
Hari demi hari Jelena lalui dengan sangat sibuk, dia menghabiskan waktunya untuk tiga hal penting sekarang ini yaitu, Mira, pendidikan dan juga bisnis. Jelas dia juga mengeluh saat dia merasa lelah, bahkan tak jarang dia juga menangis, tapi tekad di dalam hatinya begitu besar hingga tak menginginkan untuk menyerah.
Victor, dia menjadi salah satu penyemangat yang sama sekali tidak pernah absen untuk ada saya Jelena membutuhkan dirinya. Memang benat lebih sering mereka habiskan waktu bersama melalui panggilan video saja, tali sungguh hal itu benar-benar membuat keduanya semakin memupuk perasaan satu sama lain. Victor juga sudah tak lagi sembarangan menerima tawaran untuk peran yang mengharuskan adanya adegan panas, bahkan Victor juga tidak mengambil peran hang hanya sebatas ciuman bibir saja. Alasan utamanya ya tentu saja karena Jelena, meski memang Jelena pernah menonton drama yang dibintangi, tetap saja rasanya akan aneh kalau sampai Jelena melihat itu setelah hubungannya sebagus sekarang bukan?
Dua tahun kemudian.
Jelena tersenyum lebar melihat restauran miliknya sudah memiliki satu cabang. Mungkin menurut sebagian orang ini adalah hak yang biasa saja, tapi bagi Jelena yang mengidamkan ini sejak dia remaja, tentu saja ini adalah hal yang sangat luar biasa.
Tidak sudah tiga tahun lebih Jelena hidup di negara asing, kini dia mulai agak ternyata dengan kebiasaan di sana, juga sudah terbiasa dengan musim yang terdapat di negara itu. Soal pendidikan, sebenarnya masih butuh beberapa semester lagi atau separuh perjalanan, tapi Jelena putuskan untuk sebentar menyisihkan waktu bersama dengan anaknya yang kini sudah mulai protes ketika Jelena mulai sibuk di luar.
__ADS_1
Sudah berjam-jam waktu yang Jelena habiskan di luar, ini adalah saatnya untuk pulang lalu bertemu dengan anaknya yang paling dia sayangi, siapa lagi kalau bukan Mira?
Begitu sampai di rumah, Jelena dengan segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya dulu barulah dia akan menemui Mira, menggendong dan mengajaknya untuk bermain bersama-sama.
Mira kini semakin tumbuh menjadi gadis kecil yang sangat cantik, rambut yang agak kecoklatan itu kini mulai memanjang, dan sudah sampai batas baju. Yang belum berubah dari Mira adalah, wajahnya yang masih saja mirip dengan Ayahnya. Yah, padahal Jelena sempat berharap kalau nanti akan sedikit mirip dengannya karena beberapa orang mengatakan jika wajah bayi akan berubah seiring berjalanya waktu. Tapi sudahlah, entah mirip siapa bukankah yang paling penting adalah Mira selalu sehat dan tidak kekurangan apapun?
Di tengah-tengah waktunya bermain bersama dengan Mira, Jelena benar-benar tidak tahan untuk kembali melihat ponselnya. Ini sudah satu Minggu, tali Victor benar-benar belum juga membalas pesan dan juga me jawab telepon darinya. Entah sesibuk apa dia sekarang, tapi apakah pantas untuknya melupakan bahwa dia pasti membutuhkan kabar dari Victor begitu juga dengan anaknya bukan?
Di sisi lain.
__ADS_1
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini, Katherine? Victor sudah tidak memiliki alasan untuk menemuimu, kenapa kau selalu memaksa?" Tanya Juno yang mencoba untuk menahan Katherine yang begitu ingin memaksa menemui Victor. Saat ini Victor sedang di rawat di rumah sakit karena sakit akibat kelelahan, juga seringnya meninggalkan sarapan, bahkan beberapa kali meninggalkan makan siang dan makan malam. Sudah satu Minggu, dan Victor memang sengaja tidak menghubungi Jelena karena takut Jelena akan merasa khawatir padanya. Kenapa tidak membalas pesan? Itu karena Juno juga menyita ponsel Victor agar Victor tidak fokus dengan yang lainya dulu.
"Tahu apa kau? Kalau Victor tidak mau menemuimu juga, aku akan membuat berita yang lebih heboh di banding beberapa bulan lalu." Ancam Katherine dengan mimik yang begitu serius. Tahu kok kalau dia sudah seperti orang yang tidak memiliki harga diri karena dua tahun lebih hanya dia gunakan untuk membuat Victor kembali menoleh ke arahnya dan agar Victor tertarik lagi padanya. Sungguh sangat sial karena sudah berpuluh-puluh kali Katherine mencobanya tapi dia tetap tak mendapatkan apa yang dia inginkan. Victor justru semakin menjauhinya, bahkan menganggapnya tidak ada sehingga dia seperti orang yang memalukan karena terus mencoba membongkar hubungannya dengan Victor, bahkan Katherine tidak segan menawarkan photo mesra mereka. Sial sekali, nyatanya para penggemar justru lebih mempercayai Victor meskipun Victor sudah membuat para penggemarnya merasa kecewa karena kenyataan bahwa dia sudah pernah menikah dan memiliki anak. Semua orang mengatakan jika Katherine hanyalah seonggok sampah yang sudah di buang eh Victor dan karena Katherine tidak rela makanan dia masih terus mencoba untuk mendekati Victor.
"Katherine! Aku sudah mengatakan apa yang seharusnya aku katakan dengan sangat sopan, tapi kenapa kau tidak paham juga? Tolong jangan mempermalukan dirimu sendiri, pergilah karena kehadiran mu sama sekali tidak di inginkan oleh Victor." Ucapan Juno barusan benar-benar membuat Katherine semakin tak senang, jadilah dia menggunakan ancaman kepada Juno agar dia masuk ke dalam sana.
"Juno, kau pikir aku tidak tahu kalau dulu sebelum menjadi teman sekaligus asisten Victor kau adalah seorang pencopet? Aku memiliki bukti yang sudah kau dan Victor coba hilangkan, kalau kau tidak percaya, maka kau bisa melihat unggahanku lima menit dari sekarang." Juno terdiam tak tahu harus mengatakan apa, memang dulu dia adalah seorang pencopet. Tapi benar-benar dia melakukannya dengan sangat terpaksa karena Ibu dan adiknya sakit sudah cukup lama. Ibunya stroke, adiknya memiliki kelainan paru sejak lahir, Ayahnya kabur bersama wanita lain dan sama sekali tidak pernah datang padanya untuk melihat bagiamana keadaan mereka. Saat itu usia Juno batu belasan tahun, dia tidak sekolah makanya sulit juga mendapatkan pekerjaan. Suatu hari dia melihat Victor yang terlihat begitu gagah, pakaian serta barang yang di gunakan Victor jelas sangat mahal harganya. Juno pikir dengan bisa mengambil dompet Victor dia tidak perlu mencopet lagi untuk beberapa waktu. Tapi saat akan mengambil dompet Victor, dia gagal total karena Victor menyadari itu. Bukanya memukul atau meneriaki copet, Victor hanya menghela nafas sebal, lalu mengeluarkan dompetnya dan meyerahkan kepada Juno begitu saja.
"Kalau kau mau, kau bisa bilang padaku, tidak perlu mencuri seperti itu! Kau tahu betapa menjijikan perbuatan itu kan?"
__ADS_1
Juno benar-benar merasa sangat malu, di memutuskan untuk lari saja tanpa mengambil dompet yang di sodorkan padanya, tapi siapa sangka kalau Victor mengejarnya sampai dia tiba di rumahnya.
Bersambung.