
Jelena menutup pintu rumahnya setelah selesai bicara dengan Victor beberapa saat lalu. Jelena memutuskan untuk menyudahi pembicaraan dengan Victor karena apa yang di ceritakan oleh Victor dan yang dia bahas hanyalah masalah yang itu saja. Jelena tidak ingin mendengar apapun sekarang ini, dia sedang ingin tenang dan menunggu bagaimana pendapat keluarganya tentang ini.
Victor yang berada di balik pintu juga hanya bisa diam tak bisa melakukan apapun. Sepertinya di juga sadar kalau sudah cukup membuat Jelena tertekan, seharusnya Jelena juga tidak akan menjadi seperti ini kalau bukan karena Victor bukan?
Tak lagi ada kesempatan untuk bicara, Victor mau tak mau juga hanya bisa meninggalkan Jelena di dalam sana, lalu kembali ke tempatnya.
Entah sejak kapan semua yang dia pikirkan, juga yang dia rasakan begitu berubah. Jelena ingat benar bagaimana dia begitu mengangumi Victor, betah menatap wajah Victor di televisi, tapi sekarang dia begitu ogah melihat Victor. Jelena seperti merasa tercekik, mengingat satu demi satu rasa sakit yang di berikan Victor padanya. Rasanya Jelena sudah tidak bisa lagi menyukai Victor seperti dulu, melihat wajahnya yang saat di televisi begitu hebat berakting Jelena jadi menganggap semua yang di katakan Victor selama ini juga adalah akting dan sewaktu-waktu Victor juga akan kembali kepada Victor yang dingin dan membencinya.
Beberapa saat kemudian.
Ini bukan lagi soal jalan terbaik, Jelena. Aku memang bukan siapa-siapa yang pantas mengatur hidupmu, aku tidak miliki hak untuk mengarahkan mu ke arah yang aku mau. Tapi, jika kau memilih untuk kembali berada di sisi Victor, rasanya kau seperti menceburkan diri lagi ke lumpur hidup bukan? Aku tidak masalah kau menolak menikah denganku, tapi maafkan aku harus mengatakan ini, Victor mungkin bisa berubah pikiran dan berubah cara menilai tantang mu, tapi harapan ku adalah, kau tidak akan salah memilih karena pada akhirnya semua akan di tanggung oleh anak yang ada di dalam perut mu.
Seperti itulah kalimat yang keluar dari mulut Ken beberapa saat lalu melalui sambungan telepon. Sekarang Jelena hanya bisa duduk terdiam, menatap perutnya yang semakin tumbuh besar begitu juga dengan janin yang ada di dalam sana.
__ADS_1
Sekarang pilihannya benar-benar berada di tangan Jelena. Pertama memilih salah satu antara keluarganya dan keluarga Victor akan menimbulkan masalah besar yang baru, tidak memilih juga akan membuat keduanya terus saling melawan, memilih keduanya jelas Jelena tidak akan mampu melakukanya bukan?
" Sayang, Ibu benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Yang Ibu inginkan hanyalah keselamatan mu, tapi kenapa kita masih tidak aman dan tenang setelah pergi cukup jauh? " Jelena mengusap perutnya perlahan. Sebentar dia terdiam sembari berpikir harus melakukan apa sebenarnya di antara pilihan yang sulit dan penuh masalah.
Di sisi lain.
" Sepertinya Nona Jelena sedang sangat bimbang sekarang, Tuan. " Ucap Ken seraya menjauhkan ponselnya setelah selesai menghubungi Jelena.
" Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia menolak menikah dengan pria baik seperti mu. Kau bahkan sudah menyatakan siap menjadi Ayah untuk anaknya, dan kau bahkan siap membuat surat perjanjian untuk tidak melakukan kekerasan fisik ataupun verbal sat menikah nanti. Sebenarnya apa yang di pikirkan oleh Jelena? " Gumam Ayahnya Jelena yang merasa bingung dengan putrinya sendiri. Alasan ingin menikahkan mereka berdua jelas bukan karena ingin menghina Ken yang harus menikahi wanita hamil, hanya saja orang tua Jelena sangat yakin dengan Ken karena mereka sudah hidup bersama dengan Ken puluhan tahun sejak mendiang Ayahnya Ken datang membawa Ken yang baru berusia empat sebelas tahun kala itu.
