuan Victor melindungi mu, kau harus bisa mendorong Nona Katherine untuk tidak lagi datang ke rumah ini, dan pastikan dia tidak berani melakukan apapun pada bayi mu. "
Jelena membuang nafasnya. Membuat Tuan Victor melindunginya? Kedengarannya memang sangat sulit, pakai harus mendorong Katherine keluar dari rumah itu, atau tidak lagi sering datang. Tapi sekarang nyawa bayinya akan terus berada di dalam bahaya jika Jelena hanya bisa diam dan mematuhi segala perintah.
__ADS_1
" Jangan kebingungan begitu, Jelena. Ingat saja kau adalah Nyunya muda di rumah ini apapun alasannya dan seberapa lama kau akan menjadi Nyonya. Gunakan status itu untuk menekan Nona Katherine, dia harus tahu diri dan tidak boleh terus membuat mu tertekan. "
Jelena sebentar berpikir, memang benar dia adalah Nyonya muda sementara, dan dia juga ragu apakah benar bisa melakukanya atau tidak, tapi bayinya bergantung padanya, jadi tidak ada yang tidak mungkin jika dia benar-benar bersungguh sungguh untuk melakukannya bukan? Jelena mengepalkan tangannya, kali ini dia akan melindungi anaknya, dia tida boleh membuat anaknya menderita seperti dirinya.
" Baiklah, aku akan melakukan apa yang aku bisa. " Ucap Jelena membuat Popi tersenyum dengan lega. Jelena memang harus menjadi lebih kuat, lebih berani, jangan pikirkan apakah nanti akan di usir, karena kalau memang benar begitu, setidaknya perjanjian yang telah di sepakati berdua akan berakhir atau batal. Memang benar Jelena memikirkan masa depan anaknya, tapi satu hal pasti yang Jelena tahu adalah, apapun yang terjadi selama bayi itu masih di dalam kandungannya dengan sehat, dia masih akan tetap berada di sana.
Setelah itu, Jelena dan juga Popi membersihkan minyak yang ada di depan pintu kamar Jelena dengan hati-hati agar Katherine tidak menyadarinya, dan mulai malam itu Popi akan tinggal di kamar Jelena guna memastikan benar keamanan Jelena dan bayinya.
Besok paginya.
Jelena membantu Bibi dapur untuk menyiapkan makanan, dan pagi itu Jelena langsung mengambilkan sarapan untuk Victor membuat Katherine kesal. Tentu saja dia kesal karena ternyata Jelena hanya mengambilkan Victor saja, lalu mengisi makanan di piringnya dan duduk di sebelah Victor seperti benar-benar dia adalah Nyonya muda di rumah itu.
" Nyonya besar menghubungiku semalam, dia menanyakan bagaimana kabar bayi kita, dan karena dia khawatir aku mengabaikan bayi ini, dia memintaku mengirimkan photo saat sarapan pagi bersama Tuan, makan siang dan makan malam saat Tuan ada di rumah. "
Victor gak bisa berkata-kata kalau soal orang tuanya.
__ADS_1
" Kalau Tuan Victor tidak percaya, Tuan Victor boleh menghubungi Nyonya besar dulu. " Timpal Jelena yang tentu saja Victor tidak berani bertanya kepada orang tuanya. Karena kalau sampai benar dia bertanya apakah benar dia meminta Jelena melakukan itu atau tidak, tentu saja Victor akan di cecar dengan jutaan pertanyaan dan membuat Ibunya tahu kalau selama ini dia mengabiskan bayi yang ada di perut Jelena, dan keberadaan Katherine pasti akan membuat Ibunya Victor meradang.
" Terserah kau saja. " Ujar Victor membuat Katherine terperangah tidak percaya kalau Victor akan mengalah semudah itu.
" Nona Katherine, bisa minggir dulu sebentar? Saya akan mengambil photo bersama dengan Tuan Victor dulu. "
Katherine menggigit bibir bawahnya menahan kesal. Victor tidak bereaksi apapun sudah pasti Victor tidak keberatan dia menyingkir bukan? Sial! Kenapa semua jadi begini? Jelena masih baik-baik saja, tidak ada cerita kalau dia jatuh karena minyak goreng yang ia siram di depan pintu kamarnya, dan sepagi ini sudah membuatnya kesal sekali.
" Maaf, Tuan Victor. Bisakah Tuan Victor sedikit tersenyum? " Pinta Jelena saat Victor hanya berekspresi dingin seperti biasanya.
" Tidak akan. " Jawabnya singkat.
" Anu, Nyonya besar bilang kalau mood Ibu hamil harus selalu baik, dan dia meminta Tuan Victor untuk jangan selalu menunjukkan wajah masam agar bayi kita juga bahagia. "
Sial! Katherine merasa seperti orang ketiga dalam hubungan rumah tangga orang lain yang begitu bahagia saja.
__ADS_1
Victor membuang nafasnya, memaksakan dirinya untuk tersenyum.
Bersambung.