
Jelena terdiam, dia mengangguk tak berapa lama karena bingung harus bagaimana menanggapi ucapan Katherine barusan. Semenjak hamil, Jelena benar-benar merasa tubuhnya mudah lelah, dan di saat dia merasa mengantuk, dia benar-benar akan sulit menahan perasaan ngantuk itu makanya dia tidur di jam kerja.
" Katakan padaku, katakan padaku kalau apa yang di katakan orang tadi tidak benar! Katakan, ayo cepat katakan sekarang juga! "
Jelena tentu saja tidak bisa menjawab apa yang di tanyakan padanya. Orang tadi apa? Apa yang di katakan orang tadi?
Melihat Jelena terdiam, Katherine benar-benar menjadi berpikir ke arah sana, mungkinkah benar Victor menghamili Jelena? Bukankah itu tidak mungkin? Jelena hanyalah seorang pelayan, Victor tidak mungkin mau menyentuh seorang pelayan yang pasti tidak ada waktu untuk merawat tubuhnya, dan belum tentu juga sempat mandi dengan rajin. Tapi kenapa Jelena diam saja seperti bingung ingin menjawab apa? Kalau tidak tentu saja hanya perlu segera menjawab bukan?
" Kenapa diam saja?! Ayo jawab! "
Jelena yang semakin bingung kini hanya bisa menatap Katherine dengan tatapan bertanya. Tapi karena Katherine hanya terus menatapnya dengan marah, Jelena pada akhirnya harus bertanya untuk tahu apa yang sebenarnya di tanyakan oleh Katherine, dan orang yang mana yang di maksud Katherine sedari tadi.
" Nona Katherine, sebenarnya anda menanyakan apa? Orang siapa, dan apa yah di katakan orang tadi? Aku sama sekali tidak paham, tidak mengerti jadi aku bingung harus menjawab apa. " Ujar Jelena membuat Katherine membuah nafasnya. Iya, memang benar dia yang terbawa emosi sampai lupa bertanya dengan benar, bahkan sudah membentak pula, tapi dia juga lupa menanyakan apa inti dari permasalahan yang sedang dia butuhkan jawabannya.
" Tadi ada dua orang bodoh dan tidak tahu aturan mengatakan bahwa, kau menikah dengan Victor ku, jawab saja itu benar atau tidak! "
Dua orang bodoh? Apakah dua orang itu adalah Ayah dan Ibunya Jelena? Jelena menghela nafas kesal, ternyata orang tuanya benar-benar sudah tidak perduli lagi dengan situasi dan kondisi Jelena yang sulit, dan dengan Katherine mengetahui kebenarannya maka jelas lah hidupnya akan semakin sulit untuk di jalani. Victor pasti akan mengalahkan dirinya lagi, dan Jelena tidak bisa berbuat apapun selain sabar menerima keadaan yang terus memojokkan dan menekannya.
__ADS_1
" Kenapa kau diam lagi? Kau, kau tidak sedang hamil dan anak itu adalah anak Victor kan? Kau lebih baik mengatakan yang sebenarnya sebelum aku mencari tahu sendiri, barulah kau tahu bagai mana akibatnya karena tidak jujur pada ku! "
Jelena tadinya ingin berbohong dengan mengatakan tidak, tapi melihat Popi yang berjalan mendekat, tentu saja Jelena bisa tahu kalau Popi pasti akan membelanya. Jelena tidak ingin Popi dalam masalah, jadi kali ini dia akan tegas kepada Katherine supaya Popi, juga Ibu dapur tidak perlu membantunya dan mendapatkan masalah karena dirinya.
" Iya, memang kenapa? "
Popi langsung berhenti dnegan tatapan terkejut, dia benar-benar tidak percaya kalau Jelena akan seberani itu. Bibi dapur yang hanya bisa menonton dari jauh sembari merasa pilu untuk Jelena kini juga tak bisa berkata-kata setelah minat Jelena menjadi berani.
