
Victor menghela nafasnya, menatap malas tas ransel sedang yang sudah dia isi dengan paspor, dompet, ponsel, dan lainnya. Hari ini dia harus kembali karena ada beberapa pekerjaan yang sudah harus dia selesaikan. Tentu saja untuk kembali ke negaranya Victor merasa malas, dan tidak rela. Tapi ya mau bagaimana lagi? Dia juga harus menemui sutradara film untuk membicarakan tentang film yang akan dia bintangi, membuat tawaran tapi jika tidak sesuai dengan yang dia inginkan, Victor akan memilih untuk membatalkan itu.
"Kau jadi pulang hari ini?"
Tanya Jelena setelah membuka pintu kamar Victor yang memang sudah sedikit terbuka sebelumnya.
Victor kembali menghela nafasnya, mengangguk dengan mimik tidak rela membuat Jelena hanya bisa tersenyum kikuk. Yah, memang lebih baik Victor pergi dulu saja karena beberapa hari Victor di sana sudah cukup membuat Jelena seperti jantungan, berdebar tidak jelas.
"Ya sudah kalau begitu, kak Ken akan sampai sore nanti, jadi dia bisa tidur di sini saja soalnya aku belum sempat membersihkan kamar tamu."
Victor membulatkan matanya, di iringi dengan dahinya yang mengeryit. Segera Victyr mengeluarkan kembali barang-barang yang sudah dia masukkan ke dalam tas, bahkan paspor dan juga dompetnya sampai terjatuh ke lantai.
"Aku tidak jadi pulang!"
Ucap Victor dengan tegas, membuat Jelena kebingungan apa yang sedang di pikirkan Victor saat ini. Padahal semalam Victor sudah menjelaskan banyak hal kenapa dia harus pulang. Jadwal pemotretan, syuting iklan untuk minuman kemasan, dan juga membicarakan secara langsung tentang rencana adegan panas yang mengganggunya beberapa hari ini.
"Kau bilang banyak pekerjaan yang harus diselesaikan bukan?"
Victor memicingkan matanya, menatap sebal ke arah Jelena karena merasa kalau Jelena seperti sedang mengusirnya keluar dari rumah agar bisa bersama dengan Ken. Tidak! Jangan harap itu akan terjadi, dia tidak akan membiarkan itu terjadi, karena kalau sampai mereka bersama, bukan tidak mungkin akan timbul benih-benih cinta sialan kan?
"Tidak, tidak ada! Aku pengangguran!"
__ADS_1
Jelena mengeryitkan dahinya. Entah mengapa saat ini Victor benar-benar terlihat menggemaskan, Jelena bahkan sudah tidak ingat lagi kalau dulunya Victor selalu menatap dingin dan bicaranya selalu saja menyebalkan. Entah dia berubah, ataukah memang Victor sejak dulu memiliki sifat seperti itu.
"Bayarannya sangat mahal loh, apa tidak merasa rugi membuang waktu disini? Juga aku baru saja mendapatkan pesan dari media sosialku yang asalnya dari Katherine. Dia bilang-,"
Jelena tersenyum setelah mengatakan itu, membuat Victor terlihat lebih sebal dari sebelumnya. Sebenarnya memang benar Katherine masih terus mengganggunya dengan akun media sosial palsunya, tapi sungguh Jelena tidak perduli sama sekali, kenapa? Itu semua karena Ibunya Victor yang terus menceritakan tingkah polah Victor selama berada di sana, juga ada beberapa kenalan, teman, yang meminta untuk menjodohkan anak mereka tapi di tolak mentah-mentah oleh Ibunya Victor, dan juga Victor sendiri menolak di dekati wanita manapun sampai membuat Ibunya khawatir apakah kemampuan Victor sebagai pria sudah tidak ada lagi atau bagaimana.
"Masalah bayaran aku sebenarnya sama sekali tidak memperdulikan hal itu, kau tahu aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan bahkan tanpa bekerja bukan? Hanya saja aku mulai menyadari bahwa aku pasti akan kehilangan banyak hal jika menggila dunia entertainment."
