
Mengetahui Jelena sudah tak lagi berada di rumah kedua orang tuanya, Victor segera meminta Juno membayar beberapa orang handal agar bisa menemukan Jelena. Meskipun dia tidak sepenuhnya yakin dapat menemukan Jelena karena orang tua Jelena pasti akan melindungi Jelena apapun caranya, Victor tentu saja tidak akan menyerah begitu saja.
Sudah selang dua Minggu, kabar tentang Jelena masih belum juga di dapatkan. Ini adalah untuk kali pertama rasanya orang yang biasanya bekerja dengan baik tiba-tiba tidak seperti biasanya, tidak sehebat yang dia pikirkan. Sudah dua Minggu pula Victor seperti orang gila, marah dengan alasan yang tidak jelas, tida konsentrasi, bahkan beberapa kali salah jawab saat ada reporter yang sedang mewawancarai dan meliputnya.
" Kau belum makan makanan mu, ini kan sudah lewat jam makan siang? Lusa jadwal mu penuh sekali, kalau kau seperti ini terus bukannya akan membuat tubuh mu sakit? " Tanya Juno yang kesal melihat makanan untuk siang milik Victor masih saja utuh, padahal Victor juga sudah melewatkan sarapan paginya.
Victor menghela nafas, menatap sebentar Juno dan kembali membuang pandangannya. Makan siang? Bahkan melihat makanan saja dia tida bisa berhenti merasa ingin muntah. Sudah hampir satu minggu Victor seperti ini, pikirannya kacau, kurang konsentrasi, mual melihat makanan, bahkan dia juga mual meminum jus kiwi kesukaannya. Padahal Ini dapur sudah sembuh, dia sudah membuahkan menu sarapan, kadang makan siang kalau dia di rumah, makana malam juga, tapi anehnya dia masih tidak bisa menelan makanan apapun. Victor merasa bau rempah benar-benar sangat menyengat sehingga dia sering merasa mual.
" Kau mau makan yang lain? Kalau iya katakan saja, aku akan segera berangkat untuk membelinya. Kalau kau tidak mau juga, apa perlu aku telepon bibi dapur dan memintanya menyiapkan makanan untuk mu? " Juno terpaksa menyuguhkan begitu banyak solusi asalkan Victor makan benar-benar akan dia lakukan.
" Aku benar-benar mual ketika merasai makanan, aku juga merasa tidak lapar. " Victor menjawab dengan nada suara dan juga mimik wajah yang terlihat begitu malas. Jujur saja dia menjadi begitu membenci banyak hal terutama, aroma parfum yang di gunakan Juno, hanya saja dia tidak ingin mengatakannya karena dia malas mendengar ocehan Juno. Sekarang dia mulai membenci maafkan Bibi dapur yang dulu menjadi koki andalannya. Sekarang bisa di bilang Victor juga membenci dirinya sendiri yang tidak sehebat beberapa satu lalu.
" Yang hamil kan Jelena, kenapa kau yang mengalami gejala seperti hamil? " Ujar Juno sembari mengeryit keheranan.
Victor tak menjawab, istilah konyol macam apa itu? Tentu saja dia tidak akan mempercayainya!
Victor menganggap perasaan mual yang berlebihan itu adalah karena suasana hatinya, dan pikirannya yang sedang rumit dan bingung. Bagaimanapun kedua orang tuanya sudah beberapa kali menanyakan perihal Jelena yang tidak bisa di hubungi, Victor benar-benar hampir gila mencari alasan agar orang tuanya tidak tahu. Yah, mungkin perasaan mual dan gelisah berasal dari sana.
" Tidak mungkin, Dokter psikologis kemarin mengatakan jika apa yang aku alami ini karena stres, kekhawatiran, dan kurangnya istirahat. "
Juno menjebik tak tahu, mengangkat bahunya sesuai apa yang dia pikirkan. Ya sudahlah, apapun yang di anggap Victor benar tentu saja tida usah di bantah. Sekarang dia hanya harus fokus dengan kesehatan Victor, juga terus memantau dan menunggu kabar mengenai keberadaan Jelena.
