
Setelah hari di mana mereka bicara, Jelena memutuskan untuk tidak keluar rumah seharian. Rencana untuk membuka mini resto juga di undur karena tidak ingin ada gangguan apapun, dan dia juga tidak ingin kalau sampai harus bertemu dengan Victor lagi.
Pagi tadi Victor mengetuk pintu rumahnya, dan Jelena tentu tidak membuka pintu. Dia tidak ingin terlena oleh akting Victor yang memang sangat baik, dia tidak ingin di perdaya oleh kepura-puraan yang di lakukan Victor. Tujuan Victor pasti hanya untuk mendapatkan bayinya bukan? Pasti dia ingin merebut bayinya dengan cara yang lembut setelah gagal mengancam dan menekannya.
Sekarang Jelena memiliki keberanian yang lebih besar dari pada sebelumnya, dia memiliki keluarga yang akan mendukungnya jadi dia merasa lebih kuat.
Victor yang seharian ini sudah gelisah benar-benar semakin menjadi. Di tambah lagi dengan mual sejak bangun pagi, pusing, bahkan dia juga demam sejak semalam. Pagi tadi dia sengaja mengetuk pintu rumah Jelena berharap Jelena ada persediaan obat untuk demam, tapi sayangnya pintu rumah Jelena tak terbuka sama sekali. Ingin mengirimkan pesan, tapi Victor sama sekali tak tahu nomor telepon yang di gunakan Jelena sekarang. Ingin pergi untuk membeli, tapi Victor tidak tahu di mana ada apotik, di tambah dia juga sangat pusing sekali.
Sudah tidak tahan lagi, Victor akhirnya kembali ke rumah Jelena. Tujuannya tentu saja hanya untuk mendapatkan obat, dan sebentar melihat apakah benar Jelena baik-baik saja di dalam rumah atau tidak.
Lama selain Victor terus menyentuh pintu, keringat dingin juga sudah banyak keluar dari tubuhnya. Tapi Jelena masih enggan membuka pintu rumah, jadi Victor memanggil nama Jelena dengan sedikit berteriak.
Tidak tahan juga harus mendengar Victor terus memanggil namanya, Jelena akhirnya membukakan pintu dan ingin memperingati Victor untuk tidak mengganggunya. Tapi begitu membuka pintu dan melihat Victor yang sangat pucat, di tambah dia sangat banyak keringat yang keluar dari tubuhnya, bahkan baju yang Victor kenakan juga basah membuat Jelena sedikit khawatir.
__ADS_1
" Ada apa dengan anda, Tuan Victor? " Tanya Jelena yang saat itu cukup sulit menyembunyikan perasaan khawatir. Yah, bagaimanapun Victor adalah orang yang pernah berjasa untuknya karena menyediakan tempat di rumah itu, toh sesama manusia juga tidak ada salahnya untuk saling mengasihi kan?
Segera Jelena memapah Victor, membawanya untuk masuk, dan duduk di sofa ruang tamu. Segera Jelena mengabulkan air hangat terlebih dulu, lalu obat penurun panas dan demam karena saat menyentuh kulit Victor tadi, Jelena bisa merasakan benar kalau Victor pasi sedang demam.
Setelah meminum obat, Victor tanpa sadar duduk di sofa ruang tamu sampai tertidur. Sungguh dia lelah sekali karena akhir-akhir ini dia benar-benar kurang tidur, sedikit-sedikit bangun untuk melihat apakah Jelena keluar dari rumah atau tidak, juga memantau keadaan Jelena.
Jelena menghela nafas sebal menatap Victor yang duduk dengan posisi tubuhnya menyender di senderan sofa. Sepertinya Victor benar-benar lelah, tapi Jelena juga enggan untuk bertahta apa yang membuat pria itu merasa lelah.
Kedua orang tua Victor kini tengah berada di ruang baca, berdua saja membicarakan masalah yang cukup serius menurut mereka.
