
Halo kesayangan Author?
Terimakasih banyak sudah stay di novel yang banyak banget Typo tiap bab, dan jauh dari kata bagus π
Author mau mengucapkan, selamat hari raya idul Fitri, ( Bagi yang merayakan ) mohon maaf jika Author membuat kesalahan yang sengaja atau tidak disengajaππ
Semoga sehat selalu, salam sayang dari Author ππ
" Tentu saja aku tahu apa yang aku lakukan salah, aku menyesal tapi apa gunanya aku mengatakan itu? Aku juga tidak tahu kalau semua akan menjadi seperti ini, aku tidak tahu kalau pada akhirnya aku justru menginginkan anak itu, atau justru aku tidak menolak Jelena tapi entah sejak kapan. ''
Victor terdiam setelah mengatakan itu. Jangan tanyakan Seberapa besar penyesalan yang dia rasakan, di tambah dia harus melihat Ken yang seperti merebut perannya. Seandainya saja dia bisa lebih jujur dengan hatinya, seandainya saja dia tidak perlu mati-matian mengelak apa yang dia rasakan setidaknya dia tidak akan sebegitu meremehkan Jelena dan tidak perlu menyesalinya sampai seperti ini bukan?
Sekarang hatinya justru kacau balau, tidak tentu arah dan tujuan, bahkan yang ada di kepalanya hanyalah tentang Jelena saja. Sempat berpikir apakah lebih baik jika segera dia memiliki hubungan baru dengan wanita yang lebih menantang agar dapat melupakan Jelena yang seperti parasit terus menempati otak dan pikirannya. Tapi mengingat bahwa sepertinya akan tidak mungkin dengan konsisi sekarang, di tambah dia juga mual terus menerus, mood yang berantakan dan sudah di tebak, bahkan dia juga selau merasa pusing di saat tertentu hingga terus membuatnya berpikir bahwa ini pasti hukuman dari bayinya. Jika memang benar, sudah jelas bayinya pasti akan sangat kesal dan marah seandainya dia melakukan apa yang sempat dia pikirkan itu.
Di sisi lain.
Jelena kini tengah mempersiapkan segala macam keperluan untuknya membuka sebuah mini restauran. Perutnya yang mulai membesar bahkan sama sekali tidak menjadi halangan dalam aktivitas sehari-hari nya. Jarang sekali mual, bahkan hampir tidak mengalami gejala apapun selama kehamilan, terkecuali hanya perut yang membesar, dan agak pegal di bagian pinggang ketika dia berlebihan dalam beraktivitas.
Sudah satu Minggu lebih ini Jelena sibuk menyiapkan kebutuhan Mini restauran, tapi biarpun dia begitu sibuk, Jelena hampir tak pernah merasakan adanya perbedaan antara hamil dan tidak kalau saja bukan karena Ken yang terus mengingatkan untuk istirahat karena kondisinya yang tengah hamil.
__ADS_1
Sudah beberapa kali ini orang tua Jelena memintanya untuk menikah saja dengan Ken, tapi Jelena juga tidak bisa menyetujuinya mengingat Ken adalah pria dewasa yang baik, dia memiliki rupa yang sangat cocok dengan para gadis cantik di luar sana. Jelena juga tidak begitu tega membuat pria lain harus menjadi Ayah dari bayi yang bukan bayinya, Jelena juga tidak ingin merendahkan Ken dengan melakukan itu. Bagaimanapun Ken layak memilih sanita mana yang ingin dia jadikan istri, Jelena yang tidak berpendidikan, juga tidak memiliki harga yang pantas untuk Ken sudah tentu begitu sadar diri.
Benar, Ken adalah anak dari sopir pribadi orang tuanya, tapi Ken begitu hebat, dia memiliki gelar master dalam bidang pendidikan, dia juga memilih mengabdikan diri kepada kedua orang tua Jelena yang menurutnya sangat berjasa untuk hidup juga keluarganya.
" Sudah selesai, jadi mari kembali ke rumah mu, dan ambil waktu untuk istirahat. " Ujar Ken, dia tersenyum dengan lembut menatap Jelena yang kini tengah menatapnya setelah menyeka keringat di wajahnya.
