
Jelena menghela nafas sebalnya, rupanya pemberitaan tentang Victor benar-benar semakin menjadi, tapi Victor masih saja tidak menghubunginya. Entah lah, dia merasa sebal dan kesal kepada Victor, bahkan juga mengutuknya terus menerus, tapi sial sekali karena pada akhirnya dia tetap mengharapkan Victor untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Sudah malam, dan Jelena benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Dia degan segera menghubungi seseorang, memintanya untuk memesankan tiga tiket pesawat, untuk dirinya, untuk Mira, dan juga untuk pengasuh Mira. Toh sudah hampir tiga tahun Jelena tidak pulang untuk melihat secara langsung bagaimana keadaan Jemima sekarang, juga dia sudah lama tidak bertemu dengan bibi dapur dan juga Popi jadi dia akan kembali ke negara asal, dengan Jelena yang baru, Jelena yang tangguh, jauh berbeda dari sebelumnya yang adalah sosok tak berdaya karena keadaan.
"Victor, lihat saja kau! Jangan harap aku akan mudah memaafkan mu!" Sebal Jelena sembari menjauhkan ponselnya ke sembarang arah.
Satu hati kemudian.
Jelena tersenyum lebar sembari melepaskan kaca mata hitamnya, menatap ke arah luar setelah keluar dari bandara. Jelena menghirup dalam-dalam udara dari negara asal yang sudah beberapa tahun ini tak dia hirup. Mira juga terlihat bahagia karena pada akhirnya dia terbebas dari suasana pesawat yang membuatnya tidak nyaman, jadi sekarang dia berada di luar tentu saja dia kembali terlihat bahagia.
"Mira, kali ini ayo kita berikan pelajaran untuk Ayahmu! Seenaknya saja asik berduaan dengan wanita jadi-jadian." Ucap Jelena kepada Mira yang hanya di tanggapi senyum kecil dari bibir Mira. Pengasuh Mira juga ikut, dan dia hanya bisa tersenyum saja mendengar ucapan majikannya itu.
Beberapa saat kemudian.
"Selamat siang?!" Ucap Jelena begitu dia sampai di rumah mengejutkan Ibunya yang saat itu sedang duduk di ruang tengah dengan wajah sebal setelah mendapatkan telepon.
Ibu Terra terperanjak kaget, dia bangkit dari duduknya, menatap Jelena dengan bibit menganga gak percaya akan melihat putri kandungnya secara langsung.
"Je? Jelena?!"
Jelena tersenyum lebar, lalu segera menghampiri Ibunya untuk dia peluk.
"Aku benar-benar rindu sekali, Ibu." Ucap Jelena yang masih saja membuat Ibu Terra tak percaya akan melihat Jelena kembali ke rumah karena rasanya benar-benar seperti mimpi.
"Je, Jelena? Kau benar-benar Jelena?"
__ADS_1
Jelena terkekeh geli karena wajah Ibunya benar-benar sangat lucu sekali. Jelena meminta pengasuh Mira datang sembari membawa Mira bersamanya dan begitu melihat Mira secara langsung barulah Ibu Terra benar-benar merasa begitu yakin jika dia sedang tidak bermimpi.
"Tuhanku, cucuku datang!" Ibu Terra langsung mendekati Mira,mengambil Mira dari gendongan pengasuh untuk dia gendong. Untunglah selama ini hampir setiap hari Ibu Terra dan Mira melakukan panggilan video, dan beberapa kali mereka bertemu saat Ibu Terra mengunjungi Mira dan Jelena ke luar negeri sehingga Mira tidak merasa asing dengan neneknya.
Sebentar Ibu Terra melepaskan rindu kepada anak dan cucunya.
Beberapa saat kemudian.
"Ibu tadi menerima panggilan telepon dari siapa?" Tanya Jelena yang penasaran kenapa Ibunya bisa terlihat begitu kesal dan pusing.
"Dari sekolahnya Tomy, anak itu lagi-lagi membuat ulah. Dia memukul hidung temanya sampai berdarah, Ibu pusing sekali dengan anak itu. Padahal kalau di rumah kau tahu dia bagaimana kan? Dia hanya sibuk makan, main game, dan belajar tau herannya dia benar-benar suka sekali membuat ulah. Mereka meminta Ibu untuk datang di jam pulang sekolah nanti untuk bicara."
