
Dua hari setelah menerima kartu nama itu, Jelena benar-benar menjadi tidak bisa tenang sama sekali. Sungguh aneh sekali bukan? Dia seperti terus di tekan untuk menghubungi pria yang bernama Ken itu, dia seperti terus merasa bahwa pria itu memang bukan pria yang memiliki niat jahat meski sadar benar jika orang yang memiliki modus biasanya akan menggunakan wajah polos, wajah yang bodoh seperti tak memiliki hal penting yang membuat orang merasa harus berhati-hati.
Meskipun Jelena masih ingin menepis, dan memercayai jika apa yang dia pikirkan itu tidak mungkin, tapi Jelena benar-benar tidak bisa menahan diri lebih lama lagi karena dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin di bicarakan oleh Ken, lalu kenapa dia harus mendengar nama Violet saat pria itu melihat wajahnya.
Jelena memutuskan untuk menghubungi Ken, lalu mengatakan kepadanya jika dia ada waktu untuk bicara hari ini. Benar-benar cepat sekali responnya, Ken langsung menentukan di mana dia akan bertemu, dan Jelena bisa membawa orang kepercayaan jika merasa takut saat akan menemuinya nanti.
Tentu saja tidak akan ada yang Jelena bawa, orang yang dia percayai dan dia anggap keluarga sedang tidak bisa menemaninya pergi. Bibi dapur baru pagi tadi keluar dari rumah sakit dan sekarang dia harus di rawat dulu di rumah, dan tentu saja hanya Popi yang bisa merawatnya. Jadi mana mungkin Jelena membawa Popi dan membiarkan Bibi dapur sendirian?
Victor pagi-pagi tadi sudah pergi untuk bekerja, jadi Jelena merasa tidak membutuhkan izin dari siapapun lagi kan?
Beberapa saat kemudian.
Jelena sampai ke sebuah restauran yang tak jauh dari tempat tinggalnya, restauran itu benar-benar adalah restauran kalangan atas jadi Jelena agak bingung bagaimana caranya menemukan Ken.
" Selamat siang, anda sudah memiliki meja yang di pesan? " Tanya seorang pelayan restauran yang mendekati Jelena untuk menyambutnya dengan sopan dan ramah.
" Em, aku datang untuk menemui Tuan Ken, meja nomor enam. "
__ADS_1
Pelayan restauran itu tersenyum, lalu mengangguk paham.
" Silahkan ikuti saya, Nona. "
Jelena mengangguk, tersenyum sopan lalu mengikuti kemana pelayan restauran itu melangkahkan kakinya. Jelena benar-benar hanya bisa tersenyum menahan hatinya yang terus membatin. Pantas saja dia sulit menemukan Ken, ternyata Ken berada di dalam ruangan VVIP yang tentu saja tidak akan bisa dia temukan kalau pelayan restauran tadi tidak menghampirinya.
" Silahkan masuk, Nona. Silahkan hubungi kami melalui telepon yang sudah tersedia, anda bebas mengkomplain jika ada yang tidak sesuai dengan selera anda, kami akan berusaha melayani anda dengan baik, dan semoga hari anda menyenangkan dengan pelayanan kami. " Ucap pelayan restauran, lalu setelah itu dia meninggalkan tempat itu.
Jelena masuk ke dalam ruangan, jujur saja saya membuka pintunya Jelena benar-benar merasa takut dan hampir saja berbalik dan lari secepat mungkin saat otaknya terus berpikir bahwa Ken pasti memiliki niat buruk sehingga memintanya datang ke ruangan VVIP yang sangat sepi dan hanya akan ada mereka berdua saja bukan? Tapi saat Jelena melihat ada satu wanita di sana, menatapnya dengan wajah aneh, wajah di mana dia seperti menahan kerinduan yang begitu besar tapi sayangnya Jelena benar-benar tidak mengerti, dan tidak paham untuk apa dan untuk siapa kerinduan di wajah wanita itu.
" Violet? "
Ibu Terra mengerakkan kedua tangannya yang gemetar untuk menyentuh wajah Jelena, tapi sayangnya Jelena yang kala itu masih kebingungan reflek menahan tangan Ibu Terra, dan mencoba untuk menjauhkan dirinya dari Ibu Terra.
" Violet, tolong mendekatlah supaya Ibu bisa memeluk mu ya?..... "
Jelena menoleh ke kanan ke kiri, dia pikir ada orang lain di belakangnya yang bernama Violet, dan ternyata di sana hanya ada dia saja.
__ADS_1
" Nyonya, anda sedang kenapa? " Tanya Jelena yang justru tidak nyaman dengan sikap Ibu Terra. Selama ini Jelena hidup dengan begitu keras. Orang tua yang memperlakukannya dengan sangat kasar, di jauhi, di bentak setiap hari, di pukul, di jual, dia jadikan pengamen, pengemis, bahkan hampir di jadikan wanita malam, dan berakhir menjadi pelayan rumah untuk menghasilkan uang bagi kedua orang tuanya. Sikap seorang yang keibuan seperti Ibu Terra benar-benar membuat Jelena tidak terbiasa, dan dia justru merasa takut kalau saja Ibu Terra sedang merencanakan sesuatu padanya.
" Bisakah sebentar saja kau biarkan dia memeluk mu? Aku bersumpah dia tidak akan pernah menyakitimu, sungguh. " Ucap Ken kepada Jelena. Melihat tatapan mata Ken yang begitu bersungguh-sungguh, Jelena jadi merasa tak punya pilihan sehingga dia membiarkan saja Ibu Terra kembali mendekat padanya, lalu memeluk dengan erat sembari menangis sesegukan.
" Anakku, putriku tersayang, maafkan Ibu yang bodoh ini, maafkan Ibu yang terlambat menemukan mu , dan juga menyadari kebenaran sehingga kau harus hidup dengan begitu banyak Kesedihan. Maafkan Ibu...... " Ucap Ibu Terra yang masih tak ingin melepaskan pelukannya yang erat, menangis semakin menjadi membuat Jelena memilih untuk diam saja dan menunggu sampai nanti Ibu Terra merasa agak baikan.
Beberapa saat kemudian.
Ken mengajak Jelena dan juga Ibu Terra untuk duduk dengan tenang, bicara perlahan agar tidak membingungkan untuk di dengar.
Ken dan juga Ibu Terra menceritakan semua yang mereka tahu, dugaan, serta apa yang terjadi dengan Ibu Zelin dan juga Ayah Hetho saat ini.
Tentu saja Jelena bingung, dia merasa dunia ini begitu aneh setelah terbiasa merasa kalau dunia begitu jahat. Sebenarnya apa yang terjadi? Sebenarnya kenapa semua bisa jadi begini? Sejak kecil hingga dewasa dia seperti anak pungut saja, lalu sekarang tiba-tiba saja dia adalah anak dari pasangan suami istri yang begitu menyayanginya, di tambah lagi Violet?
Jelena bangkit dari duduknya, sungguh dia pusing, dia tidak tahan dan tidak tahu harus bagaimana.
" Violet? " Ibu Terra ikut bangkit dan menyadari jika saja Jelena menjadi pucat, dia berniat ingin meminta anaknya untuk duduk saja dulu. Tapi belum juga mengatakan satu kalimat pun, Jelena sudah jatuh pingsan dan untunglah ada Ibu Terra yang menahan tubuh Jelena jadi tidak membentur lantai.
__ADS_1
" Nyonya, tunggulah sebentar aku akan menyiapkan mobil untuk membawa Nona ke rumah sakit. " Ucap Ken lalu dengan segera berlari untuk menuju ke mobilnya.
Bersambung.