Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 75 : Perasaan Bersalah


__ADS_3

Ken dan Victor kini duduk di luar ruangan dengan perasaan lesu. Yah, kenapa mereka ada di sana tentu saja karena ulah mereka. Mulai dari berebut siapa yang akan memberikan minum, terus bertanya apa yang di inginkan Jelena, apa yang tidak nyaman karena mereka ingin berguna untuk Jelena. Tentu saja Jelena sangat risih dengan tingkah Ken juga Victor yang sangat aneh.


Mungkin jika itu adalah wanita lain mereka akan merasa berbunga-bunga dan bangga karena di perhatikan oleh dua pria tampan yang memiliki keunggulan masing-masing. Namun sayangnya Jelena yang nihil soal cinta, jarang merasakan bagiamana di cintai menjadi bingung dengan tingkah keduanya, dia benar-benar merasa terganggu sehingga meminta Ibu dan Ayahnya agar menjauhkan Victor juga Ken darinya.


Victor menghela nafasnya, begitu juga dengan Ken. Mereka memaki tingkah mereka di dalam hati, dan keheranan kenapa mereka bisa melakukan hal kekanakan seperti itu, dan ini adalah untuk pertama kalinya bagi mereka berdua.


Ken, dia tidak pernah merasakan perasaan bersaing yang kuat kalau soal wanita. Dia juga pernah menjalin hubungan dengan wanita, hanya saja tidak seperti sekarang ini, keinginannya yang ingin memiliki Jelena, membahagiakan dirinya seolah terus menekannya untuk melakukan hal-hal di luar dugaan.


Victor, pria itu juga hanya bisa keheranan, menertawakan apa yang dia lakukan beberapa saat lalu. Tentu saja dia sadar bahwa tekanan untuk bersaing, melawan Ken. begitu membara. Victor sadar benar Ken adalah pria yang bisa dengan mudah mendapatkan cinta dari Jelena, dia adalah pria yang baik sehingga dia juga ingin terlihat baik di mata Jelena, hanya saja dia masih kurang tepat menunjukkan caranya.


" Apa kau benar-benar mencintai istriku? " Tanya Victor yang sebenarnya hanya ingin memperingati Ken saja. Tapi sungguh seperti yang Victor duga, Ken tersenyum dengan tatapan menghina dan meremehkan ucapan Victor seperti biasanya.


" Istri? Kau punya bukti kalau kau adalah suaminya? Hanya tahu menghamili saja, tapi enggan mengakui, tiba-tiba saja bersikap seperti seorang suami yang takut istri tercintanya akan di ambil pria lain? Kau ini sedang melawak atau apa? Atau kah karena kau melihat wajah bayinya Jelena mirip dengan mu, jadi kau mulai terobsesi? "

__ADS_1


Victor membuang nafasnya, tersenyum membayangkan kembali betapa cantiknya wajah anaknya, dan dia benar-benar sangat mirip dengan dirinya. Bangga, jujur saja rasanya bangga sekali karena tidak di sangka dia akan memiliki anak perempuan yang cantik, memang ya dia pernah menolak untuk memiliki anak. Tapi sungguh, Victor sama sekali tidak menyangka kalau memiliki anak akan sebahagia ini, rasanya ingin sekali memukuli dan mencubit dirinya sendiri karena kebahagiaan memiliki anak yang begitu cantik seperti mimpi.


" Anak ku sangat mirip dengan ku karena dia tidak ingin ada pria lain yang terus mengakui dirinya sebagai Ayah. Dia pasti sangat takut hal itu terjadi, jadi tolong menjauhlah dari putriku, aku takut putriku akan kejang kalau dekat dengan mu. " Ucap Victor dengan mimik yang terlihat begitu percaya diri, membuat Ken benar-benar ingin memukul, menghancurkan wajah itu menjadi butiran sehalus debu.


" Sungguh? Aku bahkan masih ingat bagaimana Jelena ketakutan dengan mu, kau yang pernah memintanya untuk mengugurkan kandungan karena kau yakin itu bukan anak mu, aku rasa bayi itu ingin menunjukan pada mu sebuah kebenaran yang tidak akan bisa kau elak. "


Victor mengeraskan rahangnya menahan diri untuk tidak membuat keributan di sana.


