Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 55 : Perasaan Tidak Menentu


__ADS_3

Rasanya ingin berlari, menjauhkan Ken dari dekat Jelena dan mengisi posisi itu. Tapi melihat Jelena tertawa senang, Victor membeku tak berani melakukan apa yang dia inginkan. Dia merasa begitu bersalah karena selama ini dia benar-benar tidak pernah sekalipun melihat Jelena bahagia seperti itu, yang dia lihat hanyalah Jelena dalam diam menahan kesedihan, kekecewaan, juga kemarahan terhadap sikap Victor yang jelas membuatnya merasa begitu kesal atas ketidak adilan yang di dapatkan Jelena.


Sejak pertama Victor adalah orang yang sudah melecehkan Jelena dengan kasar, membuatnya hamil, lalu menekannya dengan berbagai cara untuk menolak kenyataan bahwa dia sudah menikahi Jelena, meminta Jelena untuk menggugurkan kandungan, bahkan dia menggunakan beberapa cara untuk memenuhi keinginannya.


Sekarang Jelena jelas tidak akan Sudi menerimanya, rasanya juga sangat tidak tahu malu kalau sampai dia menginginkan kebersamaan entah alasannya adalah bayi itu atau bukan. Sejak semula Victor kan memang tidak menginginkan anak itu, dan hanya karena Jelena bersikeras saja akhirnya bayi itu sudah tujuh bulan di dalam kandungan.


Begitu Jelena sudah akan melewati dirinya, Victor dengan segera menyembunyikan tubuhnya karena dia merasa tidak siap jika Jelena melihat keberadaannya.


Sekarang Victor benar-benar hanya bisa menatap punggung Jelena dan Ken yang mulai menjauh dengan segala pemikirannya. Dia mulai memperhatikan tubuh Jelena yang terlihat agak berisi, meski jika dari belakang dia tidak nampak seperti wanita hamil.


Tak ingin langsung menemui Jelena, Victor memutuskan untuk terus mengikuti kemana Ken dan Jelena pergi. Rupanya mereka langsung pulang ke rumah, jadi Victoria juga tidak bisa terus mengikuti mereka sampai ke dalam sana. Karena dia ingin berada di sana untuk beberapa saat, Victor sudah meminta Juno untuk menyewa rumah tepat di sebelah Jelena agar bisa lebih sering melihat apa saja yang di lakukan Jelena setiap harinya.


Victor tentu saja sudah mendapatkan rumah itu berkat bantuan Juno dam rekannya, jadi dia hanya tinggal menerima kunci dan masuk ke rumah yang berada tepat di sebelah Jelena tinggal.

__ADS_1


Seharian Victor hanya sibuk mengamati Jelena dari jendela rumah, dan sepertinya Jelena juga Ken sama sekali tidak keluar dari rumah entah apa saja yang sedang mereka lakukan. Rasanya ingin sekali ke sana dan melihat secara langsung apa apa yang di lakukan mereka berdua. Hanya saja Victor juga merasa agak tidak sopan dan juga akan memalukan, di tambah lagi dia juga bingung harus mengatakan apa jika dia tiba-tiba saja masuk ke dalam rumah itu.


Sore harinya Victor tersentak kaget saat melihat Ken keluar dari rumah sembari menyeret sebuah koper berukuran sedang keluar dari rumah. Seperti seorang suami yang akan berpamitan untuk bekerja kepada istrinya, Ken sebentar mengobrol entah apa yang sedang mereka berdua obrolkan. Mereka saling tertawa kecil, dan pada akhirnya Ken menyentuh perut Jelena, mengusapnya dengan lembut, menunduk seperti sedang mebisikkan sesuatu kepada bayi yang ada di dalam perut Jelena.


Victor merasa kesal, dia jelas merasa kalau seharusnya dia lah yang melakukan itu, dia adalah Ayahnya bukan? Sudah tidak perlu merasa ragu anak siapa yang di kandung Jelena, karena sudah pasti anak itu adalah anak Victor. Sindrom Couvade yang dia alami karena bayinya sudah jelas sekali menunjukan siapa Anehnya.


