
Malam hari, Diandra duduk menyandar, jarum infusnya sudah dilepas, dia sedang menikmati bubur, Mike menyuapinya, keduanya tidak ada yang berbicara, pikiran mereka bertolak belakang.
Setiap kali Mike akan berbicara, Diandra menghentikannya, ketakutan akan kehilangan Mike sudah mendarah daging. Mungkin inilah yang disebut paranoid atau mungkin gangguan bipolar, setiap kali Mike baru ingin bicara entah bicara tentang apapun, wajah Diandra langsung ketakutan, tangannya bergetar seperti seseorang yang telah mengalami trauma.
Mike tidak berani membuka mulut setelah melihat reaksi berlebihan dari istrinya ini.
"Sudah habis, ingin..." belum selesai Mike bicara, Diandra langsung menutup mata ketakutan.
"Ingin nambah?” tanya Mike melanjutkan
Diandra menggeleng sambil masih terpejam, dia tidak berbicara sepatah katapun.
Hati Mike langsung pedih seperti teriris pisau saat melihat reaksi ini.
Hening selama setengah jam, Diandra mulai berbicara, "Bisakah kita pulang sekarang?" tanyanya pelan
"Baiklah, istirahat di rumah saja," kata Mike
Wajah Diandra hanya menunjukkan kepedihan, bibirnya masih pucat, dia bangkit ingin berganti pakaian di kamar mandi, belum sempat kakinya menyentuh lantai, tubuhnya sudah melayang diangkat oleh Mike.
Tanpa banyak bicara, Mike membawanya ke kamar mandi.
__ADS_1
"Selasai langsung panggil aku," katanya lembut
Diandra hanya mengangguk
Di dalam kamar mandi, Diandra mengganti pakaiannya dan sedikit merapikan rambutnya.
Membuka pintu setelah selesai.
"Pulang," ucapnya
Mike menatap tatapan lemah Diandra, saat ini hanya rumah yang ingin dia tuju.
Saat keluar dari rumah sakit pun tidak lupa Mike memakai masker dan topinya, dia menopang istrinya hingga masuk ke mobil.
Mobil yang saat ini dikendarai juga mobil biasa-biasa saja.
Saat masuk ke dalam mobil Diandra baru ingat jika mobilnya tertinggal di tempat sepi. Itu mobil milik Mike jadi dia sedikit khawatir.
"Mobil yang tadi pakai?" tanyanya
"Sudah di rumah, Dito membawanya pulang," jawab Mike yang saat ini mengencangkan sabuk pengaman Diandra.
__ADS_1
Suara Diandra sangat pelan dan lembut seperti tidak punya tenaga untuk berbicara.
"Setelah sehat total, ada yang ingin aku katakan," ucap Mike yang saat itu juga langsung membuat Diandra terdiam, tangannya terkepal erat hingga keringat membasahi.
Mike tau ketakutannya jadi tangan kirinya langsung menggenggam erat tangan itu, menenangkannya.
Sampai di rumah sudah pukul 12 malam hanya ada satu pembantu yang belum tidur, memang sengaja menunggu majikannya.
Mike membawa Diandra masuk, menopang tubuh lemahnya, flu nya belum terlalu sembuh jadi sesekali bersinnya keluar.
Masuk ke kamar lalu membantu Diandra berbaring, dia membenarkan selimut Diandra dan menyuruhnya istirahat karena sudah larut.
Setelah memastikan Diandra memejamkan mata, dia langsung masuk ke kamar mandi, tubuhnya lengket karena belum mandi dari siang.
Setelah mandi, dia kembali ke kamar, disaat itu ponselnya berdering.
Diandra yang punggungnya menghadap Mike langsung membuka mata mendengar ponsel pribadi Mike berdering, tidak banyak yang tau nomor pribadi Mike, hanya orang terdekat saja. Dia penasaran siapa yang menelpon
"Dia sudah tidur, besok aku akan menjelaskan semuanya padanya mungkin dia akan mengerti, sekarang kamu tidak perlu khawatir, istirahatlah, mimpi indah," ucap Mike lembut yang semakin membuat Diandra sedih, seketika air matanya langsung jatuh, dia tau siapa orang yang menelpon Mike, itu sudah pasti wanita itu.
Mungkin yang akan Mike jelaskan besok adalah tentang hubungan mereka, mungkin mereka ingin bersatu lagi demi anak mereka.
__ADS_1