Di sisi lain.


Tubuhnya masih gemetar membayangkan wajah Jelena yang ketakutan, kesakitan, pucat, berkeringat dingin, bahkan dia juga ingin benar bagaimana tubuh Jelena gemetaran saat dia menahan tubu Jelena. Jelas dia merasa bersalah, dia merasa semua terjadi karena gara-gara dia yang tidak bisa menahan emosinya, tidak bisa menerima kenyataan sehingga melakukan hal yang salah. Padahal dia bisa memilih untuk berdamai dengan kenyataan, menerima Jelena, berhubungan baik dengan Jelena meski awalnya memang terasa sangat karena terus mengingatkan dengan masa lalu. Tapi itu jelas lebih baik di banding pada akhirnya dia harus menjadi pembunuh bukan?


Dengan tangan gemetaran Jemima meraih laptopnya, dia membuka blog pribadinya, menghapus tulisan sebelumnya sembari menangis membayangkan jika semua terjadi karena tulisan yang ia buat berdasarkan sudut pandangnya yang sebenarnya tak seperti itu. Dia menerima segala perasaan terluka dan menolak mengingat bahwa Meksi kenyataannya dia adalah anak yang tertukar nyatanya dia masih di terima dengan baik, dan di perhatikan meski perhatiannya agak berkurang karena sekarang sudah harus di bagi menjadi tiga.

__ADS_1


Jemima melukiskan banyak pesan tentang permintaan maaf, kepada Jelena, kepada orang tuanya, kepada semua teman dan orang lain yang di rugikan karena tulisannya itu. Dia menceritakan juga apa yang terjadi, apa yang dia lakukan dan bagaimana situasi perasaannya sekarang. Dia bimbang, bingung, takut, dan merasa bersalah. Dia ingin menghubungi salah satu orang tuanya untuk mencari tahu bagaimana keadaan Jelena. Tapi, dia terlalu malu untuk menanyakan itu karena sudah pasti dia adalah penyebab dari rasa sakit yang di rasakan Jelena bukan?


Tulisan itu itu adalah tulisan terakhir yang akan di tulis oleh Jemima karena dia merasa semua sudah akan berakhir. Dia akan kehilangan orang tuanya, dia akan kehilangan adiknya, dia akan kehilangan dunianya, dunia yang selalu membuatnya bahagia dan merasa bersyukur sudah di lahirkan di dunia ini.


Setelah menulis itu, Jemima segera bangkit dan berjalan mendekati lemarinya, mengeluarkan semua baju yang ada di dalam sana, memasukkan ke dalam koper berukuran besar sembari menangis deras. Sekarang dia hanya perlu mengemas semua pakaiannya, baru lah nanti dia akan segera pergi setelah mengetahui keadaan Jelena, juga melihat secara langsung kedua orang tuanya sebelum dia beranjak pergi. Tapi, jika Jelena ingin dia di penjara, maka dia juga tidak bisa menolak bukan?


Ayah dan Ibu kandungnya adalah seorang penjahat, pencari keuntungan dan tidak ragu memeras siapapun yang bisa dia keras dan manfaatkan. Walaupun memiliki darah mereka tidak seharusnya Jemima menjadi seperti mereka bukan? Ayah dan Ibunya sudah mendidik dia dengan benar, lebih cinta kasih jadi untuk apa dia harus seperti orang tua kandungnya?


Setelah selesai mengemas seluruh pakaiannya, Jemima duduk di pinggiran tempat tidur, meraih ponselnya dan mencoba untuk mengirimkan pesan kepada kedua orang tuanya, menanyakan bagaimana keadaan Jelena. Cukup lama dia menunggu ternyata dia belum mendapatkan jawaban apapun.


Satu jam kemudian.


Kita harus bicara!

__ADS_1


Seperti itu balasan Ayahnya Jelena kepada Jemima.


Bersambung.


__ADS_2