Katherine ternganga tak percaya, mungkin rasanya hampir seperti tersambar petir di siang bolong, terguling ombak di sungai hang dangkal. Rasanya tidak mungkin, sangat tidak mungkin lalu bagiamana bisa terjadi? Victor yah begitu berselera tinggi dalam memilih teman, juga padangan, bagiamana mungkin bisa menghamili seorang pelayan yang tubuhnya kurus kering, bau asap masakan, setiap hari memegang kain lap yang kotor. Tidak, apakah Victor sedang gila atau sedang tidak sadar? Ah, apakah Jelena menggoda Victor? Tapi bagaimana mungkin perempuan seperti Jelena menggoda Victor, dan mana mungkin Victor akan tergoda?
Kalau sampai hamil sudah jelas mereka bukan hanya atau kali saja melakukanya bukan? Mereka pasti butuh minimal dia atau tiga kali hubungan badan baru kemungkinan hamil itu ada.
Katherine jatuh duduk tepat di atas sofa, matanya nampak kosong mungkin karena begitu terkejut dengan jawaban dari Jelena, dan dia sudah terlalu merendahkan dan terlalu santai karena menganggap Jelena hanyalah seorang pelayan yang pasti lah Victor jijik untuk menyentuhnya.
" Kau pasti bohong kan? Kau hanya seorang pelayan, kau seorang babu, jadi mana mungkin kau mengandung anaknya Victor? Iya, aku yakin bayi itu pasti adalah anak pria lain, dan pasti kau memiliki motif sendiri makanya kau berbohong kan?! "
Jelena mengepalkan tangannya, sungguh dia sendiri juga heran kenapa orang begitu merendahkan dirinya, bahkan sampai Jelena sendiri ikut merendahkan diri sendiri. Awalnya dia pikir dia ingin menghabiskan sisa delapan bulan waktunya di sana dengan baik dan patuh, tidak banyak menuntut karena Jelena juga terikat dengan surat perjanjian. Tapi kalau dia diam saja, dia. katakan Popi yang terus maju untuk membelanya, bukankah itu artinya dia sangat egois?
__ADS_1
" Nona Katherine, aku dan Tuan Victor tidak melakukanya dengan sengaja. Hari itu Tuan Victor pulang dengan ke adaan mabuk berat, aku hanya membukakan pintu saja, tapi Tuan Victor Justru melakukan- "
" Diam! Diam jangan lanjutkan lagi! " Katherine menatap Jelena dengan tatapan marah yang begitu jelas terlihat. Bagaimana mungkin dia bisa sanggup mendengar semua itu? Yang dia tahu Victor hanyalah mencintai dirinya, selama bersama dengannya tidak pernah menyentuh sanita lain secantik apapun wanita itu karena bagi Victor, Katherine sudah begitu sempurna. Hah! Apakah itu hanya perasaan Katherine saja?
Jelena benar-benar tak melanjutkan ucapannya. Sudah kepalang tanggung bukan? Untuk apa juga berbohong toh cepat atau lambat Katherine akan tahu, apa lagi kalau perutnya membesar nanti, mana mungkin dia sanggup untuk mencari alasan lain kenapa perutnya membesar.
" Nona Katherine tidak perlu khawatir, hubungan ku dengan Tuan Victor hanyalah karena bayi ini, tidak lebih. "
Katherine menatap Jelena dan masih menatap dengan tatapan marah.
" Tentu saja begitu, dan aku juga yakin sekali, saat Victor mabuk kau pasti sengaja menggoda dia kan? Victor itu sangat berkelas, sangat menjaga kebersihan, jadi kalau sampai ada kesalahan seperti itu, kau adalah orang yang paling bersalah. "
Jelena tak lagi ingin bicara. Jadi maksudnya adalah, dia kotor dan seharusnya Tuan Victor tidak menyentuhnya sama sekali? Rien tersenyum tipis dengan perasaan getir. Memangnya dia sekotor itu sampai Katherine harus mencela dengan kalimat menyakitkan Seperti itu? Dia sendiri juga mana mungkin mau memiliki hubungan seperti sekarang ini dengan Victor meski memang benar Victor adakah idolanya.
" Gugurkan saja, aku akan membiayai biayanya, juga akan mengenalkan dengan Dokter aborsi terbaik, kau hanya perlu ikut denganku dan semua akan beres dengan aman. " Ucap Katherine.
Bersambung.
__ADS_1