Bertemu Di Tahun 1998

Bertemu Di Tahun 1998
129


__ADS_3

Dia berjalan mendekat dengan pelan, dan saat pintu mobil dibuka wajahnya langsung berubah kecewa.


Dito tau kekecewaan buk bos nya, "Bos menunggu di apartemen lama, ada hal penting yang ingin dia bicarakan," ucapnya


Diandra mulai parnoan, takut akan apa yang ingin dibicarakan.


Ketakutannya akan perpisahan sudah mendarah daging.


Dito membukakan pintu lalu mempersilakannya masuk.


Dengan ragu-ragu Ia pun masuk lalu duduk dengan tubuh bergetar.


Dito menatap dari kaca, dia juga ikut khawatir, bos nya terlihat marah besar saat keluar rumah beberapa hari yang lalu.


Sesampainya di apartemen, Diandra berjalan sendirian dengan langkah pelah, wajahnya terlihat khawatir, saat ini sebenarnya dia cukup lelah setelah bekerja tapi lelahnya hilang berubah kekhawatiran.

__ADS_1


Dadanya mulai sesak, nafasnya berat, jantungnya berdebar tidak karuan.


Dia membuka pintu apartemen, yang terlihat hanya kegelapan, dari bau tercium bau mawar yang kuat.


Langkahnya masih pelan lalu menutup pintu dengan bunyi klik dan sebelum dia berjalan menuju saklar lampu, lampu langsung hidup, dan di depannya tersebar bunga mawar dan krisan seperti halnya waktu itu saat dia menghabiskan waktu di pantai.


Berbedanya saat ini hiasannya lebih indah, buket bunga krisan juga disusun rapi di atas meja, untuk zaman ini hal ini sebenarnya sangat norak tapi baginya ini sangat istimewa, matanya mulai berkaca-kaca, jantungnya yang berdebar keras semakin keras. Dilantai juga tersebar kelopak mawar dan krisan. Entah berapa banyak krisan dan mawar yang dihabiskan untuk ini.


Diandra melihat boneka besar yang lebih besar dari dirinya di sofa.


Dulu pas mereka menikah juga ada kelopak bunga seperti ini tapi hari ini terasa sangat istimewa walau ide ini sudah terjadi berulang kali.


Diandra mendekat dan ingin meraihnya tapi tertahan karena saat ini tiba-tiba dia dipeluk dari belakang, tubuhnya tidak bergerak, jantungnya semakin berdetak cepat, sejak dia jatuh cinta pada Mike, jantungnya selalu seperti ini, semakin hari semakin parah, dan saat semakin parah rasa cintanya juga semakin besar dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Aku tidak pernah melamarmu dengan wajar, jadi izinkan aku melakukannya untuk saat ini, melamarmu dengan resmi," ucap Mike

__ADS_1


Diandra mengangguk haru, Mike melepaskan pelukannya lalu mengambil cincin itu.


"Karena kita sudah menikah jadi ucapannya aku ganti. Dian kamu mau gak bersamaku, menua bersama sambil menyaksikan anak, cucu dan cicit kita?" kata Mike


Diandra tidak bisa berkata-kata karena air matanya mulai menetes, dia mengangguk senang beberapa kali.


Mike tersenyum lalu memakaikan cincin di jari manis Diandra, dan meminta Diandra memakaikan cincin di jarinya.


Cincin itu adalah cincin resmi mereka dan akan dipakai seumur hidup mereka jadi cincin lain yang biasa dipakai akan dilepas atau dipakai di jari lainnya.


Mike tersenyum memeluk Diandra dan langsung mencium kening turun ke hidung dan pipi dan seperti biasa berakhir di bibir indahnya.


Diandra mendorongnya, "Aku belum mandi, tadi habis makan malam belum gosok gigi,"


Mike tersenyum, dia tidak peduli jadi kembali menariknya dan mengecup sedikit.

__ADS_1


"Oke, mandi dulu," ucapnya langsung melepaskan Diandra


__ADS_2