Benih Terlarang

Benih Terlarang
BAB 93 : Tidak Bisa Berhenti!


__ADS_3

Victor mengunci kedua tangan Jelena di atas kepala dengan satu tangannya, kemudian satu tangannya lagi dia gunakan untuk menyentuh tengkuk Jelena. Bibirnya begitu aktif mencium bibir Jelena, menyesap tanpa ampun karena momen seperti saat itu adalah hal yang paling langka. Beberapa tahun belakangan semenjak dia memutuskan untuk berpacaran degan Ibu dari anaknya itu, mereka tida lebih dari sibuk menonton bioskop, makan bersama, mengurus Mira, bahkan megambil les untuk orang tua agar mereka tahu bagaimana mengurus anak. Di tambah lagi Jelena juga sibuk kuliah dan menjalankan bisnis, jadi untuk melakukan hal lebih benar-benar sulit sekali. Kalaupun ada situasi yang mendukung, pasti yang anda Jelena akan mengelak dan segera menyibukkan diri dengan pekerjaan yang seharusnya tidak dia kerjakan.


"Em!......." Pekik Jelena saat Victor semakin buas menciumnya, tangannya juga sudah berada di dada Jelena dengan memijatnya lembut.


Entah, yang jelas Victor benar-benar tidak perduli di mana dia sekarang toh di luar ada Juno yang akan menjaga kamarnya dan tidak akan ada yang bisa masuk bukan? Lagi pula Jelena juga tidak terlihat menolak, jadi sekarang Victor benar-benar harus gencatan senjata sebelum Jelena benar-benar di nikahkan dengan Ken.


Sebenarnya Victor tidak memiliki niat sejauh itu, dia tidak benar-benar serius dalam mengatakan untuk membuat adiknya Mira, tapi dia sendiri benar-benar terbawa suasana. Dia tidak bisa menolak pesona Jelena yang begitu menggoda. Rambutnya yang wangi, tubuhnya yang mulus, dan harum. Bibirnya yang terasa hangat dan kenyal, bagian dadanya memang kecil, tapi Victor benar-benar menyukainya entah kenapa. Kalau aja itu adalah Victor yang dulu, bentak dada, bentuk bokong, wajah yah simetris, susuan wajah harus proporsional, tapi sepertinya dia sadar benar jika dia memang keterlaluan dalam memiliki tipe. Tapi, sekarang semua ada pada Jelena, tidak perduli seperti apa bentuknya, dia benar-benar menyukai, mencintai Jelena yang seperti itu. Semuanya sungguh indah, sungguh menggoda, dan Victor terus bersumpah untuk tidak akan pernah melepaskan wanita itu seumur hidupnya. Yah, ini mungkin bisa di bilang karena Victor sudah merasa lelah bermain-main dengan wanita cantik sebelumnya.


"Vi Victor!" Jelena memekik saat tangan Victor tiba-tiba saja sudah masuk ke bajunya, dan menyusup memegang bagian benda kenyal yang sejak tadi dia pegang hanya saja tadi dari bagian luar.


"Jangan, jangan melarangku kali ini, aku sudah tidak bisa menahannya lagi." Jawab Victor, lalu kembali mencium bibir Jelena dengan buas.


"Victor, Katherine sudah per-" Juno membulatkan matanya, lalu segera dia berbalik badan untuk menghindari pemandangan yang begitu mencekam itu.


Jelena dan Victor segera menjauh satu sama lain hingga Victor terjatuh dari brankar rumah sakit.


"Ah!" Pekik Victor sembari merasai pinggangnya yang sakit, sementara Jelena segera bangkit sembari membenahi pakaian dan juga penampilannya.

__ADS_1


Victor menatap punggung Juno dengan tatapan marah, sialan! Dia benar-benar sangat terkejut tadi, dan Jelena yang terkejut tanpa sengaja mendorong tubuh Victor cukup kuat hingga dia terjatuh ke lantai.