" Pria yang bukan siapa-siapa berani sekali bertingkah seperti itu? Padahal sudah tahu kalau anak itu bukanlah anaknya, demi Tuhan aku kesal sekali. " Gerutu Victor sembari menatap Ken dan juga Jelena yang sudah cukup lama terus mengobrol dengan begitu menyebalkan di mata Victor.


Di sisi lain.


Jelena tersenyum, sebenarnya hingga sekarang ini dia masih merasa tidak nyaman, risih setiap kali Ken mengusap perutnya. Hanya saja kebiasaan Ayah, Ibu, juga Ken memang sudah seperti itu. Setiap kali mereka datang, mereka tidak akan ada habisnya mengusap perut Jelena, lalu tidak lama membujuk untuk Jelena ikut pulang ke negara asal. Tapi sampai detik ini Jelena benar-benar sangat nyaman dengan apa yang dia rasakan. Dia nyaman tinggal seorang diri, dia nyaman melakukan apapun sendiri.


" Kak Ken, aku sudah membuat janji dengan Dokter, jika nanti aku mengalami kontraksi di saat kalian semua tidak berada di sini, mereka akan datang untuk menjemput ku, membawa ke rumah sakit. Kami akan selamat, jadi kalian jangan begitu khawatir. "

__ADS_1


Ken menghela nafasnya. Dia tentu saja tidak akan mengatakan apapun karena tahu benar apa yang akan dia katakan Jelena adalah untuk selalu memintanya tenang saja.


Ini memang agak aneh, tapi Ken benar-benar tidak merasa keberatan jika dia menjadi Ayah dari anak yang di kandung oleh Jelena. Tidak tahu apakah dia mencintai Jelena atau tidak, tapi yang jelas Ken hanya ingin segalanya yang tebaik untuk Jelena. Kalaupun memang sulit menjadi Ayah pengganti, tapi Ken yakin benar dia bisa memperlakukan anak Jelena sebaik mungkin jika bisa dia juga akan menyayangi anak itu seperti anaknya sendiri.


" Tawaran yang di berikan Ibumu, sebenarnya aku sama sekali tidak keberatan, lebih tepatnya aku juga merasa itu adalah ide yang bagus. "


Jelena terdiam, dia memaksakan senyumnya karena Jelena kini tengah berpikir bagiamana dia akan menjawab apa yang di katakan Ken barusan. Sungguh dia sangat berterimakasih dengan kebaikan Ken, tapi dia juga tidak bisa membohongi perasaannya yang terus ingin menolak itu. Selain dia tidak nyaman, tidak pantas, Jelena juga sama sekali tak memiliki ketertarikan dalam hal asmara terhadap Ken.


Benar, rumah tangga bukan hanya soal perasaan tertarik saja, tapi bukankah akan lebih baik menikah dengan perasaan yang tertarik satu sama lain?


" Kak Ken, terimakasih karena sudah begitu baik, tapi sungguh aku tidak bisa menerima kebaikan yang berlebihan ini. Aku rasa aku akan baik-baik saja tanpa pasangan, kalau nanti anak ini bertanya tentang Ayahnya, tentu saja aku harus memberitahu apa yang sebenarnya. "


Ken mengangguk dengan senyum pahit. Padahal dia sungguh berharap tentang hal itu, tapi dia cukup sadar jika tidak akan mudah mengubah cara berpikir Jelena. Dia hanya perlu menjaga Jelena, menyayangi dia tanpa harus mengharapkan apapun karena bagaimanapun kondisinya, Ken adalah orang yang harus menjaga Jelena dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


" Baiklah, aku berangkat dulu. Jaga diri baik-baik, sampai jumpa bulan depan. " Ucap Ken.


Bersambung.


__ADS_2