Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 22 : Berbeda Maksud


__ADS_3

Seperti yang Victor katakan, seharian dia benar-benar sibuk untuk syuting hingga kepalanya sakit, pusing, bahkan dia sampai merasa mual. Tadinya dia pikir ingin istirahat sebentar, tapi syuting yang sudah harus di selesaikan membuatnya harus menahan tubuhnya yang sedang tidak baik-baik saja itu.


Dini hari syuting selesai, dan Victor juga sudah harus kembali ke hotel yang sudah di siapkan oleh managernya. Tapi sayangnya tubuh yang sudah di paksakan seharian itu tak sanggup lagi bangkit dan jatuh pingsan. Bergegas asisten serta manager Victor dengan segera membawa Victor ke rumah sakit, dan syuting akan di lanjutkan saat Victor sembuh nanti.


Setelah sadar Victor memutuskan untuk di antar ke rumah, dia ingin istirahat saja di sana karena hotel bukanlah tempat yang nyaman untuknya. Terlalu banyak stalker, dia merasa waspada setiap waktu karena tidak ingin sisi tidak baiknya di ketahui oleh orang lain termasuk kondisi kesehatannya saat itu.


Begitu sampai di rumah, Victor di bantu oleh aisiten dan managernya untuk menuju ke kamar, dan berbaring di atas tempat tidur dengan nyaman.


" Victor kelelahan selain karena syuting akhir-akhir ini, aku tidak bisa menjaganya dua puluh empat jam karena ada yang harus aku kerjakan juga. Aisiten Victor akan berada di sini sampai dia sembuh total, jadi mohon bantuan kalian untuk membantu aisiten Victor menyiapkan segala kebutuhan Victor. " Ucap Managernya Victor kepada Jelena, Popi dan juga Bibi dapur. Tentu saja mereka mengangguk setuju dan paham karena memang itu adalah pekerjaan mereka.


" Je, kau belum sempat makan siang jadi pergilah untuk makan siang ya? " Pinta Bibi dapur, dan dengan segera Jelena menuju ke dapur untuk memakan makanan yang sudah di siapkan Bibi dapur, tak lupa dia juga meminum jus buah, juga meminum vitamin hamil yang sudah di siapkan di sebelah makanannya.


Setelah selesai makan siang, Jelena segera beranjak untuk menuju ke tempat cucian. Di sanalah Jelena biasanya bekerja, mencuci semua pakaian milik Victor, juga sekalian Popi dan juga Bibi dapur. Tapi baru saja berjalan menuju kesana, Aisiten Victor yang bernama Juno memanggil Jelena untuk segera datang membantunya. Tentu saja Jelena tidak bisa menolak, jadi dengan segera dia berjalan mendekat dan bertanya apa yang di butuhkan, dan apa yang bisa dia bantu.


" Ambilkan air hangat lagi ya? Ini sudah mulai dingin. " Ucap Juno menyerahkan semangkuk air yang sebelumnya di gunakan untuk mengompres tubuh Victor.


Jelena mengangguk paham, degan segera dia mengambil mangkuk itu dan membawanya ke dapur untuk dia ganti dengan air yang baru. Popi dan Bibi dapur sedang sibuk di dapur untuk membuat bubur, jadi Jelena akan melakukan itu sendiri. Setelah itu Jelena membawa mangkuk menuju kamar Victor, lalu mengetuk pintu kamar agar Juno kembali ke luar.


" Boleh minta tolong lagi? " Tanya Juno begitu membuka pintu dan mendapati Jelena di sana.

__ADS_1


" Apa? " Tanya Jelena.


" Aku mulas sekali, aku sudah menahan sakit perut sejak tadi, boleh minta tolong gantikan aku mengompres Victor? "


Jelena terdiam sebentar, tentu saja yang dia pikirkan adalah bagaimana caranya untuk menolak tapi tidak membuat Aisten Victor merasa tersinggung. Tapi baru saja Jelena membuka mulutnya, Juno sudah lebih dulu merah pergelangan tangan Jelena dan membawanya untuk masuk ke dalam rumah.


