Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 95 : Predator Kehilangan Kesabaran


__ADS_3

Hari itu juga Victor memutuskan untuk keluar dari rumah sakit karena dia juga harus menemui Mira di rumah kedua orang tua Jelena. Toh Victor memang tidak sakit sejak beberapa hari yang lalu bukan?


Datangnya Victor membuat Jelena memutuskan untuk membiarkan saja Mira bersama Ayahnya sedangkan dia sebentar untuk mengobrol bersama Jemima yang masih terlihat ragu-ragu untuk menerima pernikahannya dengan Ken. Ibunya Jelena juga berada di sana untuk terus membujuk Jemima berharap di akan memenuhi harapan itu.


Melihat Mira begitu bahagia berada di gendongannya, berceloteh tidak jelas entah apa yang dia ceritakan karena yang mampu Victor pahami hanyalah tentang boneka saja. Victor tersadar bahwa dia juga sudah kehilangan kemampuannya dalam memahami Mira. Jelena selalu saja mengerti apa yang di katakan Mira sekalipun Mira berbicara sembari menangis, bahkan pengasuh Mira juga mengetahui apa yang di katakan Mira.


Sepertinya keputusan yang akan dia ambil memang sulit, dan bisa di bilang sedih. Tapi ini lebih baik di banding dia kehilangan Mira dan juga Jelena. Kedua perempuan itu benar-benar sangat cantik, memang siapa yang tidak mau Ibu muda cantik, bonus anak kecil yang sangat cantik? Di banding kehilangan mereka hanya demi sesuatu yang bahkan belum tentu akan membuatnya bahagia, Victor memutuskan untuk megambil satu langkah besar yaitu, berhenti menjadi aktor dan akan mulai memusatkan diri menjadi pembisnis seperti kedua orang tuanya yang sedang bingung apakah mereka harus benar-benar menunggu Mira dewasa baru bisa berhenti? Maklum saja, bisnis keluarga Victor begitu besar dan bahkan sampai ke beberapa negara yang tentu membutuhkan konsentrasi penuh. Mewarisi bisnis keluarga harus dia ambil karena dia tidak mau melihat putrinya tumbuh dengan tekanan karena harus menjadi pewaris bisnis kakek dan neneknya.


Beberapa saat kemudian.


"Kau masih di sini?" Tanya Jelena yang baru datang untuk melihat Mira karena ini adalah jam tidur Mira. Ternyata adanya Victor membuat Mira sangat bersemangat tak terlihat mengantuk sama sekali.


"Iya, kita bisa bicara sebentar?"


Jelena terdiam sebentar, lalu memaksakan senyumnya untuk mengangguk.


Jelena dan Victor kini berada di kursi taman samping rumah di mana hanya ada mereka berdua saja saat ini.

__ADS_1


"Mungkin ini terlalu buru-buru, aku bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk memikirkan apa yang kita bicarakan tadi. Tapi aku yakin untuk memilih, aku akan meninggalkan karir ku di dunia hiburan, dan akan fokus denganmu juga anak kita."


Jelena menghela nafas, dia menatap ke arah depan dan tersenyum kelu. Sungguh dia tidak menyangka kalau pada akhirnya semua akan berakhir seperti ini, dia tidak pernah membayangkan kalau aktif idolanya akan rela meninggalkan karir yang begitu cemerlang untuk bisa bersama dengan dirinya juga anaknya.


"Kau seharusnya memikirkan ini baik-baik, Victor. Ini bukan hanya untuk satu atau dua tahun saja, kau pasti akan merasakan kejenuhan dan juga menyesal untuk keputusan yang kau pilih ini. Aku tahu benar betapa kau mencintai pekerjaanmu itu, bahkan bisa jadi besok kau juga sudah merasa menyesal."