__ADS_1
Di sisi lain.
Jelena terlihat begitu senang dan semangat memasak masakan buatannya. Sup lobak, degan potongan wortel, kentang, juga ada satu butir telur yang di aduk. Sederhana sekali, tapi menurut Jelena rasa masakan yang dia buat benar-benar sangat enak.
Ken yang berada di sana juga ikut senang sekali melihat Jelena banyak tersenyum selama tinggal di sana. Dia tidak terlihat tertekan lagi, dan dia juga menghabiskan waktunya dengan bahagia. Saat pagi dia akan membuat sarapan, memasak sembari mengelus perutnya, mengajak janin di dalam perutnya untuk bicara, bahkan sampai mengenalkan macam-macam bumbu dapur, sayuran, bahkan jenis buah-buahan.
" Kak Ken, ayo cepat sini! Coba masakan ku hai ini, dan katakan bagiamana pendapat mu tentang makanan yang aku buat. " Pinta Jelena sembari mengangkat satu sendok ingin dia tunjukan kepada Ken yang dia minta untuk mencicipi hasil makanannya.
Ken mengangguk, dengan cepat dia berjalan untuk meraih sendok di tangan Jelena, dan mulai mencicipi sup lobak dengan telur itu.
" Em,..... " Ken terlihat mengeryit sembari berpikir, lalu beberapa saat kemudian Ken memberikan Ibu jarinya tanda bahwa makanan yang di buat oleh Jelena benar-benar enak.
" Iya! "
Jelena tersenyum bahagia, sungguh masakan sederhana itu adalah makanan yang dia ciptakan sendiri. Jelena memiliki niat untuk membuka sebua restauran kecil-kecilan, menjual makanan yang dia ciptakan sendiri.
" Kau begitu semangat memasak setiap harinya, apa kau memiliki tujuan dengan masakan yang kau buat ini? " Tanya Ken yang sepertinya bisa dengan mudahnya membaca niat yang Jelena miliki.
Jelena tersenyum, sebentar dia diam dan mengangguk untuk mengiyakan apa yang di tanyakan oleh Ken.
" Aku berniat membuka mini resto di tempat ini, meskipun belum tahu akan ada pembeli atau tidak, tapi aku benar-benar ingin memiliki restauran sejak dulu. " Setelah mengatakan niatnya, Jelena tersenyum sendiri, dia membayangkan betapa menyenangkannya memiliki restauran, sibuk melayani pembeli, setiap hari memasak dan masakannya akan di santap orang lain dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
" Tentu saja, kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, aku janji. "
Jelena tersentak, dia sebenarnya tidak paham benar apa yang di katakan Ken, tapi dia enggan untuk bertanya dan hanya menanggapinya dengan senyum.
" Lusa aku akan kembali, kau benar-benar tidak masalah tinggal sendiri di tempat ini? " Tanya Ken, sebenarnya dia sangat khawatir meninggalkan Jelena di sana, tapi dia juga tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaannya.
Jelena tersenyum lalu mengangguk.
Sebenarnya Jelena merasa lebih nyaman tinggal di rumah itu sendiri. Berada di satu atap dengan Ken benar-benar tidak nyaman untuknya. Memang, Ken adalah pria yang sangat sopan, tapi tetap saja Jelena tidak terbiasa dan tidak mudah untuknya menyamankan diri.
" Sampaikan salam ku kepada Ayah dan Ibu, semoga mereka terus sehat. "
Ken mengangguk tanpa ekspresi.
" Kau merasa terganggu dengan Jemima? Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan ini sejak lama, tapi sempat menahan karena ingin mencoba menebak sendiri. "
Jelena memaksakan senyumnya, lalu menghela nafas.
" Dia pasti sangat terpukul dengan kenyataan ini, jadi bukankah wajar jika dia merasa terancam saat aku berada di sana? Aku bukannya ingin terus menjadi lemah, hanya saja aku butuh waktu untuk menjalani kehamilan ini. Tunggu setelah anak ini lahir, aku benar-benar menjanjikan perubahan yang bagus nanti. "
Bersambung.
__ADS_1