" Tolong ya? Aku benar-benar sakit perut, di tambah Victor tidak pernah mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamar mandinya jadi aku harus keluar dulu. "


Setelah mengatakan itu Juno langsung berlari meninggalkan Jelena yang kebingungan sampai dia hanya bisa bengong tak bicara. Sadar benar kalau dia harus menggantikan Juno, Jelena hanya bisa menghela nafas karena dia memang tidak rela melakukan apa yang di minta Juno. Tapi begitu melihat wajah Victor yang terlihat pucat dan juga berkeringat cukup banyak, Jelena jadi merasa tidak ada pilihan selain membantu Juno untuk mengompres Victor.


Perlahan Jelena mendekati Victor, dia ragu-ragu karena takut nanti Victor akan marah begitu tahu dia ada di dalam sana, masuk ke kamarnya dengan tujuan lain selain membersihkannya. Jelena terdiam sebentar memandangi wajah Victor, bukan karena dia merasa terpesona, tapi dia heran juga ternyata orang seperti Victor juga bisa sakit juga? Yah, dia terlalu menempatkan Victor di posisi tidak nyata sampai dia lupa kalau Victor juga sebenarnya adalah manusia hidup sama seperti dirinya.


Sembari menunggu Juno datang, Jelena diam di sana, berdiri sembari mengedarkan pandangannya. Ternyata kamar Victor memang sangat bersih dan juga sangat rapih seperti biasanya. Victor yang tidak menyukai memasang photo, atau hiasan dinding lainnya membuat dinding di kamar Victor nampak sepi. Aneh memang, bahkan Victor hanya menjauh satu photonya saja bersama Katherine yang berukuran kecil di ujung meja.


Karena sudah cukup lama, Jelena jadi harus mengambil lagi kain penyeka itu dari dahi Victor karena pasti sudah mulai dingin. Jelena memasukkan kembali kain penyeka ke dalam mangkuk berusia air hangat, lalu memeras dan kembali meletakkan di dahi Victor.


Sial! Kali ini Victor mengeryit dan tak lama mulai membuka mata membuat Jelena membulatkan matanya karena merasa takut dan tidak ingin sampai mendengar kalimat tidak enak dari mulut Victor.


" Kenapa kau di sini? " Tanya Victor dengan wajahnya yang terlihat dingin, tapi juga seperti sedang menahan sakit.

__ADS_1


" Aku, aku hanya membantu Kak Juno. Dia sedang sakit perut dan butuh waktu untuk ke toilet. Karena dia bilang toilet milik Tuan Victor tidak boleh sembarangan orang masuk, makanya dia pergi ke luar. "


Victor membuang nafasnya.


" Keluar, aku bisa mengurus ini. " Ucap Victor.


Jelena mengangguk paham, lalu dengan segera dia berjalan untuk meninggalkan kamar. Pas sekali dia ingin meraih handle pintu rupanya pintu sudah mulai terbuka, dan itu adalah Juno yang kembali dari toilet.


" Terimakasih, Je. " Ucap Juno. Jelena tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja tanpa ekspresi dan itu membuat Juno bingung. Jelena biasanya akan tersenyum, kenapa dia terlihat begitu dingin?


" Lain kali jangan minta dia untuk melakukan ini lagi. " Ucap Victor dan bisa di dengar Jelena karena saat itu Jelena belum sempat menutup rapat pintu kamar Victor. Jelena menggigit bibir bawahnya menahan sedih, kenapa sampai harus seperti itu? apakah benar tidak Sudi sekali dekat dengannya? Padahal dia sudah sebisa mungkin untuk tidak menyentuh kulit Victor. Jelena memutuskan untuk segera pergi dari sana setelah itu.


" Maaf, maaf. Aku lupa kalau dia adalah pelayan yang pasti tidak nyaman untuk mu berada dekat dengannya. " Ucap Juno.


" Bukan karena itu, dia sudah lelah mengerjakan pekerjaannya, jangan menambahkan pekerjaan lagi. Dia tidak boleh lelah, hanya itu. " Ucap Victor.


Juno ternganga heran juga bingung.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2