Victor terdiam sebentar, tidak usah menunggu besok, saat berbicara dengan Jelena rasanya dia juga seperti merasa cukup berat meninggalkan perannya sebagai seorang aktor. Tapi segala sesuatu memang membutuhkan pengorbanan bukan? Jika dia tetap mencoba bahagia dengan menjadi aktor dan terus berkecimpung di dunia hiburan otomatis dia harus mengorbankan Jelena dan juga Mira. Bahkan bisa jadi juga kalau Jelena nanti akan menikah dengan pria lain dan hidup bersama pria lain, membuat Mira memanggil pria lain sebagai Ayahnya dan dia kehilangan segalanya, kesungguhan dari apa yang di sebut kebahagiaan sejati.


"Aku bukan orang yang suka berpikir gegabah, Je. Walaupun aku memang mencintai pekerjaan sebagai seorang aktor, nyatanya aku jauh lebih mencintai kalian berdua. Aku mungkin akan merasa sedih dan merindukan pekerjaan ini, tapi aku yakin akan baik-baik saja jika aku bersama dengan kalian berdua. Berbeda jika aku lebih memilih untuk tetap menjadi aktor, mungkin selamanya aku hanya bisa berpura-pura bahagia dan membohongi diri sendiri bahwa sebenarnya aku sangat menderita dengan pilihan bodoh itu."


Jelena menatap ke samping di mana Victor berada tengah menatapnya. Jelena bisa melihat keyakinan dari sorot mata Victor, bahkan cara bicaranya juga begitu meyakinkan membuat Jelena merasa cukup terharu.


Victor meraih tangan Jelena, menggenggamnya erat-erat dan menatap penuh keyakinan.


"Aku yakin karena yang aku pilih adalah kau dan juga anak kandungku."


Jelena tersenyum seraya mengigit bibir bawahnya, sungguh kali ini dia benar-benar merasa sangat terharu hingga matanya memerah dan berair.

__ADS_1


"Victor, jika suatu hari nanti kau menyesal, tolong katakan saja dan jangan pernah berubah sikap lalu menyakiti kami berdua." Pinta Jelena yang langsung membuat Victor mencium tangan Jelena yang tengah dia genggam.


"Baiklah, mari kita berjuang sama-sama untuk hidup bahagia. Sebuah hubungan pasti tidak akan lewat dari cobaan, bahkan juga adanya tokoh yang tidak kita inginkan dalam kehidupan kita. Tapi aku berjanji, demi mu, demi putri kita, demi anak kita yang lainnya nanti, aku akan berusaha sebaik mungkin, aku akan menjaga diri, menjaga keluarga kita sepenuh hati."


Jelena tersenyum sembari mengangguk, tapi lelehan air matanya benar-benar tak bisa dia tahan lagi.


"Terimakasih banyak Victor, dan maaf karena membuatmu harus memilih dan mengorbankan hal sebesar ini." Ucap Jelena saat Victor membawa tubuhnya masuk ke dalam pelukannya.


Victor mencium leher Jelena dan kembali mengeratkan pelukannya. Memang sebagian ada pria yang rela meninggalkan keluarganya demi sesuatu yang di rasa lebih menggiurkan seperti wanita dan popularitas, tapi Victor sudah memilki itu sejak lama, dan yang belum dia miliki adalah sebuah keluarga meski sempat tak menginginkannya.


"Sampai kapan kalian akan berpelukan begini ham?"


Jelena dan juga Victor kompak menjauhkan tubuhnya saat suara Ayahnya Jelena terdengar begitu dingin.


"A Ayah?" Jelena bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri Ayahnya yang berdiri tak jauh dari mereka. Entah sejak kapan Ayahnya Jelena berdiri di sana, entah sudah berapa banyak juga yang dia dengar.


Jelena kini menghambur ke dalam pelukan Ayahnya, sejak dia datang pagi tadi dia sama sekali belum menemui Ayahnya.

__ADS_1


"Sepertinya kalian harus segera menikah, Ayah lihat predator itu sepertinya sudah hampir kehilangan kesabaran." Ujar Ayahnya Jelena membuat Jelena semakin menyembunyikan wajahnya yang memerah, sementara Victor terdiam sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Bersambung.


__ADS_2