Ken memaksakan senyumnya, sejujurnya dia sudah jatuh cinta dengan Jelena sejak Jelena bayi, mungkin. Begitu mereka bertemu lagi setelah enam belas tahun, Ken juga merasa tak bisa mengalihkan pandangannya dari Jelena. Dia sudah mencoba untuk meredam perasannya, merasa jika apa yang dia rasakan sangat tidak pantas dan mencurigai jika itu hanya perasaan rindu terhadap gadis kecil yang dulu sering bersama dengannya. Tapi semakin dia dekat dengan Jelena dia selalu berdebar dan menginginkan lebih, hatinya seperti menuntut untuk mendapatkan perasaan atau balasan yang sama seperti yang dia rasakan.
" Terkadang memiliki sikap baik saja tidak cukup untuk membuat orang menginginkan, atau jatuh cinta. Nona Jelena mengalami banyak kesulitan dalam hidup, hatinya tidak siap dengan kejamnya dunia ini, tidak siap untuk mencintai karena sebelumnya dia juga tidak mencintai apapun. Dia butuh waktu yang lama untuk bisa merasakan itu semua, dan kesempatan untukku, atau untuk pria lain sepertinya masih belum ada. Yang di cintai Nona Jelena sekarang hanyalah bayinya, tidak ada yang lain, bahkan dia juga belum tentu mencintai dirinya sendiri, juga anda sebagai orang tuanya. "
__ADS_1
Ayahnya Jelena terdiam, dia menatap Ken dengan begitu serius. Benar, apa yang di katakan Ken sungguh benar sekali. Selama ini di sibuk memikirkan bagaimana caranya membuat Jelena mau menikahi Ken agar terbebas dari tali pernikahan semu dengan Victor. Dia lupa bahwa dia harus memikirkan benar dan memperhatikan apa yang di rasakan oleh putrinya. Pernikahan adalah hal yang menyakitkan untuk Jelena, dia tidak menginginkan pernikahan, dia tidak siap untuk menjalin hubungan, dia tidak tertarik untuk menyukai, apalagi mencintai hingga menikahi seorang pria.
Ayahnya Jelena mengusap wajahnya dengan kasar, menahan tangis dan itu terlihat dari matanya yang memerah.
" Benar, aku salah dalam menyikapi putriku. Aku memang Ayah kandungnya, tapi aku lupa kalau aku sama sekali tidak pernah mencoba untuk mengenali bagaimana putri kandungku sendiri. Aku salah, aku sudah begitu emosi memaksakan apa yang aku inginkan sampai lupa yang harus aku berikan untuk anak ku adalah hak nya untuk memilih dan bahagia. "
Ken mengangguk, dia tersenyum karena memang Ken merasa akan lebih baik jika Ayahnya Jelena, juga Ibu Terra lebih mencoba untuk memahami bagaimana karakter Jelena yang sebenarnya. Mulutnya yang selalu mengatakan baik-baik saja, selalu tersenyum, namun sorot matanya yang menjelaskan seberapa banyak luka di hatinya bisa jelas Ken lihat maka dari itu Ken benar-benar menahan diri untuk tidak memaksa Jelena.
" Jadi, mari kita dukung saja apa yang akan di pilih Nona Jelena. Aku yakin sekali dia tidak akan memilih pilihan yang akan merugikan bayinya, dia pasti akan berpikir dengan cermat, dan pada akhirnya dia akan melakukan apapun untuk keselamatan bayinya. "
Ayahnya Jelena mengangguk setuju.
Bersambung.
__ADS_1