Bertemu Di Tahun 1998

Bertemu Di Tahun 1998
109


__ADS_3

Kecemburuan di mata Diandra terlihat jelas, tangannya mengepal erat di setir mobil.


Belasan menit kemudian, Elin dan Alvaro keluar lagi sudah dengan pakaian santai, Elin tetap berpakaian seperti tadi.


Masuk ke dalam mobil dan kembali jalan keluar. Diandra sudah berencana ingin mengikuti mereka selama dia mengambil cuti.


Diandra mengikuti mobil mereka dengan jarak 100m.


Mobil melaju ke sebuah restoran, turun dari mobil keduanya disambut oleh Mike yang memang terang-terangan tanpa penutup wajah, Mike tersenyum melihat kedatangan Elin dan Alvaro, dia mengangkat putranya itu.


Tanpa mereka sadari, Diandra menatap tanpa berkedip, air mata hampir jatuh.


Diandra tidak menoleh kearah nama restoran itu karena saat itu pikirannya sedang kacau.


Nama diatas bertuliskan Restoran Calista, restoran yang sengaja dibuat dengan namanya, yang menunjukkan kecintaan pemiliknya. Pemilik Restoran ini adalah Mike, restoran ini resmi dibuka seminggu yang lalu, dan masih tahap promosi, saat pelanggan semakin ramai barulah Mike akan memberikan kejutan ini pada istrinya.


Elin melihat sekeliling ruangan dalam, dan langsung mengacungkan jempol, "Tapi kak, kenapa diberi nama Calista?" tanya Elin


"Sebentar lagi kamu bakal tau tapi saat ini belum boleh tau," jawab Mike

__ADS_1


Ketiganya duduk di dekat kaca transparan jadi dari luar terlihat jelas mereka ngobrol dengan harmonis seperti keluarga bahagia.


Jika terlalu lama melihat ini, hati akan semakin sakit jadi Diandra buru-buru pergi dengan linglung.


Dia mengemudi dengan pelan, dia tidak bisa kecelakaan untuk ketiga kalinya, mungkin jika terjadi lagi Tuhan tidak akan memberinya kesempatan seperti dulu.


Diandra berhenti di tepi jalan sepi, dia turun dari mobil lalu berjalan menuju jembatan yang memang sangat jarang orang lewati, dia juga baru pertama kali kesini, ini daerah yang benar-benar sepi.


Entah bagaimana dia bisa sampai disini dia sendiri tidak ingat.


Menatap derasnya air, dalamnya lautan, angin bertiup keras, langit mendung seperti hatinya.


Beberapa kali dia berteriak keras hingga suaranya serak, "Kenapa? kenapa? kenapa?," tanyanya dengan air menetes deras


"Aku tidak bisa kehilangannya, aku juga tidak bisa membaginya," gumamnya


Putus asa menyebabkan pikirannya kosong, kakinya melangkah menaiki pagar jembatan, hujan turun sedikit demi sedikit membuatnya sadar apa yang dia lakukan, dia menatap dirinya sendiri yang saat ini seperti sudah siap akan melompat.


Ketakutan akan kematian terlihat jelas di wajahnya saat dia sudah berpikir jernih, pelan-pelan dia berpegang untuk turun dan akhirnya turun dengan selamat, jantungnya berdebar mengingat tadi saat dia mungkin tidak sadar dan langsung terjun bunuh diri.

__ADS_1


Terisak, dia menghapus air mata dengan lengannya lalu menatap derasnya air, rasa takut sangat besar, dia belum ingin mati.


Hujan tidak deras tapi rintik-rintik, setetes demi setetes mengenainya, dalam hati dia berterima kasih pada hujan karena menyadarkannya saat benar-benar jadi bodoh.


Angin semakin kuat dan dia mulai merasakan dingin, puas berteriak, puas menangis jadi sekarang kembali ke dalam mobil lalu melaju pergi, dia akan pergi ke suatu tempat dulu hingga sore supaya pembantu tidak curiga tentang cutinya.


Jika pembantu tau maka Mike akan tau juga.


Dia ingin menenangkan diri dulu, sehari ini dan akan kembali malam ini, tapi sebelum itu dia mengeluarkan ponselnya, sambil menyetir pelan dia menelpon nomor Mike.


Saat tersambung, dia menghentikan mobil supaya tidak ketahuan sedang berada di mobil, dia mulai menenangkan diri supaya bisa bicara santai dan tidak terlihat aneh, "Kamu dimana?" tanyanya


"Di lokasi," jawab Mike


Jantung Diandra kembali tidak benar, "Jangan lupa makan siang, saat ini aku lagi makan siang juga," katanya


"Bagus, makan yang banyak, nanti malam aku pulang kita bisa makan malam bersama kan?" tanya Mike


"Umm...sampai ketemu nanti malam, ingat jangan lupa makan siang," kata Diandra

__ADS_1


"Ya," Mike dan Diandra sama-sama menyimpan ponsel


__ADS_2