Jelena memaksakan senyumnya, berjalan mendekati Victor dan duduk di sebelahnya. Sebenarnya untuk duduk di sana dia merasa berdebar, tapi ya mau bagaimana lagi? Kalau debaran jantungnya tidak di lawan, bisa-bisa dia mudah jantungan nantinya.
"Sebenarnya aku adalah salah satu dari penggemar mu. Dulu aku sering kali mencuri waktu melihatmu di televisi, aku berharap kau tidak akan pernah berhenti terlihat di televisi tapi kala sekarang sebagai Ibu dari anakmu, aku merasa kalau- "
"Jadi, kau suka aku?"
Jelena menelan salivanya sendiri karena merasa gugup. Tidak, bukan begini yang ingin dia katakan, maksudnya dia ingin mengatakan dari sudut pandang seorang penggemar, dan juga seorang Ibu dari anaknya Victor. Tapi kenapa jadi begini? Kenapa Victor malah menyimpulkan seenaknya kalau Jelena menyukai Victor?
"Bukan begitu!"
Victor terlihat kecewa.
"Jadi, kau memang sama sekali tidak suka ya?"
__ADS_1
Jelena menghela nafasnya, entah bagaimana dia harus menanggapi kata suka dan tidak suka yang keluar dari mulut Victor.
"Dengar, biarkan aku mengatakan apa yang ingin aku katakan tadi." Ucapan Jelena ini langsung mendapati anggukan dari Victor.
" Dulu aku sering kali mencuri waktu melihatmu di televisi, aku berharap kau tidak akan pernah berhenti terlihat di televisi tapi kala sekarang sebagai Ibu dari anakmu, aku merasa kalau kau juga harus bisa membagi waktumu dengan sangat baik untuk anakmu juga. Tapi, itu pasti akan sangat melelahkan untukmu, jadi aku pikir asalkan kan kau mencintai pekerjaanmu dan bahagia dengan pekerjaanmu rasa lelah pasti tidak akan begitu di rasa. Jadi lakukan apa yang membuatmu senang, tapi juga jangan lupakan waktu untuk anakmu, jangan sampai kehilangan momen saat dia sedang bertumbuh dan berkembang."
"Aku memang mencintai pekerjaanku, aku suka sekali dengan akting, tapi aku lebih cinta dan suka padamu." Victor terus tersenyum menatap Jelena yang kini terlihat enggan untuk menatap ke arahnya. Ah, bukankah itu sangat lucu karena pipi Jelena jago memiliki air merah di sana.
"Berhenti menggodaku! Kau jangan berani-beraninya berakting di depanku, aku tidak ingin melihatnya. " Ucap Jelena yang sukses membuat Victor kehilangan senyum di bibirnya. Benar saja, melihat bagaimana kemampuan beraktingnya sudah tidak mungkin akan ada banyak orang yang tidak meragukan dirinya di dunia nyata bukan?
"Je?" Panggil Victor yang kini mulai terlihat serius saat ingin bicara.
"Kenapa?" Jelena menoleh, menatap Victor yang kini sudah begitu dekat dengannya, tak terkecuali wajahnya.
"Aku benar-benar menyukaimu, bukan! Bukan suka, tapi aku cinta!" Ucap Victor begitu serius membuat Jelena terdiam karena apa yang di ucapan Victor benar-benar seperti mimpi untuknya.
"A apa?" Jelena terlihat gugup membuat Victor tertawa kecil, dan tentu saja Jelena jadi sebal karena ternyata Victor sedang berakting sekarang.
"Menyebalkan!" Maki Jelena seraya membuang wajahnya, ogah bertatapan dengan jarak yang begitu dekat dengan Victor. Tapi belum sempurna dia menoleh menghindari tatapan Victor, tangan Victor sudah lebih dulu meraih wajah Jelena, membuatnya tak ada pilihan untuk kembali menoleh ke arah yang sama, arah di mana wajah Victor berada di sana, dan tak ada jeda dengan cepat Victor mencium bibir Jelena.
Bersambung.
__ADS_1