Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 35 : Bimbang Dan Harapan


__ADS_3

Katherine kembali ke rumahnya dengan perasaan kesal. Sungguh dia tidak bisa menerima sikap Victor yang begitu dingin dan enggan kepadanya. Tentu dia ingat bagaimana saat dulu dia mendekati Victor, menyanggupi untuk tetap berada di hubungan yang terikat dengan komitmen saja, tidak ada pernikahan, tidak ada anak, juga tetap akan melanjutkan karir mereka masing-masing sebagai mana mestinya.


Tapi semua sudah berubah, Victor akan memiliki anak, Victor sudah menikah meski pernikahan itu bukanlah pernikahan yang di inginkan Victor. Hubungan keduanya memang tidak baik, tapi bukan berarti tidak akan baik pada akhirnya bukan? Jelena selalu ada di rumah, dia memiliki lebih banyak waktu yang bisa dia gunakan untuk membuat Victor merasa terbiasa, nyaman, dan berubah menjadi rasa tertarik bukan?


Sejak awal Victor yang sudah mengingkari janji di antara mereka. Victor sudah mengkhianati dirinya, mengkhianati hati yang begitu mencintai Victor lebih dari pada yang Victor ketahui. Tentu saja dia sedih, dia kecewa, dia marah karena merasa pria yang sudah dia dapatkan dengan susah payah nyatanya malah meniduri pelayan rumahnya sendiri hingga hamil.


Semua syarat yang di katakan Victor sudah dia penuhi, tapi kenapa Victor masih tidak ingin melakukan apa yang dia inginkan sekali saja? Dia hanya ingin Victor memperkenalkan dirinya sebagai seorang kekasih agar dia merasa yakin Victor benar-benar mencintainya. Sayang sekali, Katherine justru hanya mendapatkan kekecewaan yang begitu besar karena Victor memintanya untuk mengelak, bahkan mengatakan kebohongan atas hubungan mereka berdua.


Sebenarnya seberapa besar pengurangan yang harus Katherine berikan agar dia bisa mendapatkan sebesar yang sudah dia berikan kepada Victor? Melihat bagiamana Victor bersikap akhir-akhir ini, sepertinya Katherine akan terlihat terus menerus salah di mata Victor.


Katherine bangkit dari duduknya, berjalan untuk mengambil tas miliknya, keluar dengan langkah kaki cepat untuk menuju salah satu Bar langganan. Iya, sedikit minum pasti akan mengurangi perasaan stres yang dia rasakan.


Di sisi lain.


Jelena kini tengah bersama dengan Popi, dia membicarakan banyak hal kepada Popi apa yang sebenarnya terjadi belakangan ini.


Popi benar-benar tidak percaya pada awalnya jika ada orang sejahat Victor dan Katherine. Dia kesal sekali tapi dia juga tidak bisa melakukan banyak hal untuk membantu Jelena yang malang sekali menurutnya.


" Jadi bagaimana dan apa yang akan kau lakukan selanjutnya? " Tanya Popi kepada Jelena.


Jelena terdiam sebentar. Dia juga bingung dan pusing harus bagaimana? Kabur dari rumah Victor tentu saja bukan hal yang mudah untuknya. Kabur kemana? Di tambah keluarga Victor pasti tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Keluarga Victor pasti akan mencarinya kemanapun dia pergi untuk mengambil anaknya, jadi Jelena benar-benar sangat pusing sekali bagaimana dia harus mendapatkan solusi dari masalah yang dia hadapi ini.

__ADS_1


" Je, apakah jika kau bicara baik-baik dengan Tuan Victor dia tidak akan mengerti? Cobalah untuk membacakan ini dan meminta padahal agar perjanjian itu di batalkan. " Ucap Popi.


Jelena menggelengkan kepala, membatalkan surat perjanjian di antara keluar keluarga? Tidak, itu tidak akan terjadi sampai benar anaknya lahir nanti. Kalau hanya menunggu seperti itu tentu saja tentu saja dia akan di pisahkan dengan anaknya bukan?