Jelena menghela nafasnya, entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi meskipun selama ini dia sama sekali tidak dekat dengan Tomy, tapi dia merasa agak aneh kalau dia terlalu mengalahkan Tomy di saat dia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan anak itu.
"Ibu, nanti biarkan aku menemui Tomy dan menemui pihak sekolah ya?" Pinta Jelena.
Jelena mengangguk dengan cepat membuat Ibu Terra bernafas lega karena pada akhirnya ada juga yang mau menggantikan dirinya untuk datang ke sekolah.
"Ngomong-ngomong, Jemima ada di mana?"
"Dia sedang ada jadwal terapi, pukul tiga nanti dia baru akan pulang."
Jelena memaksakan senyumnya.
"Bagaimana keadaan dia Bu? Apa sudah tidak apa-apa dengan penyakitnya?"
__ADS_1
Ibu Terra menghela nafas, tapi sejak tadi tangannya benar-benar tidak berhenti mengusap punggung Mira hingga gadis kecil itu mulai mengantuk di pangkuan neneknya.
"Kita beruntung karena tahu apa yang sebenarnya terjadi dengannya, setelah melakukan berbagai macam pengobatan akhirnya dia sudah bisa perlahan kembali sehat. Dan beberapa bulan lagi rencananya kami akan mengusulkan pernikahan untuk Jemima dan Ken."
Selentingan ini sebenarnya sudah Jelena dengar langsung dari Ibunya, tapi tetap saja Jelena merasa terkejut dengan rencana itu. Bagiamana pun Ken adalah pria yang terlihat begitu sulit untuk jatuh cinta meski cara dia memperlakukan orang lain sangat baik. Tapi bagaimana dengan perasaan keduanya? Jemima apalagi belum benar-benar sehat seperti semula, jadi apakah tidak masalah memaksa keduanya untuk menikah?
"Ibu, apa menikahkan mereka adalah sebuah keharusan?" Tanya Jelena.
"Mungkin aneh untuk di dengar, tapi Ken adalah pria yang sangat baik, Ibu benar-benar tidak ingin melepaskan dia, Ibu tahu ini salah dan egois, tapi dengan begitu Ibu bisa tetap menjaga dia, seperti janji Ibu kepada Ayahnya. Jemima juga sebenarnya cukup baik terlepas dari sikap manja dan kadang egois." Ibu Terra menghela nafas, sungguh dia juga tidak nyaman memaksakan kehendak mereka, jadi dia hanya bisa memohon maaf di dalam hati.
"Je, tapi kalau kau yang ingin menikahi Ken, Ibu pasti akan sangat setuju kok."
Jelena memaksakan senyumnya, menikahi Ken? Ya ampun! Memang dia sedang sangat sebal dan marah kepada Victor, tapi dia masih belum memiliki pemikiran seperti yang di katakan Ibunya. Selama ini dia terlalu menganggap Ken seperti kakaknya jadi agak sulit seandainya hubungan mereka berubah menjadi hubungan yang tidak biasa.
Jelena mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, dia bertanya ini dan itu, tentang perusahaan Ayahnya juga sehingga Ibunya berhenti membahas soal Ken lagi. Mereka benar-benar asik bicara sampai jam untuk datang ke sekolah Tomy tiba. Bergegas Jelena menuju kesana, dan yang pasti, Jelena datang dengan penampilan juga keberanian yang baru.
Di ruang kepala sekolah.
"Aku tidak ingin ganti rugi, apalagi hanya permintaan maaf saja! Keluarkan saja anak itu dari sekolah, bukankah dengan begitu sekolah akan aman?!" Kesal Ibu dari anak yang di pikul oleh Tomy.
Tomy sedari tadi hanya terdiam, dia terus melihat ke pintu berharap Ibunya akan segera datang. Tapi kalau mengingat banyak nya ulah yang dia buat, apakah mungkin Ibunya akan datang?
"Selamat siang menjelang sore? Saya adalah kakaknya Tomy."
Tomy membulatkan matanya karena terkejut, begitu juga dengan semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
"Wah, kakak itu wajahnya seperti malaikat." Ucap anak yang di pukul Tomy dengan mimik terpana. Sedangkan Tomy hanya bisa terus berada di wajah terkejut karena Jelena benar-benar sangat jauh berbeda dari Jelena yang dia kenal sebelumnya.
Bersambung.