Bertemu Di Tahun 1998

Bertemu Di Tahun 1998
113


__ADS_3

Mike merasa Diandra semakin hari semakin tidak ceria.


Keduanya memejamkan mata setelah sedikit berpikir.


Mereka terbangun 3 jam kemudian, Diandra bangkit dengan kepala masih sedikit pusing, dia kembali berbaring.


"Apa masih tidak enak?" tanya Mike khawatir


Diandra menggeleng, Mike ingin memastikan jadi memegang dahinya dan tidak panas sedikitpun.


"Berbaringlah sebentar lagi," ucapnya


Diandra mengangguk malas untuk berbicara.


Mike bangkit dan langsung masuk ke kamar mandi.


Malam hari seperti biasa mereka makan malam bersama, Mike harus kembali ke lokasi syuting lagi jadi setelah makan malam dia pamit pergi sambil mencium dahi Diandra seperti biasa.


Flu Diandra belum sembuh, sesekali dia akan bersin hingga keluar air mata dan air hidung.

__ADS_1


*


Keesokan harinya


Diandra bangun, pusingnya sedikit lebih parah padahal tidak pernah lupa minum obat.


Tapi hari ini dia harus kuat, dia harus pergi menyelesaikan urusannya sebelum cutinya berakhir.


Diandra mandi air panas, selesai berdandan dia langsung sarapan, karena terburu-buru jadi dia lupa untuk meminum obatnya.


Dia pergi melaju tanpa menoleh kearah rumah Alvaro karena tau saat ini Alvaro pasti sudah berangkat ke sekolah.


Elin tidak melihat ada yang aneh dengan mobil yang terparkir di seberang jalan jadi dia langsung melaju melewatinya, Diandra mengejar mobilnya, setelah 10menit Diandra berhasil mendahuluinya dan kebetulan di tempat sepi jadi tidak akan mengganggu pengendara lain, dia memotong jalan Elin hingga Elin harus rem mendadak.


"Huh..." Elin memegang dada karena shock


Diandra turun dari mobil dan langsung berjalan menuju pintu mobil pengemudi milik Elin, mengetuk pintu hingga Elin membuka kacanya.


Diandra melihat dari dekat wajah Elin, wajah yang sangat dewasa dan cantik, jari lembut dan putih seperti porselin masih menekan dada karena sempat shock. Wanita ini jika dipadukan dengan Mike sangatlah serasi batinnya.

__ADS_1


"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Diandra tanpa meminta maaf telah hampir menyebabkan kecelakaan.


Elin menatap kearah wajah wanita yang terlihat rapuh, matanya menampilkan kesedihan, tangannya sedikit bergetar, bibirnya pucat seperti kertas.


Elin agak kurang mengerti, dia tidak mengenal orang ini tapi kenapa orang ini ingin berbicara dengannya, apa dia ini penipu, Elin melihat kesekeliling dan benar tempat ini sepi akan banyak kesempatan kejahatan disini.


Diandra sadar mungkin Elin ketakutan jadi dia langsung memberikan tanda pengenal.


Elin melihatnya dan saat melihat pekerjaannya adalah seorang Dokter jadi dia langsung mengangguk.


"Kita bicara disana," Elin menunjukkan bangku di taman yang tidak terurus.


Diandra menoleh ke tempat itu lalu mengangguk dan berjalan lebih dulu, Elin membuka pintu mobil, merapikan rambut dan pakaiannya lalu berjalan menyusul.


Bangku di bawah pohon sedikit reyot jadi tidak ada yang duduk, mereka berdua berdiri.


Diandra yang sedikit ragu untuk bicara langsung menyodorkan buku nikahnya, Elin bingung karena mereka tidak saling kenal tapi kenapa orang di depannya memberinya buku nikah.


Elin ragu-ragu ingin menjangkaunya tapi melihat kesungguhan Diandra dia langsung mengambilnya dan membukanya pelan, nama di buku nikah itu membuatnya menganga tidak percaya hingga menutup mulutnya takut berteriak heboh lalu menatap kearah Diandra.

__ADS_1


__ADS_2