
Begitu sampai di rumah kedua orang tuanya, Jelena benar-benar merasakan bagiamana situasinya sangat berbeda dari sebelumnya. Hening, dingin, sepi, bahkan terasa seperti tempat yang belum pernah Jelena injak sama sekali.
Ayahnya Jelena sudah datang menyambut ketika di bandara, jadi tidak ada lagi yang menganut begitu mereka sampai di rumah.
Jemima setelah kejadian itu dia terus berada di dalam kamar, sudah beberapa hari juga tidak pergi kuliah. Tomy juga memilih untuk berada di kamar, sekolah juga dia memilih untuk dai rumah saja. Dia tidak ingin mendapatkan perundungan dari teman-temannya lagi, dia tidak sanggup menghadapi teman-temannya yang sejak awal memang sangat senang merundung. Anak manja, gendut, juga anak kesayangan Ibu begitu melekat kepada Tomy, di tambah rumor yang beredar sekarang, Tomy semakin di jauhi oleh teman-temannya.
" Jelena, kau langsung istirahat saja di kamar ya? Nanti kalau butuh sesuatu panggil saja pelayan rumah. " Ujar Ayahnya Jelena.
Seperti yang di katakan Ayahnya, Jelena kini tengah berada di dalam kamar untuk istirahat. Tapi sayang sekali Jelena justru sama sekali tidak bisa beristirahat. Pikirannya benar-benar kacau, di tambah dia juga merasa cukup terguncang dengan situasi yang semakin memanas ini.
Tekanan kepada keluarga Victor masih terjadi, juga sedang gencar-gencarnya dengan keluarganya. Mereka berdua benar-benar seperti sedang sing melekat bom peledak satu sama lain. Lantas kalau begini siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah? Apa gunanya mereka memang dan apa yang mereka dapatkan saat mereka kalah?
__ADS_1
" Kau terlihat sangat tenang, apa kau senang melihat kondisi ini? " Tanya Jemima yang tiba-tiba saja datang ke kamarnya.
" Kenapa aku senang? Semua orang terpojok karena blog pribadi mu, dan kau bertanya seperti ini seolah yang kau lakukan adalah sebuah kebajikan? "
Jemima mengepalkan tangannya, sungguh dia hanya ingin melampiaskan sedikit saja kekesalan, juga perasaan tertekan yang dia rasakan. Dia pikir memaki Jelena akan sedikit membuatnya lega, tapi sepertinya Jemima salah sangka akan hal itu. Nyatanya dia tetap menyalahkan Jelena, menyalahkan kenyataan yang membuat kondisi menjadi seperti ini. Tapi, dia masih tidak bisa menerimanya, dia masih saja terus menginginkan apa yang sudah dia miliki sejak dulu. Anak kandung atau bukan, apakah itu begitu penting dan tidak bisa di gantikan dengan sembilan belas tahun ini?
" Kalau saja kau tidak datang, kalau saja kau tidak berada di sini, tidak membuat ku merasa tersisih, aku juga tidak akan menulis itu. Kau sangat menyayangi Ayah dan Ibu, aku juga menyayangi Tomy, aku tidak rela kalau harus kehilangan mereka. Tapi kau, semakin hari semakin membuatku merasa begitu tersiksa. Kehamilan mu juga membuat Ibu hampir tak memiliki satu untuk memperhatikan ku, Ayah ku bahkan menghabiskan waktu hanya untuk mencari cara membalas keluarga Horison, juga memperhatikan diri mu. Apakah kau pikir itu mudah untuk ku? Tiba-tiba saja aku menjadi anak mantan pelayan rumah, dan posisiku di gantikan oleh orang lain. Kau pikir aku tidak coba memahami dan mengerti keadaan ini? Aku sudah mencobanya, tapi semakin mencoba rasanya aku benar-benar tersiksa dan terus saja merasa akan terbuang. "
" Pertama, tidak ada yang merebut tempat mu, karena sejak awal itu memang bukan tempat mu. Kedua, yang memperlakukan mu dengan buruk hanyalah dirimu sendiri. Kau terlalu berpikir buruk, sedikit-sedikit kau anggap orang lain ingin mengusir mu, kau yang menyakiti dirimu, cara berpikir mu yang salah, lantas kenapa kau menyalakan orang lain? Ketiga, aku tidak berniat mengambil apapun dari mu, kau lah yang mencoba menegang ku menjauh, kau merasa terancam oleh keberadaan ku. Kau memilih menjadi musuh di banding menjadi saudari ku, kau membuat image mu buruk dengan sengaja. " Jelena menatap Jemima dengan tatapan tegas, dingin dan begitu serius.
Jemima menatap Jelena dengan tatapan yang tak kalah kesalnya. Padahal Jelena tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Jemima, jadi kenapa dia begitu mudah mengatakan hal semacam itu.
__ADS_1
Selama ini Jemima memang terbiasa untuk di manja, kedua orang tuanya bahkan selalu berbicara dengan nada bicara yang ramah dan lembut tak pernah sekalipun membuat hatinya sakit. Semenjak ada Jelena, cara bicara mereka sangat berbeda, bahkan Ayahnya juga tak segan-segan membentak, Ibunya juga sedikit cuek dan irit bicara. Jadi, salah kah jika dia membenci Jelena dan menanggap Jelena adalah sebab dari semua perubahan ini?
" Aku tidak perduli apa yang kau katakan karena apa yang kau katakan sama sekali tidak jelas. Mungkin kau bisa berbangga diri karena kenyataannya kau adalah anak kandung Ayah dan Ibu, tapi kau juga tidak boleh lupa bagaimana kau membuat Ayah dan Ibu malu. Usia mu baru saja sembilan belas tahun, tapi kau sudah akan melahirkan, bahkan kau dengan bangganya hidup tenang, santai, di saat kau akan melahirkan tanpa adanya bukti pernikahan. Kalau aku jadi kau, aku bahkan tidak akan sanggup melihat ke cermin, apa lagi melihat orang lain. "
Jelena menghela nafasnya. Sejujurnya dia merasa begitu malas untuk membicarakan hal itu, tapi Jelena yang sedang kacau pikiran serta hatinya sulit untuk mengendalikan diri.
" Tahu apa kau tentang ku? Kalau saja bukan karena orang tua mu yang begitu jahat, memperlakukan ku sesukanya, kau pikir aku akan jadi seperti ini? Usia empat tahun mereka memintaku untuk mengamen dan mengemis, memukuli ku saat mereka mabuk, dan juga tidak memiliki alkohol. Kau tahu apa yang lebih gila dari itu? Dia mencoba menjual ku beberapa kali ke rumah bordir saat mereka di kejar-kejar penagih hutang judi. Mereka memeras ku setiap waktu, mengambil hampir semua upah ku saat aku bekerja di rumah Tuan Victor, bahkan mereka menjual ku kepada keluarga Tuan Victor, memeras ku terus menerus, juga memeras Tuan Victor. Dia memanfaatkan bayi di dalam perutku selama bisa menghasilkan uang, lalu begitu ada yang memintanya untuk memaksaku menggugurkan kandungan dengan iming-iming uang, mereka langsung saja memaksaku, dan hampir saja menculik Ku agar bisa menghabisi bayi ini. Jika boleh di simpulkan, aku menjadi seperti sekarang bukan kan salah orang tua kandung mu? "
Jemima tidak tahan lagi mendengar ucapan Jelena. Dia dengan begitu emosi mendorong tubuh Jelena hingga Jelena jatuh duduk di lantai.
Bersambung.
__ADS_1