" Aku tidak tahu harus melakukan apa, aku tidak bisa berpikir karena setiap kali aku ingin mencoba lari, aku selalu teringat benar dengan ucapan Tuan Victor. Dia pasti akan menemukan ku kemanapun aku lari bukan? "


Popi menghela nafasnya, lalu mengangguk mengiyakan ucapan Jelena. Dia ingat benar dulu ada satu pelayan yang berkerja di sana. Dia memiliki kepercayaan akan hal aneh, dia memberikan air ludahnya saat menyajikan minuman kepada Tuan rumah karena dia yakin dengan begitu Tuan rumah akan menurut padanya, dan memperlakukan dirinya dengan baik seperti keluarga. Tapi dia ketahuan lebih cepat, lalu dia berhasil kabur. Tidak kembali ke desa karena dia tahu orang dari keluarga Victor pasti akan datang ke alamat yang tertera di kartu identitas miliknya. Dia kabur ke pulau lain, hidup di pedesaan terpencil, bahkan listrik juga tidak ada di sana. Hanya butuh satu hari saja keluarga Victor sudah bisa menemukan orang itu dan menggiringnya ke kantor polisi.


" Tuan Victor terlihat masa bodoh selama ini, tapi aku melihat dia agak perhatian denganmu jadi aku pikir tidak ada masalah di antara kalian. Ternyata kau justru mengalami banyak hal yang menyedihkan ya? " Gumam Popi.


Jelena menghela nafasnya, dia sendiri tidak tahu harus menyebutnya apa. Selama ini dia sudah selalu bersabar, menerima saja saya orang menyalahkan dirinya, menghina dirinya, dia tetap berusaha untuk tersenyum dan mengatakan kepada dirinya sendiri jika wajah saja dia di benci karena dia hanyalah seorang pelayan, dia adalah anak sepasang pecandu narkotika, judi.


" Tuan Victor itu sangat picik bukan? Dia begitu hebat memasang wajah bak malaikat saat di televisi, tapi selalu teringat dingin di hadapan kita, bahkan hebatnya lagi dia menggunakan orang lain untuk membunuh anaknya sendiri. Aku tidak ingin mempercayai kenyataan ini, tapi aku juga kesulitan mengartikan tindakannya yang tidak masuk akal akhir-akhir ini. "


" Mungkinkah dia sedang merasa menyesal? " Tanya Popi menyampaikan pendapatnya.


Jelena mengangkat kedua bahunya karena memang dia tidak tahu apa memang benar begitu ataukah tidak.


" Aku tidak perduli dia menyesal atau tidak, dia paham kalau apa yang dia lakukan menyakiti hati orang lain atau tidak, aku hanya perduli tentang bayiku, tidak dengan yang lain. "


Popi menghela nafas lalu mengangguk.

__ADS_1


" Je, aku benar-benar berharap dan akan terus berdoa agar kau dan bayimu selamat, hidup bahagia sampai kapan pun. Aku harap benar-benar ada keajaiban yang bisa menyelamatkan mu dari situasi yang menyedihkan ini. "


Jelena tersenyum dan mengangguk.


Di tempat lain.


" Cepat lari! Kenapa lari mu seperti siput saja! " Kesal Ayahnya Jelena kepada istrinya.


Dengan terengah-engah Ibunya Jelena mencoba menyusul suaminya yang terus mengomel dan berlari meninggalkannya.


" Dasar sialan! Kau mau membuatku di penjara ya?! " Kesalnya.


Mereka akhirnya kembali berlari menghindari kejaran dua orang yang sedari tadi mencoba untuk menangkap mereka.


Setelah sampai di jalan yang gelap dan sepi, di sana juga ada beberapa rumah kosong yang mempermudahkan mereka untuk bersembunyi.


" Sialan! Kenapa mereka bisa menemukan kita?! " Bisik Ayahnya Jelena dengan kesal.


" Sudah ku bilang bahwa membawa anak sialan itu akan menimbulkan masalah kan?! " Kesal Ibunya Jelena.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2