" Aku sudah tidak tahan lagi, bukankah kita cukup bersabar beberapa bulan terakhir ini? " Ucap Ibunya Victor setelah menghela nafasnya, dan terlihat mulai tidak sabar lagi. Tentu saja yang mereka bicarakan adalah mengenai Jelena, dan juga bayi yang ada di perutnya. Mereka juga sudah tahu detail seluk beluk Jelena, bahkan mereka juga sudah mencoba untuk membobol sistem keamanan perusahaan orang tua Jelena berharap dapat mendapatkan informasi penting, tujuannya adalah untuk membuat Jelena kembali kepada mereka, atau Victor. Bayi di dalam perut Jelena adalah sosok yang paling penting untuk orang tua Victor. Tentu saja karena Victor sudah mengatakan sejak awal jika dia tidak menginginkan adanya anak, juga tidak ingin terikat dengan pernikahan. Sekarang anak Victor akan lahir tapi kondisinya sudah tidak lagi berada di bawah pengaturannya. Mungkin bisa saja mereka mengajukan pernikahan sungguhan, tapi orang tua Victor tidak ingin cucunya nanti berada di bawah dirikan orang tua Jelena, dia menganggap didikan dari mereka lah yang akan membawa cucu mereka ke dalam kesuksesan.
" Orang tua Jelena bukan orang yang mudah kita tekan, dia memiliki orang-orang hebat yang sulit untuk di lawan. Sejak awal memang sudah salah karena terlalu meremehkan lawan, dan sekarang kita harus mencari cara untuk mengambil cucu kita dari tangan mereka tanpa menimbulkan konflik yang bersangkutan dengan pihak berwajib. " Ucap Ayahnya Victor. Sejenak dia terdiam dan benar-benar berpikir bagaimana caranya untuk merebut cucunya, mengambil saat cucunya lahir nanti. Menggunakan atau menekan dengan surat perjanjian tentu saja sudah tidak mungkin dia lakukan. Orang tua Jelena yang sebelumnya adalah seorang penipu, Jelena yang terpaksa menyetujui perjanjian karena tertekan, semua itu pasti mudah untuk mereka taklukan.
__ADS_1
" Apa orang yang kau maksud itu tidak mempan dengan uang? " Tanya Ibunya Victor.
Tentu saja Ayahnya Victor sudah mencari tahu banyak hal dulu sebelum melakukan itu. Memang benar semua orang pasti menyukai yang, tergila-gila dengan uang, tapi segila-gilanya mereka dengan uang, hutang Budi yang mereka rasakan jauh lebih menguasai hati merekam. Ken, dia adalah pria yang paling menonjol dari berbagai aspek. Dia mengusap teknis komputer, peretas hebat, lulus dengan gelar master bisnis, bahkan sudah mendirikan bisnis pribadi sejak mengeyam pendidikan di luar negeri dulu. Orang yang bekerja membantu Ken juga orang yang identitas tidak bisa di temukan, dan tentu saja karena Ken melindungi mereka. Jadi apakah benar uang masih akan berguna kepada mereka?
" Satu-satunya cara adalah, kita hanya bisa terang-terangan menunjukkan niat kita, mencari celah dari semua yang terjadi ini, memilih dengan cermat apa yang bisa kita manfaatkan dengan tepat. Mereka memang memiliki beberapa orang hebat, tapi kita juga memilikinya. Walaupun harus kehilangan banyak, asalkan bisa mendapatkan cucu kita tentu saja itu adalah hal yang seimbang bukan? "
Ibunya Victor mengangguk setuju. Sepertinya jika kedua belah pihak adalah lawan yang seimbang, bukankah memang sudah selayaknya menunjukkan sampai di mana batas kemampuan sehingga bisa dengan mudah menunjukkan siapa yang pantas, dan siapa yah tidak pantas.
Sejujurnya Ibunya Victor juga tidak ingin ada keributan seperti ini, tapi karena ini tentang cucu, Keturunan nya, maka apa boleh buat, bahkan lembah terjal, badai, beliung, api, apapun itu tidak akan menjadi penghalang untuknya.
" Persiapkan dirimu, sepertinya kita juga harus kembali dulu. "
Bersambung.
__ADS_1