Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 41 : Meminta Bantuan


__ADS_3

Jelena terpaksa keluar dari rumah untuk mendapatkan satu taksi, alasannya adalah karena Bibi dapur tiba-tiba pingsan saat sedang memotong sayuran. Popi tidak bisa bangun karena Bibi dapur menjatuhkan kepalanya di Popi, sedangkan tukang kebun kini tengah mencoba memberikan minyak angin, dan mencoba membuat Bibi dapur untuk segera tersadar.


Bingung harus bagaimana mencari taksi yang jarang sekali lewat ke sana, Jelena sibuk mondar mandir kebingungan, menoleh ke kanan dan ke kiri sehingga Ken yang berada di sana segera keluar dari mobil untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga Jelena terlihat begitu gelisah dan kebingungan.


" Violet, ah, maksudnya, Jelena. Ada apa? Apa kau membutuhkan bantuan? "


Jelena terdiam, Violet? Aneh sekali karena hadapannya itu seperti begitu mengenalnya padahal Jelena benar-benar yakin belum pernah bertemu dengan pria itu. Tidak, bukan itu yang harus pikirkan sekarang, melainkan dia harus mencari taksi untuk membawa Bibi dapur ke rumah sakit.


" Boleh saya minta bantuan? " Tanya Jelena yang tidak lagi ingin membuang waktu, menebak apakah pria di hadapannya adalah orang baik atau bukan. Sungguh itu tidak sepenting nyawa Bibi dapur, jadi mau orang itu jahat atau baik, biarkan saja itu akan menjadi urusan nanti.


Ken dengan cepat mengangguk setuju, dia tentu saja siap memberikan apapun bantuan yang di minta Jelena.


" Tentu saja, apa yang harus aku lakukan? "


Jelena terdiam sebentar berharap meminta bantuan dari orang itu bukanlah pilihan yang buruk.


" Di dalam ada orang yang pingsan, aku butuh mobil untuk membawanya ke rumah sakit. " Ucap Jelena.


Ken segera mengangguk, dan dia mengajak Jelena untuk masuk ke dalam lalu membiarkan Ken untuk membawa tubuh Bibi dapur ke dalam mobil.


Benar-benar membuat orang merasa begitu kagum dengan Ken yang bahkan tidak terlihat keberatan mengangkat tubuh Bibi dapur, padahal Bibi dapur bisa di bilang gemuk.

__ADS_1


Begitu sampai ke mobil, Ken meminta dua orang yang ada di dalam sana untuk segera keluar, lalu dia meletakan tubuh Bibi dapur ke dalam sana, dan Popi ada di belakang untuk menemani Bibi dapur, sedangkan Jelena berada di kursi depan bersebelahan dengan Ken yang kini mengambil alih untuk mengendurkan mobil.


Sekitar dua puluh menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit, dan dnegan segera Bibi dapur mendapatkan penangangan.


Tekanan darah tinggi, stres yang cukup parah, itu adalah pemicu yang membuat tubuh Bibi dapur ambruk hari ini. Wajar saja jika memang begitu, dia harus menghidupi tiga anak yang membutuhkan biaya cukup besar, di tambah lagi anak-anak Bibi dapur juga sering kali mengeluhkan waktu Bibi dapur yang justru dia habiskan untuk berada di rumah Victor. Sudah mencoba untuk memberikan pengertian kepada tiga anaknya, tapi tetap saja yang namanya anak-anak hanya tahu mengatakan apa yang dia rasakan saja. Suaminya Bibi dapur juga sudah tidak bisa di andalkan lagi karena dia sudah pergi entah kemana bersama tetangganya, atau selingkuhannya.


Di luar ruangan.


Ken dan Jelena duduk bersebelahan tanpa bicara sehingga cukup lama.


" Terimakasih karena sudah membantu kami, Tuan. " Ucap Jelena kepada Ken tapi dia sama sekali tidak menatap Ken padahal Ken berada di sebelahnya dan kini tengah menatapnya.


" Sebenarnya anda siapa? Kenapa anda menyebut Violet saat melihatku? " Tanya Jelena yang kini jelas menunjukan tatapan seolah di begitu penasaran akan banyak hal.


Ken tersenyum tipis dengan wajahnya yang terlihat begitu penat. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin dia katakan kepada Jelena, tapi kenapa dia tidak bisa bicara dan bingung dari mana dia harus memulai untuk bicara.


" Apa anda adalah salah satu petugas kasino yang sengaja mendekatiku, anda ingin membawaku karena hutang Ayah dan Ibu ku. " Tanya Jelena dengan tatapan matanya yang begitu menuntut menginginkan jawaban sejelas mungkin.


Ken menggeleng dengan senyum pilu. Benar-benar hanya Tuhan yang tahu benar betapa menderitanya Jelena selama ini. Padahal dia adalah putri tunggal dari pasangan suami istri yang memiliki kekayaan melimpah, dia memiliki orang tua yang menyayanginya. Tapi karena sifat egois pelayan rumah dan tukang kebun ruamahnya, Jelena harus hidup serba terbatas, tertekan, dan bersedih selama belasan tahun.


" Bukan , aku tidak memiliki niat jahat saat datang kepadamu. " Jawab Ken.

__ADS_1


" Datang kepadaku? Artinya anda sengaja untuk menemui ku? Anda memiliki tujuan? "


Ken kembali menatap Jelena yang terlihat tidak percaya, dan pastilah Jelena sudah banyak menebak di dalam kepalanya.


" Aku tidak bisa mengatakan semuanya sekarang karena tempat, dan situasinya benar-benar tidak mendukung, tapi biarkan aku bertanya satu saja pertanyaan agar aku tahu harus melakukan apa, dan harus bertindak agar tidak ada pihak yang akan di rugikan. " Ken menatap Jelena dengan tatapan serius membuat Jelena juga bereaksi yang sama.


" Apakah yang membuatmu tertahan di rumah itu? Kau mengalami kesulitan? "


Jelena terdiam sebentar, dia mencengkram kain dress yang dia gunakan. Kenapa dadanya merasa sakit, kenapa dia seperti ingin menangis saat ada yang bertanya dengan kalimat seperti itu? Kau mengalami kesulitan? Rasanya ini adalah kali pertama ada orang yang beraynaya seperti itu padanya.


" Aku baik-baik saja. " Ujar Jelena, tentu saja dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada orang yang sama sekali tak pernah dia kenal sebelumnya.


Ken membuang nafanya pelan.


" Tidak apa-apa, tentu saja aku paham jika kau tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya karena menurutmu aku adalah orang asing yang tidak harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, kau bisa datang padaku kapanpun saat kau merasa butuh bantuan, dan aku mengatakan ini bukan karena aku menginginkan hal yang menyakiti dan merugikan mu. Aku hanya memiliki kewajiban untuk melindungi mulai saat ini. "


Jelena semakin tidak mengerti dengan apa yang Ken katakan dan dia hanya bisa menatap Ken bingung tapi dia juga merasa begitu tidak ingin bertanya apapun lagi, dia tidak ingin menghabiskan waktu untuk terus menebak dan bingung sendiri.


" Ini kartu namaku, hubungi saat kau butuh bantuan, dan jika ada waktu luang aku ingin meminta sedikit waktu mu untuk membicarakan apa yang ingin aku bicarakan, dan percayalah padaku bahwa, kau akan memiliki banyak pertanyaan juga padaku nanti. ''


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2