"Dasar kurang ajar! Kemari kau!" Victor segera bangkit dan berusaha berjalan cepat untuk menghampiri Juno, tapi Juno segera pergi keluar dan menahan pintu agar Victor tak bisa membukanya. Yah, dia lupa kalau mereka berdua cukup lama tidak bertemu dan seharusnya dia juga ingat kalau pandangan biasanya akan berciuman atau saling memeluk mesra begtu kembali bertemu bukan?


Bug!


Victor memukul pintu rumah sakit sembari karena dia tahu kalau Juno pasti menahan pintunya agar dia tidak bisa keluar dari sana.


"Dasar pengganggu! Padahal tinggal sedikit lagi, sialan!" Kesal Victor yang membuat Jelena terdiam dengan segala pemikirannya. Sebenarnya Victor memang sudah menunjukan betapa seriusnya dia dalam menjalin hubungan dengan Jelena. Dia juga Ayah yang baik, jadi sepertinya Jelena tak memiliki alasan untuk menunda lagi niat pria itu.


Victor menyeka keringatnya yang mulai muncul karena menahan marah, juga menahan bagian bawahnya yang sudah bereaksi sejak beberapa saat setelah mencium bibir Jelena. Sekarang dia benar-benar butuh ke kamar mandi, dia ingin membuang apa yang seharusnya dia buang untuk menghilangkan rasa sakit karena harus menahan diri.


Baru saja Victor ingin memutar tubuhnya dan menuju ke kamar mandi, kedua lengan Jelena melingkar memeluk Victor dari belakang.


"Je Jelena, aku sekarang butuh ke toilet, jangan menggoda di saat yang tidak tepat ya?"


"Siapa yang sedang menggoda mu?" Ucap Jelena semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Victor terdiam, sejujurnya dia benar-benar ingin menyeret Jelena ke tempat tidur dan melakukan apa yang dia ingin lakukan, tapi sepertinya itu tidak akan mudah mengingat di mana mereka berada bukan? Tapi, sayang sekali kalau di lewatkan bukan? Jelena berinisiatif seperti ini tentu saja sudah sangat jarang, jadi dia benar-benar di lema sekali.


"Je, kau tahu tidak aku sedang menahan sesuatu yang akan sangat bahaya untukmu."


Jelena tersenyum tapi dia benar-benar tak mengindahkan apa yang di ucapan Victor, justru dia semakin mengeratkan pelukannya.


Tentu saja apa yang di lakukan oleh Jelena membuat Victor tak bisa menahan lebih lama lagi, tidak bisa menghentikan apa yang dia ingin lakukan. Victor meraih kedua tangan Jelena, meregangkan agar dia bisa memutar tubuhnya dengan mudah, lalu meletakkan kembali untuk memeluknya. Tatapan mereka kini bertemu, menatap dengan intens satu sama lain dengan pemikiran yang sama. Budaya berpacaran yang di anut Victor jelas tidak sebaik itu. Ah, bahkan hampir anak muda jaman sekarang menganut cara berpacaran seperti dirinya.


"Aku tidak akan lari untuk melakukan apa yang akan dan harus aku lakukan nanti, tapi beda cerita jika aku mati. Sekarang, biarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan." Victor segera meraih tengkuk Jelena, kembali menyatukan bibirnya, dengan ritme yang pelan tapi semakin cepat Victor menyesap habis bibir Jelena, menyentuh bagian yang ingin dia sentuh tak perduli akan ada yang masuk atau tidak. Toh Juno sudah melihat apa yang tadi sedang dia lakukan, Dokter juga tidak perlu datang seperti beberapa hari terakhir karena keberadaannya di rumah sakit hanyalah alasan agar Victor bisa istirahat dengan baik.


"Victor, kenapa kau menyentuh bagian itu?!" Prutes Jelena saat tangan Victor menyusup masuk lewat kain segitiga yang di kenakan Jelena. Sungguh sangat mendukung sekali karena kali ini Jelena menggunakan dress selutut yang agak longgar.


"Jangan di sana, Victor!"


"Tidak bisa, aku tidak bisa berhenti!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2