Jelena terdiam sebentar, membuang nafas panjangnya sebelum dia menjawab ucapan dari Ken.
" Kak Ken, aku bisa menyelesaikannya semua pekerjaan ini sendiri. Perut besar ini sungguh tidak masalah untukku, aku bahkan tidak merasa berat sama sekali. Jadi tenang, dan Kak Ken bisa kembali ke dengan lega. " Ucap Jelena mencoba untuk mendorong Ken kembali. Sudah satu Minggu ini Ken menemani kemana pun Jelena pergi, itu sudah pasti membuat Ken meninggalkan negaranya, juga segala pekerjaannya kan?
Ken mengangguk paham.
Jelena menghela nafasnya.
" Aku benar-benar bingung dengan kalian semua. Ayah, Ibu, dan kau kak Ken. Kalian terus saja mondar mandir ke sana sini, kalian pasti banyak pekerjaan bukan? Tetaplah berada di sana, bekerjalah dengan tenang, aku kan juga bisa menjaga diri dengan baik. "
Ken memaksakan senyumnya. Bagiamana mungkin dia bisa tenang? Bahkan mengingat betapa sulitnya hidup Jelena selama ini dia, juga kedua orang tua Jelena seperti tercekik gak bisa bernafas. Mereka menginginkan kebahagiaan untuk Jelena, mereka ingin Jelena selalu dalam keadaan baik-baik saja. Masalah pekerjaan mereka tentu saja tidak bisa di bandingkan dengan kesehatan Jelena.
" Hanya tinggal dua bulan lagi anak mu akan lahir, tentu saja kami sangat khawatir. Ibumu bahkan sudah menghubungi ku sebanyak tiga puluh delapan kali hari ini karena kau tidak mengangkat telepon darinya. Ayahmu sudah banyak mengirimkan pesan teks, pesan suara, dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan mu. "
__ADS_1
Jelena tersenyum, jujur saja rasanya begitu bahagia saat ada yang mengkhawatirkan dirinya sampai seperti itu. Jika mengingat dulu, bahkan dia seperti mengemis untuk di perhatikan. Ayah, Ibu, juga Ken yang sudah seperti kakaknya sendiri, perhatian dan rasa sayang dari mereka sungguh itu sudah sangat cukup untuk Jelena.
" Dokter bilang butuh banyak berjalan kaki, juga bergerak agar bisa memikirkan normal dan lancar. Kak Ken jangan khawatir, selama aku tidak merasa pusing, tidak mengabaikan kebutuhan gizi untuk bayi dan untukku, semua pasti akan baik-baik saja. "
" Baiklah, aku paham, tapi aku, juga orang tua mu tidak akan bisa diam saja. Kami akan tetap mondar mandir untuk melihat langsung bagaimana keadaan mu. "
Di tempat lain.
Victor bersiap untuk menuju ke sebuah negara di mana Jelena berada. Niatnya ingin menemui Jelena meski tidak tahu akan mengatakan apa, tapi dia merasa bahwa dia benar-benar harus menemui Jelena sekarang juga.
Butuh beberapa jam selama penerbangan, satu kali transit dan akhirnya Victor sampai ke negara itu. Jangan hanya seberapa banyak yang Victor korbankan untuk pergi ke sana, yang pasti dia sudah menolak ratusan juta uang, mungkin bahkan miliaran. Amarah kedua orang tuanya yang sejak tahu Jelena mengulang sudah terus mengancam akan mengusut siapa saja orang yang terlibat, lalu akan memberikan pelajaran dan peringatan.
Victor pikir kepergiannya untuk menemui Jelena bukan hanya untuk dirinya, tapi juga melindungi keluarga Jelena dari amukan orang tuanya.
Butuh hampir sepuluh jam untuk menemukan alamat di mana tempat tinggal Jelena, dan di mana Jelena saat itu berada. Mengetahui Jelena berada di sebuah rumah sakit, Victor dengan segera menyusul ke sana.
Begitu sampai di sana, Victor benar-benar di buat terdiam melihat Jelena dan Ken yang kini tengah tertawa bersama melihat sebuah benda pipih di tangan Jelena. Benda itu, sepertinya Victor ingat benar bahwa itu adalah photo hasil USG bayi yang ada di perut Jelena.
Bersambung.
__ADS_1